Umum

N A I F

N A I F

Leonita Lestari

10 May 2022
 

Sebelumnya beredar Surat Edaran Nomor 27/SE/2022 tentang Himbauan Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1443 H/2022 M di Jakarta International Stadium.

Salah satunya soal penyelenggaraan Salat Id di JIS akan dimulai pukul 06.30 WIB.

Kemudian poin kedua berbunyi, "Para Kepala Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Perangkat Daerah, agar mengimbau aparatur sipil negara dan non-aparatur sipil negara yang tidak melakukan perjalanan mudik dan atau ke luar kota, untuk melaksanakan Salat Idul Fitri sebagaimana dimaksud pada angka 1."

Di tempat lain, ada muncul surat tugas. Judul dalam surat itu tertera dengan jelas berbunyi "SURAT TUGAS".

Siapa yang menugaskan?? sesuai tanda tangan, Kepala Suku Dinas.

Siapa yang ditugaskan? dalam surat itu tertulis seluruh karyawan yang beragama Islam plus dengan membawa keluarganya.

Tugasnya apa? Sholat Ied bersama di JIS pada 1 Syawal 1443 H, pukul 6 pagi. 

Okee.., berarti pada ranah privat pun kini terbuka peluang untuk diintervensi atas nama TUGAS.

Apakah itu wajib? Dalam kolom paling bawah tertulis : Melaporkan hasil kegiatan itu secara tertulis kepada Kepala Suku Dinas dst... Jadi,,jelas ya ini wajib atau tidak?

Apakah sebagai kegiatan, itu bagus?

Tak ada hal buruk bagi kegiatan doa, apalagi Sholat Ied yang hanya sekali dalam setahun. Anggap saja intervensi demi hal baik dapat kita terima. Jadi sampai pada titik ini, kita sepakat saja demi hal baik. 

Namun ketika apakah tujuannya bagus, kita dapat berdebat dong…! Kita dapat mencari bukti ada tidak tujuan yang bagus itu sesuai dengan makna benar adanya.

Bukti pertama, muncul pernyataan seorang anggota MPR yang dengan mudah tampak kita buat terkait dengan peristiwa itu. Si Yang Mulia anggota MPR itu, tak ada hujan dan tak pula ada angin, mempertanyakan pilihan Jokowi untuk sholat di Jogja. Apakah itu tak terdengar offside?

Itu justru seperti makna gayung bersambut dalam unsur sengaja. Itu memiliki pesan di balik ucapannya, dan sulit berkilah tak terkait dengan peristiwa JIS.

Seperti umpan lambung, itu diambil oleh para pendukung gubernur. Umpan lambung namun ceroboh itu, dieksekusi dengan cara lebih ceroboh lagi.

Tanpa basa basi dia berungkap bahwa si ahli kabur tak shalat di Istiqlal dengan alasan takut kalah ramai.

Itu jelas sangat terdengar telanjang, meski tak menyebut siapa predikat tersebut. itu semakin mengerucut pada ide bahwa TUGAS pada ASN itu demi ramai JIS, dan maka Istiqlal yang meski dihadiri Presiden akan kalah ramai, kelak akan dijadikan bahan.

Dalam teori asal bunyi, kelak mereka akan bilang bahwa rakyat lebih cinta pada si gubernur dengan bukti "dihadiri lebih banyak orang".

Lebih konyol lagi, sudah jelas tindakan buzzer itu justru telah membuka kedok, ada hadir lagi buzzer lain yang dengan luar biasa O’ONNYA, menelanjangi diri dengan lebih bulat tanpa sekat. Dia menyebutnya sebagai DEMI KEKUATAN RIIL YANG MEMANFAATKAN MOMEN LANGKA.

Dan itu dia teruskan dengan ungkapan "hingga seseorang harus sholat Ied di tempat lain".

Kemana tendensius itu tertuju bila tak pada Presiden yang sedang di Jogja?

Suka tidak suka, kita memang diajak untuk berpikir bahwa acara itu hanya akal-akalan saja demi tujuan politik. Sialnya, acara yang telah disetting sedemikian rupa itu seperti langsung layu, hanya karena Presiden melakukan sholat Ied di Jogja.

Itu suka-suka Presiden. Selama menjabat sebagai Presiden, beliau pernah koq sholat Ied di Aceh, Bogor, Padang dan Jakarta. Emang kenapa kalau tahun ini di Jogja?

Ini bukan kebetulan, ini lebih mirip tindakan SENGAJA dalam skala Terstruktur, Sistematis dan Masif.

Seperti tak pernah kenal budaya ketimuran kita, mereka lupa terkait etika atas tempat dan waktu. Tak ada tempat dan waktu lain selain hasrat politik yang mereka kenal.

Semua selalu tentang itu dan ituuuu.. lagi.

Mereka benar-benar tak pernah belajar. Jatuh berkali-kali dalam babak belur, masih juga tak sedikit pun membuat mereka sadar bahwa Presiden Jokowi sejatinya memang terlalu amat sangat pintar untuk terjebak dalam akal-akalan seperti itu. NAIF....

Seperti menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri, kini pak Gubernur sibuk klarifikasi terkait surat edaran itu. Pun para follower nya, mereka sibuk mencari dalil pembenaran meski mereka juga sadar, bahwa hanya mereka yang tahu makna benar itu. Yang lain, yang waras, yaaaa…paling cuma tepok jidat yang mampu dilakukan.

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/rBwdQmg1tlg


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads