Umum

MENJEMPUT ASA, INDONESIA BISA

MENJEMPUT ASA, INDONESIA BISA

Leonita Lestari

26 Jun 2021
 

Siapakah yang menjadi pemenang pada pandemi global yang telah berlangsung selama lebih dari 1 tahun ini?

Yang jelas, bukan pada mereka yang sedang berjalan mundur. Bukan pada negara-negara di mana rakyatnya senang bermain dengan isu agama dan kemudian memaksa orang-orang terdekatnya untuk turut terlibat di dalamnya.

Mereka hanya menjadi korban dan mau tidak mau harus menjadi konsumen bagi kebutuhan yang tak mungkin akan mereka tunda. Vaksin, obat-obatan hingga peralatan medis misalnya, bukankah itu semua HARUS terbeli? Bahkan bila harus ngutang bukan?

Bagi banyak negara berkembang, ketika uang tak lagi mereka punya karena pandemi global telah berlangsung lama dan makin membuat mereka tertekan, adakah selain SDA sebagai milik berharga harus mereka serahkan pada banyak negara maju pemilik teknologi medis tersebut?

Gambar

Negara berkembang yang TAK BERKONFLIK/RIBUT isu agama seperti Vietnam justru melenggang dengan laju pertumbuhan eknonominya yang mengagumkan dan hanya sedikit lebih rendah dari China sebagai negara yang sudah layak disebut dalam kategori maju.

Gambar

Pun ketika semua bidang pekerjaan runtuh, negara-negara pemilik teknologi digital hingga internet adalah pemenangnya. Tiba-tiba semua orang harus memanfaatkan sistem online dalam hampir semua bidang. 

Mulai dari sekolah hingga meeting kantor, mulai dari belanja hingga sekedar bersosialisasi, semua diborong dalam satu gerbong teknologi dimana para pemiliknya adalah mereka yang sudah sangat mapan dan berdomisili di negara-negara super maju.

Gambar 

Microsoft contohnya, gegara semua tak boleh tatap muka, perusahaan ini serta merta telah menjadi perusahaan yang berhasil menyentuh angka kapitalisasi US$2 triliun. Dalam rupiah setara dengan 28-29 kuadriliun rupiah. 

Bagaimana cara membayangkan seberapa banyak duit itu, yang jelas jumlah angka nol di belakang angka 28 atau 29 itu sepertinya jauh lebih banyak dibanding jumlah roda kereta api Taksaka jurusan Jakarta-Jogja. Pokoknya banyak banget..!!

 

Kenaikan saham Microsoft ini sebagian besar terdorong oleh kegiatan belajar dan bekerja di rumah akibat pandemi.

Kesuksesan finansial Microsoft baru-baru ini sangat terkait dengan teknologi yang mereka kembangkan yakni game, komputasi awan (cloud computation) , otomatisasi, analitik hingga Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence).

Pun Apple yang kini mampu mengkapitalisasi sedikit lebih banyak yakni 2,23 triliun dolar. 

Selain itu, Amazon dan Google juga bersiap untuk masuk dalam perusahaan senilai US$2 triliun. Saat ini kapitalisasi pasar Amazon senilai US$1,76 triliun, diikuti oleh Google US$1,67 triliun.

Gambar

Mereka sangat cepat dalam mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya karena pandemi Global.

Adakah kita Indonesia masih akan jumawa karena sebagai pemilik SDA melimpah dan ga habis-habis, maka waktu kita foya foyakan demi euforia ga jelas: ribut surga neraka melulu?

Gambar

Ayolah kita sadar karena fakta bahwa pandemi ini benar-benar telah menguasai hampir seluruh milik kita. Kita tidak dan belum menjadi salah satu negara yang diuntungkan karena pandemi ini. Kita tekor banyak karena kita lebih banyak membeli dibanding kita mampu menjual. 

Lebih banyak kita membeli daripada kita membuat.

Ayolah kita lebih banyak mengurusi teknologi dibanding agama dan pencitraan kosong. Tiap orang YANG MENGAKU DIRINYA PEMIMPIN HARI INI SEDANG DIUJI VIRUS, janganlah mabuk minta dipuji kilat kamera. Hanya dari sanalah jaminan bahwa negara ini akan tetap eksis menemukan landasannya.

Gambar

Perbanyaklah aktor politik yang bervisi teknologi dan memiliki pemikiran-pemikiran yang berbasis science dibanding mereka yang senang jualan sensasi apalagi jualan agama. Orang-orang yang senang jualan sensasi itu dijamin tak akan pernah bisa memberi selain meminta. Janjinya saja yang selalu membuat kita luluh.

Pandemi ini mengajarkan dan sekaligus memberi contoh pada kita. Mereka yang kuat dalam science justru menerima manfaat sementara kita yang buta hanya akan selalu menjadi target. 

Siapa sih yang tak akan menjual apapun sebagai milik ketika istri, suami, anak atau orang tua kita sakit dan butuh berobat? Negara juga akan melakukan hal yang sama untuk rakyatnya dan pandemi ini telah menguras banyak harta negara-negara yang tak siap. Termasuk pada negara kita. 

Itulah pelajaran harus kita petik dari pandemi ini. Kita bukan tidak siap karena kita tak pernah membuat antisipasi, kita justru kurang memiliki imajinasi dan maka tak mengerti apa itu makna antisipasi. Semua telah ditakar dan ditentukan, demikian banyak dari kita sering memaknai apa itu hidup.

Gambar

Hanya sedikit negara yang justru mampu berkelit dan justru kemudian mampu mengambil keuntungan, dan itu adalah negara-negara yang maju secara pemikiran dan memiliki akar yang kuat dalam ranah logis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Gambar

Tak ada kata terlambat, Presiden Jokowi telah memulainya dengan sangat serius dan pondasi telah dibuatnya dengan terstruktur. Bangunan seperti apa ingin didirikan diatasnya, seharusnya tak banyak berbeda dengan negara-negara yang telah mampu membuat rakyatnya makmur. 

Pada tetangga terdekat kita di Asia tenggara ada Singapore, di Asia ada Jepang, China, Korea Selatan dan bahkan Israel yang kini mampu leading karena teknologi sebagai dasar pijakannya. Tak ada salahnya kita belajar dari mereka.

Bukan seperti AS dan banyak negara eropa yang kaya karena penjajahan, Jepang negara miskin SDA dan hancur total karena kalah perang. China baru mulai ngebut tahun 1978. Israel selain tak punya SDA negara itupun sensasional dalam cara berdirinya sebagai negara. Dan Singapore, selain sangat kecil, dia tak memiliki kekayaan SDA apapun. Mereka semua bisa sukses sebagai negara dan rakyatnya hidup dalam kelimpahan.

Mereka bisa sukses karena teknologi MESKI TANPA KELIMPAHAN SDA. kenapa kita yang sangat kaya dengan SDA tak yakin akan jauh lebih mampu BILA DAPAT MEMANFAATKAN TEKNOLOGI?

Percaya atau tidak, jauh sebelum dongeng bahwa laut selatan bukanlah tempat yang ramah sejak kita memisahkan diri dari laut sebagai halaman kita, teknologi perkapalan hingga ilmu kelautan kita sudah sangat maju.

Gambar 

Sejauh laut pernah memanggil, nenek moyang kita pergi menjangkaunya. Catatan tentang hal tersebut tersebar jauh hingga negeri china hingga Portugis.

Asa kita ada disana, ada pada kemampuan kita pada suatu saat dulu ketika sangat mengerti bagaimana mengolah sumber daya alam takdir pertiwi. Kenapa begitu sulit hasrat ini ingin menjemputnya?

INDONESIA PASTI BISA!

(Nitnot-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads