Umum

SERANGAN FAJAR ALA JOKOWI BAGIAN 1

SERANGAN FAJAR ALA JOKOWI BAGIAN 1

Leonita Lestari

16 May 2022
 

Mereka yang kemarin dibesarkan oleh negara itu ngelunjak. Berasa besar dan kuat, mereka ingin mendikte negara. 

Bukan hanya dijewer, kini mereka digebuk. Begitulah kira-kira apa yang Presiden lakukan atas pelarangan ekspor CPO dan semua turunannya beberapa saat yang lalu.

Tadinya, karena ributnya pak Presiden itu selalu terkait dengan harga minyak goreng untuk rakyat yang terlalu mahal, mereka pikir hanya bahan baku minyak goreng itu saja yang akan dilarang untuk diekspor.

Mereka terlihat santai. Sambil tetap yakin bahwa negara tak mungkin berlaku nekad.. mereka masih tertawa.

Nalar berpikir mereka masuk akal. Negara sedang sangat diuntungkan dengan devisa sangat besar, atas pasar CPO yang kini menjadi primadona. Negara tak mungkin melakukan hal ngawur.

Ternyata mereka SALAH. Ternyata pak Presiden tak berbuat seperti dalam prediksi mereka. Presiden NEKAD.

Ternyata bukan hanya RBD palm oil sebagai bahan dasar minyak goreng yang dilarang, pemerintah justru memperluas larangan ekspor yang mencakup minyak sawit mentah (CPO), Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBD Palm Oil), dan Refined, Bleached and Deodorized Palm Olein (RBD Palm Olein) dan Used Cooking Oil.

Semua turunan dari produk CPO dilarang untuk diekspor.

Mereka kaget. Mereka terperanjat. Sambil kucek-kucek mata berharap ini semua hanya mimpi, mereka mendapati dirinya tak berdaya. Presiden membuat pengumuman itu tepat menjelang libur panjang secara berjamaah.

apa Maksudnya?

Para pemain sawit adalah kakap negeri ini tanpa lawan. Mereka adalah para oligarki yang paling terlihat. Ada banyak pemilik bintang di pundak memiliki usaha ini. Lebih banyak lagi adalah para taipan orang-orang super kaya yang kita kenal dengan nama konglomerat.

Siapakah tak tahu bahwa hidup mati partai politik dalam banyak hal terkait erat dengan mereka?

Jangankan meminta mereka rapat untuk membicarakan masalah ini, mencari tahu posisi para anggota dewan itu hari ini di mana saja sudah rumit. Mereka sudah ga mungkin dapat diganggu. SUDAH PADA MUDIK!!!

Pun mencari massa bayaran untuk demo, itu juga sama sulitnya. Liburan panjang ini tak membuat pemilik uang itu lebih berkuasa. Uang mereka tak lebih mahal dibanding mudik.

Ini adalah perang. Negara ingin meminta balik kewenangannya. Bukankah beberapa bulan yang lalu mereka begitu kuat dan seolah berhasil mempecundangi kekuasaan negara?

Negara yang minta agar harga minyak goreng bagi rakyatnya jangan mahal, tak mereka gubris. Mereka menghina kapasitas negara,.. dan untuk sesaat memang menang. Beberapa kali negara harus revisi aturan yang dibuatnya.

Namun,, tidak dengan saat ini. Oleh presiden mereka dibuat tak berdaya pada pilihan waktu yang tak masuk akal. Mereka tak dapat berbuat apa-apa selain menunggu liburan panjang ini berakhir.

Dan.. mau tak mau, harga minyak goreng pasti akan turun sampai pada harga gak lagi membuat rakyatnya berteriak saat lebaran ini.

Negara lebih memilih berdiri bersama rakyat banyak meski rugi dalam devisa, tak pernah mereka bayangkan akan diambil sebagai opsi. Mereka selalu berpikir bahwa rezim ini rakus duit dan maka mustahil memilih opsi tersebut.

"Bukankah targetnya adalah minyak goreng murah bagi warganya, tapi kenapa semua turunan CPO juga dilarang?"

Mewujudkan cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara industri terbesar di dunia, salah satunya butuh investasi langsung dalam rupa pabrik. Di sana iklim industri dengan rakyatnya terlibat secara langsung pada arus itu akan memberikan manfaat dalam banyak hal.

Bukan hanya menjadi petani sebagai pemasok bahan baku, bukan pula pabrik pengolahan sederhana dengan kapasitas satu dua layer di atasnya yang masih dalam tataran bahan baku semata, produk jadi adalah target ingin dikejar.

Artinya, jangan cuma minyak sawit sebagai bahan baku saja kita ekspor tapi produk akhirnya. Itulah kira-kira salah satu target lain ingin dikejar dalam satu PUKULAN ini.

Seperti makna satu dayungan dua tiga pulau terlampaui, menyetop keran ekspor dengan maksud agar harga minyak goreng untuk rakyatnya terjangkau, relokasi banyak pabrik ke Indonesia adalah target lain ingin didapat.

Atas fakta bahwa CPO dari Indonesia berhenti ekspor, ada tiba-tiba jumlah ratusan bahkan ribuan industri di luar negeri terdampak langsung.

Mereka yang tak bergerak cepat untuk mendapat suplai pengganti dari negara lain, tak ada pilihan selain TUTUP atau relokasi mendekat pada di mana bahan baku itu berlimpah.

Sialnya, itu bukan hal mudah. Akan terjadi saling GEBUKK demi rebutan luar biasa seru di pasar global atas produk sawit dari Indonesia yang tiba-tiba hilang di pasar. Itu menjadi sangat masuk akal, ketika hadir fakta bahwa Indonesia adalah penyedia hampir 60 persen CPO dunia.

Diantara ribuan pabrik di luar negeri itu, ada ratusan yang diantaranya adalah milik warga Indonesia.

Ga percaya?? Tanya saja pada Wimar, Salim grup hingga Sinar Mas dehh.. Trus cari tahu berapa banyak mereka punya pabrik downstream sawit di luar negeri.

Akibat kebijakan ini, ratusan pabrik mereka di luar negeri itu terancam tutup. Dan gondoknya, mereka justru ga bisa kirim CPO meski punya dalam jumlah berlimpah di dalam negeri.

Mereka adalah para raja dalam kasta tertinggi dalam perkebunan sawit. Kini mereka ga bisa kirim CPO dan turunannya meski punya kebun sangat-sangat luas.

Relokasi adalah jawabannya. Itu terkait dengan teori mendekati bahan baku. Itu mengingatkan kebijakan nikel yang gak lagi boleh diekspor dalam kondisi ore pernah negeri ini lakukan.

Membuat negara berdaulat, itulah kira-kira drama ini harus diberi judul. Dan drama memang tak seru tanpa keributan. Mereka yang merasa dirugikan tak mungkin akan menyerah begitu saja.

Dan maka perlawanan mereka gaungkan. Seperti biasa, mereka tak terlihat tampil namun duitnya.

Baru saja Jokowi kasih sinyal akan adanya larangan ekspor beberapa waktu yang lalu, mereka telah langsung menurunkan harga beli dari petani. Konon bahkan ada yang hingga tinggal 1.000 rupiah saja perkilo.

Artinya, belum para cukong itu sempat dirugikan akibat larangan itu namun mereka justru sudah ambil untung. Dan kurang ajarnya, mereka ambil dari rakyat kecil.

Faktanya, petanilah yang harus sudah inden kerugian bahkan sebelum larangan ekspor diberlakukan oleh negara.Pada titik ini negara seharusnya hadir.Buat regulasi yang berpihak pada petani DAN AWASI !!!

Itu seperti mencoba membela rakyat miskin di satu sisi namun dengan korban rakyat miskin lagi di sisi yang lain. Bila ini adalah ekses, seharusnya sudah diantisipasi sejak awal. Para garong dalam rupa cukong sejak awal seharusnya sudah didata.

Ya para cukong itu memang telah terlihat langsung memberi perlawanan bahkan sejak larangan ekspor baru diwacanakan dengan cara membuat kerugian pada banyak petani kecil.

Apa yang terjadi? Mereka justru langsung mendapat 2 keuntungan sekaligus dalam satu tepukan, harga MURAH dan MARAH para petani.

Kelak ketika saatnya tiba, petani yang mereka rugikan ini pasti akan dijadikan objek jualan oleh cukong yang sama, tapi meminjam mulut para demonstran di Jakarta.

Sebagai data, saat ini setidaknya sudah ada empat perusahaan perkebunan kelapa sawit di Mamuju Tengah, yang terbukti melakukan penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani secara sepihak. Ini HARUS DITINDAK.

Pun pada jenis perlawanan yang lain dan mulai muncul, sebanyak 18 kapal terdiri dari tujuh kapal bermuatan 63 juta metrik ton CPO dan 11 kapal bermuatan 51.000 metrik ton batubara dikabarkan telah diamankan oleh jajaran TNI AL.

Dari segala sudut mereka akan tetap melawan. Jaring-jaring kekuasaan mereka memang terlihat berhenti karena libur panjang ini namun tidak pada saatnya nanti.

"Apakah pak Jokowi akan menang melawan OLIGARKI TAMAK ini, padahal di sisi lain kita semua tahu bahwa jaring-jaring mereka telah melibat dan melilit semua unsur kekuasaan hingga aparat?"

Tak hanya dari dalam negeri, dari luar negeri pun perlawanan besar akan PASTI datang….Saat ini mereka hanya sedang mendata sambil menunggu SAAT yang tepat!

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/zbR8ON3V8N0


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads