Umum

ORANG BILANG TANAH KITA TANAH SURGA

ORANG BILANG TANAH KITA TANAH SURGA

Leonita Lestari

07 Jul 2021
 

Bermula dari mimpi menanam semangka dan berbagai sayuran serta tanaman lain di gurun pasir, sekelompok peneliti asal Norwegia yang mendirikan perusahaan rintisan, Desert Control, tiba di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Lima bulan kemudian gurun pasir di Dubai pun disulap menjadi kebun pertanian yang hijau dan menghasilkan buah serta sayuran segar.

Para ilmuwan asal Norwegia itu menemukan suatu konsep penemuan bernama ”liquid nanoclay” yang dibuat hanya dari air dan tanah liat. Formula yang disemprotkan di atas gurun pasir itu mampu menyatu dengan partikel pasir dan memperkaya nutrisi di gurun pasir.

Bermula dari kekhawatiran padang pasir di gurun Gobi semakin meluas, China bertekad pada 2050 nanti, luas hutan miliknya akan mencapai 50% dari seluruh daratannya (saat ini baru 5%).

Tak lama kemudian, dari gurun itu China telah berhasil mengeksport buah-buahan dan produk sayuran dengan kualitas mendekati produk pertanian yang dihasilkan oleh Italia.

Masih ingatkah ketika pada tahun 80 an dimana bencana kelaparan terjadi di Ethiopia? Perang saudara tak berkesudahan ditambah tanah gersang sebagian besar wilayahnya telah membuat jutaan rakyatnya mati karena kelaparan. 

Hari ini Ethiopia adalah negara pertanian terbaik ke 12 di dunia dan hanya kalah setingkat dengan AS yang berada pada posisi 11 dunia. Pembangunan infrastruktur sebagai sebab kerjasama dengan China dan teknologi pertanian yang diambil dari Israel adalah salah satu penyebabnya.

Pada tahun 80an saat Ethiopia luluh lantak dan jutaan rakyatnya mati kelaparan, kita sudah swasembada beras. Kita sukses dalam pertanian.

Mungkin tak ada gunanya kita menoleh dan mencari siapa salah kenapa sebagai negara agraris kita tak sedikitpun mampu mendekati capaian Ethiopia si pemilik tanah gersang tersebut.

Kita juga tak perlu "nggumun" dan berdesah "masaolooh" bila dalam waktu dekat ini banyak padang pasir di Arab akan segera berubah menjadi kebun setara Firdaus dalam gambaran kitab. Air berlimpah, buah dan sayuran tak pernah ada kata habis. Itu bukan karena pemenuhan takdir sebagai bangsa terpilih seperti apa kata kitab apalagi tanda-tanda kiamat, itu ikhtiar bangsa tersebut ingin menjangkau teknologi.

Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu adalah gambaran subur tanah kita dalam syair lagu Koes Plus. Meski benar adanya, ternyata kita tetap tak pandai membuat tanah surga itu menjadi firdaus bagi bangsa ini.

"Haruskah kita masih abai dengan teknologi?"

Selama 5 tahun Presiden Jokowi memimpin negara ini, dapat dikatakan bahwa tak ada lagi daerah terpencil yang tak terjangkau oleh peradaban. Ada 3.700 km lebih jalan telah dibangun demi membuka keterisolasian banyak daerah.

Artinya, Desa di mana pun kini telah terakses jalan raya. Hasil pertanian sesuai dengan ciri khas desa tersebut dengan mudah dapat dipasarkan. 

Pun demi mendukung pengairan pada bidang pertanian dan perikanan, 65 bendungan telah dibangun. Demikian pula bandara pada banyak daerah. Ada 15 bandara baru telah terbangun.

Pada pembangunan sarana laut, 18 trayek laut dan 28 pelabuhan baru sudah pula selesai dibuatnya.

Itu semua adalah pondasi sempurna bagi cara bangsa ini mengejar ketertinggalannya. Sedikit saja ada sisipan teknologi baru tersemat pada bidang pertanian dan perikanan, negeri ini dijamin akan berkembang jauh lebih cepat. Itu terkait dengan betapa subur tanah kita dibanding Ethiopia misalnya.

Bayangkan ketika ada lebih dari 70 ribu desa yang ada di Indonesia ini tergabung dalam satu kekuatan ekonomi, itu pasti sangat besar. 

"Kenapa Desa tak dibuat melek teknologi?"

Kabarnya, untuk para nelayan akan dibuatkan satelit orbit rendah. Setiap nelayan yang telah dibuat melek teknologi akan diarahkan hanya pada koordinat yang telah ditentukan oleh satelit tersebut. Titik koordinat itu adalah tempat di mana ikan sedang berkumpul. Tak ada resiko mereka tak mendapat ikan ketika melaut adalah apa yang menjadi target dari diluncurkannya satelit ini.

Untuk itu, koperasi satelit nelayan didirikan. Itu sudah kita dengar saat peletakan batu pertama pada pembangunan Bukit Algoritma 9 Juni 2021 lalu.

Cool storage dengan tenaga listrik berasal dari solar sel yang berbiaya murah dan mudah diaplikasikan pada tempat-tempat terpencil sangat dibutuhkan. 

Pada Indonesia timur, tepatnya di antara Sulawesi dan Papua, ikan tuna adalah jenis ikan unggulan yang pada musim tertentu dalam imigrasinya dari selatan ke utara atau sebaliknya, ikan mahal tersebut akan berlalu lalang dengan jumlah yang sangat banyak melalui daerah tersebut.

Itu adalah daerah terpencil dan jauh dari akses listrik yang sekaligus adalah tantangan bagi komunitas Cikidang Sukabumi sebagai penggagas Koperasi satelit desa.

Bila Ethiopia negeri sangat tandus itu kini mampu menjadi salah satu raksasa pertanian, bila padang pasir di gurun Gobi bisa menjadi hutan sebagai entitas tembok hijau dan lebih panjang dari tembok China yang legendaris itu dan padang pasir di UEA telah menghasilkan tomat, melon dan macam-macam sayuran, Indonesia sebagai tempat tanah subur di mana tongkat dan kayu dilempar tumbuh menjadi tanaman, pasti jauh lebih memiliki masa depan. 

Sisipkan teknologi di sana, 1 hektar tanah yang kemarin hanya mampu menghasilkan panen 4 ton misalnya, kenapa mustahil menjadi 7 atau 8 ton?

Padi, Sumber Pangan Utama – Rahasia Panen Melimpah

Waduk dan bendungan sudah dibangun pada banyak tempat, artinya tak ada lagi masalah air bagi pertanian dan perkebunan. Akses jalan sudah pula terhubung pada titik paling ujung, tak ada alasan teknologi sebagai tulang punggung pertanian tak mampu dijadikan bagian dari budaya para petani.

Sepanjang mahasiswa IPB, ITB, UI dan banyak PTN kita masih lebih menyukai materi kuliah "minor" khilafah dibanding jurusan mayor nya, hal itu memang terdengar mustahil.

(Nitnot-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads