Umum

MUARA JAMBI, CAMBRIDGE NYA NUSANTARA

MUARA JAMBI, CAMBRIDGE NYA NUSANTARA

Leonita Lestari

19 Apr 2022
 

Tiba-tiba nama Muaro Jambi disebut. Dalam rasa sangsi, dahi kita berkerut mencoba untuk tak percaya. Katanya daerah itu pernah menjadi tempat pelajar menimba ilmu kedokteran hingga obat-obatan dalam skala internasional pada suatu saat dulu. 

Bukan cuma itu, Muaro Jambi dikabarkan juga pernah menjadi pusat pendidikan ilmu filsafat, arsitektur hingga seni dan budaya.

"Masa sih…?"

Ketika bicara Inggris atau negara-negara maju, selalu ada budaya pendidikan yang tak bisa dipisahkan. Didirikan pada 1209, University of Cambridge di Inggris adalah salah satu universitas tertua di dunia.

Selain Cambridge, Inggris juga punya universitas yang lebih tua dan tak kalah bergengsi, Oxford. Universitas yang terletak di Oxford, Inggris, ini didirikan sekitar tahun 1096 oleh Alfred the Great of England. 

Di Perancis ada University of Paris, atau lebih dikenal sebagai Sorbonne. Itu merupakan ikon pendidikan tinggi sejak abad ke-12. Universitas ini telah aktif sejak 1160.

Di Spanyol ada, University of Salamanca yang secara teknis didirikan pada 1134, tetapi baru diberi Piagam Kerajaan pada 1218.

University of Bologna dirikan di Bologna, Italia, pada 1088. University of Bologna menjadi saksi sekaligus bertahan hampir di setiap era dunia modern dari Abad Pertengahan, Renaisans, hingga zaman kontemporer. 

Dibandingkan dengan semua universitas itu, universitas "Muaro Jambi" jauh lebih tua. Bahkan bila dibandingkan dengan Universitas tertua di dunia yakni Universitas Al Karaouine di Maroko yang berdiri tahun 859 Masehi di Kota Fez, Universitas Muaro Jambi pun masih lebih tua. 

Bedanya, semua universitas itu masih berdiri hingga hari ini, universitas Muaro Jambi tidak. 

"Apa buktinya?"

Gali saja Kompleks Percandian Muarajambi. Itu merupakan kompleks percandian Hindu-Buddha yang terluas di Asia Tenggara. Luasnya mencapai 3.981 hektar atau delapan kali dari luas Borobudur. 

Menurut data dari BPCB Jambi, peninggalan kepurbakalaan di kawasan ini meliputi kompleks percandian, situs pemukiman kuno, dan sistem jaringan perairan masa lalu dengan cakupan delapan desa.

Di bawah tanah itu, ada cerita luar biasa hebat sejarah bangsa ini pernah mencapai titik mengagumkan sedang menunggu. Gali saja…!!

Muaro Jambi sebagai lokasi peninggalan purbakala pertama kali dikenal dari laporan seorang perwira angkatan laut Kerajaan Inggris, S.C Crooke tahun 1820. Croke melaporkan bahwa ia melihat reruntuhan bangunan dan menemukan sebuah arca yang menggambarkan arca Buddha.

Dan benar, kelak Kompleks percandian Muarajambi terbukti akan memiliki 82 reruntuhan candi (menapo). Bangunan candi yang konon telah dipugar adalah Candi Gumpung, Candi Astana, Candi Kembar Batu, Candi Gedong I, Gedond II, Candi Tinggi I, Tinggi II, Candi Teluk, Candi Koto Mahligai dan Candi Kedaton.

Selain mempunyai banyak peninggalan kuno, Muaro Jambi juga mempunyai hikayat yang amat penting, yakni sebagai pusat pendidikan ajaran Buddha pada abad 7-12 Masehi.

Di sana, ada nama Nalanda disebut. Dan itu mengingatkan kita pada sebuah prasasti. Dan kita tahu bahwa prasasti adalah salah satu sumber primer bagi penulisan sejarah. Prasasti itu bernama prasasti Nalanda.

Prasasti Nalanda adalah prasasti yang ditemukan di Bihar, Nalanda, India, pada 1921. Pada prasasti itu dijelaskan tentang Raja Devapaladeva yang berasal dari Kerajaan Palla di India, yang mengabulkan permintaan Sri Maharaja dari Swarnadvipa atau Sriwijaya untuk membangun sebuah biara.

Biara adalah tempat semua kebajikan. Utamanya seperti Prajnaparamita, sebagai pemujaan, persembahan, pengetahuan, tempat berlindung, sedekah dan kebutuhan orang sakit.

Konon dalam prasasti ini juga disebut adanya lima desa di Calcutta India yang dibebaskan dari pajak untuk keperluan hal baik tersebut sesuai permintaan Kerajaan Sriwijaya.

Bila hal itu dikaitkan dengan Nalanda sebagai pusat pendidikan, Universitas kuno yang konon memiliki 30.000 pelajar dan lebih dari 2.000 pengajar, itu seperti pola kerjasama sekaligus sumbangan Sriwijaya bagi pendidikan di sana. 

Itu seperti pembangunan satu unit kesatuan lengkap yang terdiri dari asrama mahasiswa, asrama dosen, perpustakaan, dan sebagainya.

Ya, Kerajaan Sriwijaya dan Nalanda di India membangun hubungan lewat pendidikan. Keduanya saling mengirimkan pelajarnya.

Sebelas abad lalu, Sriwijaya dan Nalanda membangun hubungan diplomasi budaya yang saling menguntungkan. Menurut catatan, Nalanda dikenal sebagai universitas kuno di India. Ia pernah menjadi pusat pendidikan agama Budha dari tahun 427-1197 M di bawah Kerajaan Pala.

Prasasti itu berbicara bahwa telah ada hubungan langsung antara Sriwijaya dan Nalanda. Bangsa Indonesia sudah terhubung dalam hal yang sangat penting, yaitu pikiran.

Kelak universitas Nalanda dan "Muaro Jambi" akan melahirkan dua tokoh yang sangat terkenal. Dharmakirti dan Atisha.

Pernah dengar istilah Dalai Lama? Ya, Dalai Lama adalah kepala pemerintahan Tibet yang ber ibu kota di Lhasa. 

Dalai Lama adalah kepala dari para Tibetan Buddhism dan para pemimpin dari keempat aliran. Mereka percaya bahwa Dalai Lama adalah Lama tertinggi dalam tradisi Tibet. Ia sering dipanggil "His Holiness" (atau HH) sebelum gelarnya.

Konon, Lama 13 adalah reinkarnasi dari sosok Nusantara. Dagpo Rinpoche, atau yang juga dikenal dengan nama Bamchoe Rinpoche, dikukuhkan menjadi Lama ke-13 dipercaya sebagai reinkarnasi dari Suvarnadvipa Dharmakirti.

Thub Bstan Rgya Mtsho; 12 Februari 1876 – 17 Desember 1933 adalah Dalai Lama Tibet ke-13.

Seorang asli Nusantara itu bukan hanya GURU BESAR, beliau adalah INSPIRASI JIWA MURNI

"Loh emang siapa sih Suvarnadvipi Dharmakirti?"

Konon, kerajaan Sriwijaya pernah mengirim Pangeran Dharmakirti untuk belajar di Nalanda. Sebaliknya, Sriwijaya juga menerima seorang lulusan Nalanda, Atisha Dipankara untuk melanjutkan studi Buddhisme di Sriwijaya.

Dharmakirti atau Serlingpa Dharmakirti atau yang dikenal juga dengan sebutan Suvarnadvipi Dharmakirti adalah seorang pangeran dari silsilah Sri-Vijayendra-Raja yang masih termasuk dalam silsilah Dinasti Syailendra. 

Dia juga dikenal sebagai guru besar Buddhis di Sumatra pada abad ke-10. Dalam sejarahnya, Serlingpa Dharmakirti adalah guru yang sangat dihormati oleh Atisha seorang yang nantinya berperan penting dalam membangun gelombang kedua Buddhisme di Tibet. 

Dalam sejarah Tibet, Atisha adalah orang yang sangat-sangat dihormati.

"Lantas siapa itu Atisha?"

Salah satu karya penting yang pernah Atisha hasilkan adalah ’Wheel of Sharp Weapons’(Tib. blo-sbyong mtshon-cha 'khor-lo), yang merupakan catatan sangat penting bagi aliran Mahayana.

Atisa Dipamkara Shrijnana membawa pengaruh yang sangat besar dalam sejarah keagamaan di Tibet dan dunia pada umumnya. Ini merupakan salah satu ajaran universal Buddha Dharma yang paling berpengaruh di dunia hingga saat ini.

Sebelum Atisha berangkat ke Tibet, ia belajar selama 11 tahun di Sriwijaya, di Suwarnadwipa di Malayagiri di bawah pimpinan Dharmakirti, pendeta agung kebuddhaan di Suwarnadwipa (Sumatra) dan tinggal di Sumatra sekitar tahun 1011-1023.

Sedemikian majunya Muaro Jambi, bahkan seorang Atisha hingga harus pernah berkata bahwa tidak lengkap belajar Buddhisme jika tidak pergi ke Sriwijaya.

"Serius ini gak ngarang?"

Pada abad ke-7, Kerajaan Sriwijaya di Sumatera dikenal sebagai pusat pendidikan bahasa dan sastra Sansekerta terkemuka. Pelajar yang ingin belajar di Universitas Nalanda, Bihar, India, dikirim selama setahun sebelum kuliah.

Itu bukan kata saya itu kata Amartya Sen, peraih Nobel bidang ekonomi asal India suatu saat dulu pada sebuah acara di Bali.

“Ini adalah salah satu contoh lembaga pendidikan berjejaring paling luar biasa di masa lalu,” ujar Amartya Sen.

Bukan hanya Atisha, seorang bernama I Tsing, bahkan pada abad 7 telah belajar di Sriwijaya. 

I Tsing yang bertolak ke India tahun 671 dan tiba di Tamralipti, di Muara Hooghly, tahun 673 Masehi. Dia belajar di Nalanda, untuk jangka waktu yang cukup lama.

I Tsing diketahui sempat singgah tiga kali di Sriwijaya. Konon dia menghabiskan waktu selama total 10 tahun bolak balik.

Dalam perjalanannya, sebelum tiba di India, kapal I Tsing sempat mendarat di Sriwijaya dan menetap selama enam bulan untuk mempelajari tata bahasa Sansekerta.

Kemudian ketika pulang dari India, kapal I Tsing sekali lagi juga mendarat di Sriwijaya dan menetap untuk menerjemahkan teks yang dia bawa dari India. Dia tercatat pulang ke China demi meminta kertas.

Setelah itu dia kembali lagi ke Sriwijaya dan menetap selama tiga tahun untuk melanjutkan pembelajarannya dan menyelesaikan pekerjaannya dalam penerjemahan teks-teks Buddhis, baik yang berbahasa Sansekerta maupun Pali. 

Dari Sriwijaya, tahun 692 Masehi, I Tsing mengirim pulang catatannya yang diterjemahkan ke Tiongkok. Oleh karena nya, buku itu disebut ‘Nanhai Ji Gui Neifa Zhuan’ artinya ‘Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Lautan Selatan.

Dan itu tentang sebutan negara kepulauan yang saat ini disebut Indonesia.

Dalam satu catatannya, I Tsing membuat saran bahwa jika seorang biksu dari Tiongkok ingin pergi ke India untuk belajar dan melafalkan kitab asli, lebih baik orang tersebut tinggal terlebih dahulu di Sriwijaya selama satu atau dua tahun demi mempraktikkan tata cara yang benar.

Adakah itu bukan tentang I Tsing yang bicara terkait kuliah di Sriwijaya? 

Bukankah itu juga tentang dinasti Tang sebagai negara besar pun menjadikan Sriwijaya sebagai rujukan sekolah bagi warga negaranya?

Universitas Nalanda yang didirikan pada abad 5 itu akhirnya rata dengan tanah. Tahun 1193 pasukan Turki di bawah perintah Bakhtiyar Khalji atau juga dikenal sebagai Malik Ghazi Ikhtiyaru 'l-Din Muhammad Bakhtiyar Khalji seorang jendral Turki dan merupakan salah satu jendral militer Qutb-ud-din Aybak itu menuntaskan nasib Nalanda.

Tahun 2014, Universitas Nalanda kembali dibuka. Itu dimulai dengan 15 mahasiswa dan 11 staf yang menghadiri kuliah di tempat sementara, Rajgir Convention Centre, gedung pemerintah di negara bagian Bihar, India timur.

Tahun 2022, tepatnya pada 7 April 2022, Presiden Jokowi memerintahkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim melanjutkan pemugaran Candi Muaro Jambi. 

Jokowi menilai Candi Muaro Jambi menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia. Kawasan itu berstatus pusat pendidikan terbesar di Asia pada abad ketujuh.

Daerah itu menjadi tempat pelajar menimba ilmu kedokteran dan obat-obatan. Candi Muaro Jambi juga menjadi pusat pendidikan filsafat, arsitektur, dan seni.

"Artinya apa? Peradaban kita saat itu sudah meng-internasional dan terbuka. Inilah sejarah yang perlu kita lestarikan agar jejak-jejak peradaban kita di bidang pendidikan utamanya bisa kita ketahui," ucap Presiden.

Anehnya, Kunjungan Jokowi di Jambi itu justru disambut demo mahasiswa dari kelompok Cipayung Plus. Mereka lebih tertarik bicara harga minyak goreng.

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/HCMZ72oDKNM


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads