Umum

MENCARI MAKNA PIDATO PRESIDEN PADA HUT TNI KE - 76

MENCARI MAKNA PIDATO PRESIDEN PADA HUT TNI KE - 76

Leonita Lestari

05 Oct 2021
 

Pelanggaran kedaulatan, pencurian kekayaan alam di laut, radikalisme, terorisme, ancaman siber, dan ancaman biologi menjadi titik berat pernyataan Presiden saat pidato pada Hut TNI yang ke 76.

Ketika narasi pelanggaran kedaulatan di laut dan pencurian kekayaan alam di laut Presiden ungkap, itu seperti berbicara tentang Natuna. Laut China Selatan dan dominasi China dengan militernya sedang bermain di sana.

Ketika narasi radikalisme dan terorisme diungkap Presiden, fasih nalar kita meraba segera berungkap bahwa itu adalah cara-cara yang paling sering digunakan oleh barat.

"Adakah relevansi barat dan China pantas diungkap oleh Presiden sebagai ancaman pada kekinian kita?"

Seperti panggung pertunjukan, Laut China Selatan adalah tempat tampilnya banyak hal baru dan mengagumkan. Karena itu panggung militer, hal menarik mereka tampilkan tentu terkait dengan perkembangan teknologi militer yang telah mereka capai.

Semaju apa teknologi militer China dapat kita lihat dengan mudah. Itu berbanding lurus denga "pede" mereka ketika berteriak sambil menepuk dada dalam klaim sepihak laut luas di selatan negara tersebut. Mereka dengan arogan berseru bahwa itu adalah halaman rumahnya sambil memamerkan alat perang mutakhir buatannya sendiri.

Klaim sepihak China memancing marah AS dan sekutunya. Itu memberi mereka alasan untuk hadir di laut yang kini terlihat semakin sesak. Pada laut tersebut, lebih dari setengah kekuatan militer dunia kini berunjuk pamer.

AUKUS tiba-tiba lahir. Aliansi pertahanan 3 negara Amerika Serikat, Inggris dan Australia menambah panas apa yang sudah dekat dengan mendidih. Amerika dan Inggris sepakat bergabung dengan Australia dengan misi untuk membangun Australia yang semakin modern dalam bidang militer.

Australia yang kabarnya telah memperkuat Angkatan Udaranya dengan banyak pesawat stealth tercanggih buatan AS yakni F 35 itu kini dikabarkan akan menerima transfer teknologi dalam pembangunan kapal selam nuklir atas kesepakatan Aukus. Teknologi militer super canggih itu konon sengaja diberikan pada Australia demi superioritas China tak berjalan sendirian. 

Bila kapal selam nuklir itu telah dapat mereka produksi, Australia dipastikan akan memiliki pasukan tempur di bawah laut yang tak butuh menampakkan diri. Kekuatan militer itu bisa terus bersembunyi dan hanya perlu muncul manakala makanan habis. Secara teknis, kapal selam itu dapat menyelam selama 25 tahun.

Dengan letak China di utara dan Australia di selatan Indonesia, itu jelas masalah besar bagi kita. Aukus sengaja dibangun demi antisipasi terhadap China. Artinya, ketika terjadi perang antara dua kekuatan itu kita seperti pelanduk di tengah gajah yang saling tubruk.

Itu sisi dari makna bahaya bila mereka sampai bertempur. Bila tidak, masih ada terlalu banyak cara untuk selalu mengganggu kedaulatan negara kita. "Mewanti" keberadaan dua kekuatan sangat besar dalam super power militer baik di utara dan selatan negara kita yang kini telah berkembang pada arah tak mudah diprediksi, itulah makna pidato Presiden Jokowi kali ini.

Dengan China yang tak pernah berhenti mengganggu kedaulatan kita di Natuna, tak pantas kiranya bila kita abai pada pemusatan militer negara tirai bambu itu di laut China Selatan.

Dengan bersatunya AS dan Inggris sebagai entitas "konsep barat" dalam persekutuan Aukus bersama Australia sebagai tetangga terdekat kita dalam jarak, tak bijak pula bila isu radikalisme tidak kita antisipasi sedini mungkin. Boss besar yang konon katanya selalu mudah dibuat terkait dengan munculnya isu radikalisme, kini hadir di selatan negara kita.

"Bila potensi ancaman Presiden ungkapkan, adakah solusi juga diucap oleh Presiden?"

Dalam pidato itu Presiden juga mengatakan bahwa spektrum ancaman pada kekinian kita justru semakin meluas. Dan itu menuntut transformasi pertahanan yang harus terus dilanjutkan. Salah satunya dengan menyesuaikan kapasitas pertahanan sesuai dengan perkembangan teknologi terkini.

Bukankah kata teknologi juga menjadi salah satu sebab Aukus terbentuk? Teknologi militer AS dan Inggris membantu Australia demi tak tertindih oleh teknologi China yang makin menggentatkan?

Meski sangat pendek, pidato Presiden tersebut memiliki makna besar. Peran sentral TNI atas ancaman yang presiden sampaikan menjadi sangat vital. Ancaman dia ungkap tanpa menyebut nama China dan barat namun dengan idiom pintar pencurian ikan dan pelanggaran perbatasan laut berikut radikalisme dan terorisme . 

Saran sebagai jalan keluar pun beliau sampaikan sesuai dengan trend kekinian yakni teknologi. 

China yang kuat adalah China yang telah keluar sebagai pemenang dalam banyak pencapaian teknologi kekinian. Australia yang minder pada China dan maka perlu melahirkan Aukus, itu pun tentang teknologi

Hal yang sama presiden ungkap pada TNI pada ulang tahunnya yang ke 76 tahun 2021 yakni menyesuaikan kapasitas pertahanan sesuai dengan perkembangan teknologi terkini.

Itu pun pernah Presiden ungkap tepat satu tahun yang lalu :

"Revolusi Industri jilid ke-4 telah menghasilkan teknologi-teknologi baru yang mengagumkan, termasuk teknologi militer. Saat ini kita sedang berada pada era lompatan teknologi militer yang akan mempengaruhi taktik dan strategi perang masa depan." ujar Presiden saat peringatan HUT TNI 2020.

Sepertinya, arah pembangunan militer kita di bawah Presiden Jokowi adalah tentang TNI yang melék teknologi. Pelanggaran kedaulatan, pencurian kekayaan alam di laut, radikalisme, terorisme, ancaman siber, dan ancaman biologi adalah tantangan yang paling mungkin terjadi dan TNI yang berteknologi adalah alat pertahanan yang paling tepat bagi Indonesia saat ini.

DIRGAHAYU TNI KE - 76...


(NitNot-KK)


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads