Umum

THE RISING STAR ITU ADALAH KITA, INDONESIA

THE RISING STAR ITU ADALAH KITA, INDONESIA

Leonita Lestari

22 Nov 2021
 

Seringkali kita sudah cukup merasa puas dengan telah bisa menjadi penikmat. Dengan nilai hanya sekitar 500 ribu hingga 1 juta rupiah kita sudah bisa membeli ponsel dan kita sudah mampu menjelajah dunia maya. 


Bagi yang mengutamakan kecepatan dan kapasitas mumpuni karena satu dan lain tuntutan kebutuhan, mungkin ponsel dengan harga antara 5 hingga 10 juta rupiah akan menjadi pilihan.


Bagi mereka yang senang dengan citra diri, itu berbeda. Ada pilihan luar biasa luas dengan rentang harga hingga puluhan juta tersedia di sana.  Bukan melulu soal kinerja ponsel tersebut apalagi harga menjadi pokok, seringkali merek justru adalah cermin tentang status siapa si pemakai. 


Bahwa 3 kelompok itu terlihat berbeda, pada faktanya mereka berada dalam satu gerbong bernama konsumen. Mereka menjadi pembeli atas sebuah produk atas nama sebuah keharusan pada era digital saat ini.


Siapakah penerima untung paling besar atas arus besar ini, jelas adalah produsen. Segment hanya soal branding dan kita terjebak pada posisi itu. Mereka sebagai pemilik teknologi adalah mereka yang menciptakan gelombang dan kita dipaksa ikut dalam arus tersebut.


Menjadi masalah, adalah ketika kita telah sangat tergantung pada keadaan itu dan pada suatu saat, ketika satu dan lain hal terjadi, dan mereka menghentikan supply atas kebutuhan kita, adakah itu bukan sebuah ancaman?


Sama dengan ketergantungan negara kita pada teknologi militer pernah membuat kita tak berdaya, kita dipermainkan. Tak ada posisi benar pada pihak lemah manakala embargo diberlakukan oleh sang raksasa.


Hal itu pernah terjadi pada 1995 sampai 2005 saat Indonesia di embargo militer oleh Amerika Serikat. AS menyetop penjualan senjata, termasuk tak mau memberikan suku cadang yang diperlukan Indonesia untuk meremajakan pesawat-pesawat TNI yang dibeli dari mereka.

 

Embargo ketika itu dijatuhkan lantaran Negeri Paman Sam menuduh Indonesia melanggar hak asasi manusia dengan menembaki demonstran di Dili pada 12 November 1991.

 

Sepuluh tahun embargo AS, membuat kekuatan tempur udara Republik Indonesia mengalami kemerosotan tajam. Banyak pesawat tempur TNI Angkatan Udara harus di-grounded hanya karena tak memiliki suku cadang.

 

Hal itu menimpa lebih dari setengah lusin F-16 Fighting Falcon, sejumlah armada F-5 Tiger, sampai pesawat angkut militer C-130 Hercules yang seluruhnya buatan AS.


Lebih parah lagi, beberapa pesawat Hawk 109/209 buatan Inggris yang merupakan sekutu AS yang dimiliki TNI juga ikut terkena embargo.

 

Embargo membuat banyak pesawat militer RI tak bisa diterbangkan sekalipun kondisinya baik, bahkan tergolong baru. 


Alhasil bukankah sia-sia saja memiliki armada tempur jika banyak yang tak bisa digunakan untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia?

 

Apa yang dapat kita lakukan hanyalah mencari dari sumber lain. Meski itu berbeda arah, dalam keterpaksaan kita harus mengambil pilihan sulit itu.

 

Tahun 2003, tahun kedelapan masa embargo AS, pemerintah akhirnya membeli pesawat Sukhoi dari Rusia, negara pada kubu berseberangan dengan AS. Satu skuadron lengkap Sukhoi kemudian kita miliki.

 

"Loh ponsel koq disamakan dengan pesawat tempur? Bukankah sudah ada banyak merk buatan kita sendiri dan kita sebenarnya sudah bisa tak lagi bergantung pada asing?"


Pada ponsel anda yang berharga 500 ribu rupiah itu terkandung banyak patent. Ada ratusan hak intelektual milik asing tersemat di sana yang bukan buatan kita. Bukan mustahil bahwa pada ratusan patent dalam ponsel itu, tak satupun milik kita. Kita hanya merakit misalnya.

Bila ya, ketika embargo terjadi, kitapun tak lagi bisa membuat ponsel tersebut meski kita punya pabrik dan banyak tenaga perakit. Posisi kita sangat rentan. Itu sama dengan anda punya uang tapi tak ada toko yang diijinkan untuk menerima uang anda.


"Kenapa sudah lebih dari 70 tahun merdeka kita masih terjebak pada kondisi seperti itu?"


Tak ada guna kita menyesal dan menengok kembali pada masa lalu. Repelita yang dulu dicanangkan oleh Soeharto dan konon tinggal landas menjadi negara industri pada akhir jabatannya tak pernah terwujud. Kita terlihat terlalu sering senang dengan saling pukul pada sesama anak bangsa.


Reformasi telah berjalan lebih dari 20 tahun dan anehnya kita juga masih terlihat tak bergerak pada arah benar. Tangan kanan kita masih sering terlihat saling berjabat namun tangan yang lain menyembunyikan senjata demi menikam ketika muncul sebuah kesempatan. Orientasi kita sering hanya demi kekuasaan semata.


"Adakah perubahan telah tampak pada rezim kita hari ini?"


Patent adalah hak intelektual yang diakui. Dia lahir dari sebuah penelitian dan harus didaftarkan. Hari ini, China adalah negara dengan pendaftaran hak paten paling massif bahkan telah mengalahkan AS negeri lahirnya banyak penemu paten sepanjang masa.


Bila penelitian adalah sumber lahirnya sebuah penemuan dan kemudian patent adalah tentang pengakuan atas hasil kebaruan dari penemuan itu sendiri, pemerintahan Jokowi terlihat concern pada masalah ini. 


Badan Riset Nasional yang baru-baru ini dibentuk adalah tentang arah negara di bawah Jokowi ingin mengejar banyak ketertinggalannya. Tak ada kata terlambat meski jauh jarak kita tertinggal dari banyak bangsa lain dalam budaya riset itu sendiri. Kita tak boleh merasa capek mengejar apalagi berhenti. Paling tidak itulah asa dapat kita ungkapkan demi motivasi.


"Trus apa yang harus kita riset bila kita sudah tertinggal jauh?"


Dalam kompetisi kemajuan inovasi dan teknologi global, paling tidak ada 5 sektor teknologi strategis yang harus dibangun oleh suatu negara. 


Kalaupun kita tidak bisa unggul di 5 sektor tersebut, setidaknya kita harus eksis pada salah satunya. 

Kelima sektor teknologi tersebut adalah; Teknologi Semikonduktor, Teknologi Penyimpanan Energi, Teknologi Kuantum, Bioteknologi dan Nanoteknologi.


Demikian apa yang ditulis oleh Budiman Sudjatmiko pada harian Kompas belum lama ini.


Pada teknologi penyimpanan energi, kebijakan nikel dengan teknologi baterainya kita dengar telah menjadi satu pilihan strategis. 


Ratusan triliun rupiah sudah investor asing berebut mendanai proyek nikel dan hingga teknologi baterai mobil listrik. Negeri kita tiba-tiba dikenal oleh banyak bangsa lain di dunia sebagai salah satu calon raksasa dunia dalam bidang penyimpanan energi.


Pada banyak ketertinggalan kita, teknologi kuantum dan bioteknologi bukan mustahil adalah bidikan lain selain teknologi  penyimpanan energi dan untuk itu kenapa BRIN harus sesegera mungkin dihadirkan.


Pada pilihan teknologi penyimpanan energi kita pilih karena bangsa ini adalah salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, dan pada bioteknologi, keunggulan kita dalam keanekaragaman flora dan fauna terbesar di dunia adalah satu dalam setara atas berlimpahnya nikel pada bumi kita. Adakah itu tak memiliki relevansi?


Sama dengan nikel yang kita miliki, keunggulan ini tidak akan pernah mampu disamai oleh negara lain, karena kombinasi geografis darat dan laut Indonesia yang sangat unik. 


Jika setiap jenis pohon dan serangga adalah data bagi riset bioteknologi, dimana ketika dilakukan intervensi ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan item riset inovasi dan manfaat bagi manusia, maka Indonesia memiliki peluang memberikan milyaran manfaat lebih banyak daripada negara lain.


Kompetisi global di bidang bioteknologi ini pada faktanya juga sedang berlangsung dengan ketat, terlebih dipicu oleh masalah kesehatan global akibat Pandemi Covid-19.

Bukankah keunggulan ini adalah juga alasan paling memungkinkan bagi hadirnya investasi sama dengan investor pernah hadir demi baterai akibat kebijakan nikel kita?


Bahwa untuk bidang tersebut teknologi komputer kuantum amat sangat dibutuhkan, itulah makna kenapa Budiman menyebut bahwa pada teknologi ini negara harus hadir. Pada BRIN, ini layak menjadi salah satu objek penelitiannya.


Ponsel anda adalah contoh bagaimana teknologi komputer bekerja. Menjadikan ponsel anda dapat bekerja dengan kinerja ribuan bahkan jutaan kali lipat dalam kecepatan, kini telah dibuat mungkin dengan hadirnya teknologi kuantum.


Dan ingat, selain bidang kesehatan, banyak bidang akan terdampak secara langsung seperti bidang komunikasi, pertahanan, energi, pertanian, keuangan, iklim dan kebencanaan, bahkan pola interaksi antar manusia. 


Atas dihadirkannya BRIN pada pemerintahan Jokowi kita layak percaya diri bahwa bangsa ini kelak akan sejajar dengan banyak bangsa yang telah jauh lebih maju.


Pilihan teknologi komputer kuantum sebagai bentuk kemendesakan yang harus segera dipilih menjadi salah satu obyek pekerjaannya, bukan mustahil bahwa pada 3 hingga 5 tahun kedepan akan sudah ada paten atas nama anak bangsa. Ada melekat hak intelektual atas nama Indonesia pada salah satu atau banyak komponen dalam ponsel kita. Kenapa tidak?


Pilihan presiden Jokowi pada bu Mega layak kita apresiasi. Sebagai Ex-Officio ketua dewan pengarah BPIP sekaligus menjadi Ketua Dewan Pengarah BRIN mengarahkan penelitian pada wilayah yang sesuai dengan jati diri bangsa kita.


Pun pada sosok politisi PDIP Budiman Sudjatmiko, dia tak pernah capek berbicara makna pentingnya teknologi bagi bangsa ini. Dia tak pernah merasa pusing dengan anggapan bahwa dirinya aneh saat terlalu sering berbicara teknologi kuantum misalnya. 

Itu dia sebut terus menerus dengan maksud agar bangsa kita terbiasa dengan istilah itu. Dia juga sering terlihat berusaha menekankan pentingnya dialog terus menerus antara sains, sastra, seni dan agama dimana tak harus ada hirarki diantara mereka.

Itu sebuah keharusan meskipun terdengar terlalu rumit dan maka harus terus diulang - ulang.

Pada tangan kanannya, dia sibuk bekerja tanpa tangan kirinya terlihat menyembunyikan senjata. Dia salah satu politisi yang tak terlihat sibuk berebut posisi pada sebuah jabatan tertentu


(NitNot-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads