Umum

Penistaan Agama, Lagi

Penistaan Agama, Lagi

Ni Komang Yuni Lestari

29 Aug 2021
 

Penistaan agama. Lagi, dan lagi. Topik memuakkan yang selalu saja diributkan orang-orang. Apakah kita tak punya hal yang lebih bodoh lagi untuk diperdebatkan? Satu sisi, olok-olok atau pelecehan atas suatu agama memang dapat melukai hati para penganutnya. Jika ada yang melakukan hal tersebut, kelompok bersangkutan yang merasa agamanya dinista, berhak mengajukkannya ke pihak berwenang karena negara punya payung hukum untuk itu. Tapi di sisi lain, rasanya agak menggelikan untuk berdebat tentang hal itu. Ribut soal mana agama yang paling benar saja sudah Nampak begitu dungu.

Agama adalah satu keyakinan yang berada jauh didasar jiwa seseorang. Sudah berada dalam ranah personal sehingga seharusnya tak dapat menjadi urusan yang bisa dicampuri oleh orang lain. Berkomentar menyoal sebuah agama, apalagi dengan narasi yang mengolok, mencibir, menista, dan mempublikasikannya di media masa, jelas satu tindakkan cari-cari perkara.

Hal tersebut dapat mengungkap kemarahan publik, menabur bibit kebencian, dan menjadi menjengkelkan apabila pihak berwajib malah tidak menindak tegas. Modal materai sepuluh ribu, kemudian permintaan maaf, lantas habis perkara. Ada pula yang tidak diperkarakan sama sekali. Para oknum tersebut masih bebas bercuap-cuap dan menista agama lain seenak jidat mereka sendiri. Padahal kita pernah melihat kebrutalan macam apa yang pernah terjadi karena kasus penistaan agama.

2017 silam, kasus penistaan agama oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang menyulut kemarahan umat Muslim hingga menimbulkan demo berjilid-jilid. Orang-orang yang mempunyai kepentingan politik dengan gegap gempita bersorak dan beramai-ramai menunggangi kasus tersebut untuk tampil ke atas pentas politik identitas, mengobral ayat dan mayat, dan mengusung seorang pemenang diatas kebinekaan bangsa yang terkoyak.

Ahok ditetapkan menjadi tersangka dan harus menjalani hukuman 2 tahun penjara. Reaksi umat Islam dalam kasus tersebut bisa sangat begitu brutal, beramai-ramai mengumpulkan masa dan menekan pengadilan untuk memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada Ahok.

Anak buah Ahok diperiksa Bareskrim soal dugaan penistaan agama

Padahal masalah itu bisa saja diselesaikan dengan musyawarah, tidak dengan demo berjilid-jilid seperti tak punya etika dan rasa kemanusiaan. Ahok mungkin bersalah, namun apakah dia harus diadili dengan cara semacam itu? Bukankah ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah tersebut, yang sesuai dengan apa yang diajarkan dalam agama mereka yang luhur? Mengapa harus menunjukkan kebringasan seperti itu?

Orang-orang yang dapat melihat kasus itu secara objektif dan bisa menggunakan akal sehat, hanya akan menggeleng-geleng tak habis pikir. Memang, kasus penistaan agama bukan hal sepele, namun itu juga bukan hal yang patut dan penting untuk di ributkan. Seperti bunyi semboyan yang jenaka, bahwasanya “penistaan agama, adalah sebuah kejahatan tanpa korban.” Tuhan tak pernah tersinggung.

Tetapi, Indonesia adalah sebuah negara yang didalamnya terdapat banyak suku serta ragam agama, dan penistaan atas apa yang diyakini oleh suatu kelompok masyarakat memang bisa sangat menyakiti mereka. Bukan hanya dapat menyakiti, namun hal tersebut dapat menjadi nyala api yang betapapun kecilnya, nyala api tetap saja nyala api, yang sewaktu-waktu hanya butuh sedikit gesekkan untuk membuatnya membesar dan membakar kita.

Dari kasus yang menjerat Ahok, orang-orang dapat menjadikannya acuan apabila terjadi kasus penistaan agama. Sayangnya, tidak semua kasus penistaan agama berakhir dengan apa yang diinginkan orang-orang, yang kemudian memunculkan tanggapan bahwa kasus penistaan agama hanya tajam pada minoritas saja. Siapapun orangnya, asal dia minoritas, jika dia menista agama yang dianut mayoritas, maka dia harus diperkarakan dan masuk penjara.

April 2021 lalu, Desak Made Dharmawati yang adalah seorang dosen di salah sebuah perguruan tinggi suasta di Jakarta, membawa narasi yang luarbiasa bodoh dalam ceramahnya. Dia adalah seorang mualaf, dan dengan jumawa ia memaparkan kebenaran keyakinan baru yang dianutnya, sampai-sampai ia perlu meyakinkan para pendengarnya yang juga sama bodoh seperti dirinya, dengan menjelek-jelekkan agama Hindu yang dia anut sebelumnya. Tak hanya mengatakan bahwa Bali adalah setan terbesar, banyak narasi yang ia bawa yang jelas-jelas menista keyakinan masyarakat Bali dan umat Hindu.

Video ceramahnya yang beredar di media sosial telah menunjukkan betapa dangkalnya pikiran seorang mualaf yang seharusnya lebih banyak belajar daripada mengajar seperti dirinya. Bagaimana kabar kasus itu sekarang? Masih belum ada kejelasan. Dia hanya perlu mengeluarkan permintaan maaf, dan meminta agar masalahnya diselesaikan secara kekeluargaan. Dia tidak dipenjara dua tahun seperti Ahok. Cukup hanya tanda tangan diatas matrai sepuluh ribu saja.

Siapa lagi? Habib Rizieq. Dia pernah mengatakan “Jika Yesus adalah anak Tuhan, Bidannya siapa?” Bukankah kalimat itu jelas-jelas menghina agama Kristen? Ada banyak pernyataannya lagi yang terlampau serampangan, tapi dia tak pernah di proses untuk itu. Ustadz Abdul Somat, dengan entengnya dia berseloroh bahwa “Di Salib ada Jin Kafir.”

Berita Terkini Modyar Berhasil Ditangkap Terbukti Bersalah Yahya Waloni  Langsung Lagu MP3 - MP3 Dragon

Yahya Waloni, seorang mualaf yang tahu-tahu saja sudah menjadi Ustadz dan video ceramahnya unjuk-unjuk tersebar di media sosial. Ia mengatakan bahwa Alkitab hanyalah dongeng dan Bible Kristen itu palsu. Isi ceramahnya seterusnya hanyalah tentang kebencian, penghinaan, dan narasi menjelek-jelekkan agama Kristen yang dia anut sebelumnya.

Sebagai seorang mualaf yang seharusnya belajar lebih banyak, Yahya Waloni tampil menjadi pengajar yang Nampak tidak punya wawasan yang banyak, sehingga satu-satunya hal yang dapat ia jual adalah menjelek-jelekkan agama yang dia anut sebelumnya. Kemudian, munculah Muhammad Kece.

Setelah videonya yang dinilai menista agama Islam tersebar di YouTube, tanpa tedeng aling-aling dia langsung ditangkap polisi. Warganetlantas menyerukan agar Yahya Waloni juga harus ditangkap karena dia selalu membawa narasi yang jelas-jelas menista agama Kristen.

Pada 26 Agustus kemarin, Yahya akhirnya ditangkap oleh Bareskrim Polri dan sekarang berstatus sebagai tersangka. Dia sudah dilaporkan pada 27 April lalu oleh kelompok masyarakat yang menamai diri mereka Komunitas Masyarakat Cinta Pluralis. Dibulan Mei, Yahya Waloni sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Muhammad Kece, Tersangka Penista Agama Pernah Galang Pengikut Ajaran Sesat di Pangandaran

Namun dia baru dibekuk polisi pada 26 Agustus kemarin, setelah Muhammad Kece ditangkap dan warganet berramai-ramai menyerukan bahwa Yahya Waloni juga harus ditangkap. Dia terjerat pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45 a ayat 2 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang ujaran kebencian dan sara. Dia juga disangka melanggar pasal 156 a KUHP tentang penistaan agama. Serupa dengan Muhammad Kece.

Kita harus mengapresiasi kerja kepolisian yang cepat tanggap membekuk begundal-begundal profokator itu. Dengan sigap mereka menertibkan orang-orang yang mencoba menyulut api keributan dan profokasi di negara ini.

Tetapi, diluar sana masih ada orang-orang yang senang berkoar sembarangan dan tidak ditindak tegas, padahal mereka sudah jelas-jelas menguarkan ujaran kebencian dan penodaan agama lewat narasi yang mereka sampaikan ke publik. Kemudian, isu bahwa kepolisian memang tebang pilih menyoal kasus penistaan agama timbul tenggelam di sosial media. Banyak dari mereka yang menilai bahwa kepolisian tidak tegas jika kasus penistaan agama menimpa minoritas.

Padahal, satu dua kasus penistaan agama yang pernah terjadi, melibatkan masa dan membuat pengadilan tak berdaya menghadapi tekanan sehingga mereka harus membuat keputusan untuk meredam semuanya itu. Seperti yang terjadi pada Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Kasus ibu Meiliana di Tanjung Balai misalnya. Pada 2017 lalu, dia difonis 1,6 tahun penjara atas kasus penistaan agama. Hakim menilai bahwa ia terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal 156 A KUHP atas perbuatannya yang hanya, mengeluhkan, volume suara azan yang berkumandang di dalam lingkungannya yang terlalu keras.

Tak dinyana, kasus itu berbuntut panjang. Kericuhan terjadi, yang mengakibatkan beberapa Vihara dan Klenteng dibakar. Meiliana sendiri kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada Maret 2017 silam, dan harus menjalani hukuman penjara selama 1,6 tahun. Ironis, bukan? Hanya karena mengeluhkan azan yang terlalu keras saja bisa sampai sebegitunya.

Tidak heran jika ada banyak orang yang menilai bahwa kasus penistaan agama hanya tajam pada minoritas saja. Melihat kasus-kasus yang pernah terjadi, dan video dari orang yang katanya mengaku Ustadz tapi malah dengan serampangan menistakan agama lain dalam ceramah mereka, kemudian video itu tersebar dimedia sosial dan mereka tidak ditindak seperti kasus penistaan agama yang telah lalu, tentu banyak orang yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan hukum di republik ini.

Pasal 156a KUHP yang berbunyi, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun. Barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Pasal karet ini sudah menelan banyak korban. Ada sedikit masalah dalam perumusannya yang membuka banyak peluang multitafsir dan interpretasi subjektif dalam penerapannya.

Pertama, dalam bentuk apa sesuatu dapat dikatakan sebagai penodaan agama? Apa yang dimaksud dengan penodaan agama? Dan apa yang bisa dijadikan acuan untuk mengatakan bahwa sesuatu adalah penodaan agama? Bisa saja, kan, satu kelompok menilai sesuatu yang kemudian dianggap sebagai penodaan agama, sementara kelompok lain tidak menganggapnya demikian? Penodaan itu haruslah sesuatu yang disepakati semua orang, bahwa hal itu memang sudah bisa dikategorikan sebagai penodaan agama dan harus dipidana.

Kedua, bagaimana cara membuktikan bahwa sesuatu itu memang penistaan agama? Setiap pemuka agama pasti memiliki pandangan berbeda dalam hal ini, dan pandangan tersebut lebih cenderung bersifat subjektif dan emosional, sebab agama itu sendiri saja sudah berada di ranah personal. Pasal karet ini bisa begitu longgar, namun juga bisa mencekik korban sebab isinya memang multi tafsir. Lebih-lebih lagi jika ditambah dengan tekanan masa. Kacau sudah.

Sebagian orang, terutama umat hindu, mungkin masih menantikan kelanjutan kasus Desak Made Dharmawati, dan berharap bahwa perempuan itu diganjar sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Sementara sebagiannya lagi mungkin sudah masa bodoh dan tidak peduli lagi. Banyak kelompok masyarakat yang sudah terlalu sering menelan pil pahit kekecewaan atas jalannya hukum di republik ini.

Mungkin itu pula yang dirasakan oleh umat Kristen. Ada banyak orang yang mengaku Ustadz diluarsana yang dengan serampangan mengatai agama Kristen dengan kata-kata yang jauh dari santun. Mungkin ada yang melaporkan para oknum itu ke pihak berwajib, namun mereka akan mundur teratur sebab mereka juga enggan terlibat masalah yang lebih panjang.

Lama kelamaan, orang-orang akan semakin apatis dan menjadikan kasus penistaan agama sebagai olok-olok. Namun sebagiannya mungkin masih akan menyimpan kekesalan apabila kasus yang sama terus saja berulang.

Pasal penistaan agama sendiri adalah delik aduan. Harus ada yang mengadukannya terlebih dahulu, baru kasusnya bisa diproses. Jika mau yang lebih adil, ubah saja deliknya menjadi delik umum. Atau paling mudah, hapuskan saja pasal penistaan agama yang tidak jelas jungkrungannya itu. Mau sampai kapan negara ini mengurusi remeh temeh macam itu? Dan tidak akan ada lagi orang-orang yang protes jika ada seseorang yang menista agama yang tidak diproses hukum.

Indonesia adalah negara dimana ada begitu banyak keberagaman berada didalamnya. Memang perlu hukum yang memayungi semua itu, untuk mengatur tata tertib masyarakat yang berada dalam naungan Bineka Tunggal Ika. Tapi jika produk hukum itu sendiri terdapat masalah karet, bukankah perlu evaluasi untuk penerapan yang lebih evisien? Bukannya malah menimbulkan masalah baru yang betul-betul tidak penting dan tidak perlu.

Terdakwa penistaan agama di Karawang dituntut 1,6 tahun penjara - ANTARA  News

Permasalahan penistaan agama? Mau sampai kapan? Tidakkah kalian lelah mengurusi hal-hal semacam ini? Seolah tak ada hal yang lebih baik untuk dipermasalahkan. Berhentilah memicu pertengkaran antar saudara sendiri dengan mengeluarkan narasi-narasi profokatif dan menista keyakinan kelompok lain semacam itu. Marilah bersama-sama menjaga keberagaman dan kebinekaan bangsa ini. Itu adalah satu-satunya hal yang dapat kita lakukan untuk merawat kerukunan dan kesatuan yang kita miliki.

(Komang Yuni-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads