Umum

MAU INDONESIA JADI JUARA? TINGGALKAN CARA-CARA LAMA

MAU INDONESIA JADI JUARA? TINGGALKAN CARA-CARA LAMA

Leonita Lestari

25 Aug 2021
 

Seberapa tangguh kita, seberapa besar tekad, kesungguhan kita mewujudkan mimpi-mimpi kita, dapat diukur dengan seberapa besar kita berani keluar dari zona nyaman kita. 

Halangan sebagai masalah yang selalu muncul, seringkali membuat kita berhenti atau bahkan menarik diri dan memilih mundur. Pada sisi yang lain, seringkali itu juga adalah tentang kreatif kita mencari cara melewatinya. Siapa kita, ada di balik cerita itu.

China dan Jepang sebagai 2 negara Asia sama seperti kita, dapat kita jadikan rujukan. 

Pada Jepang sebagai negara miskin SDA, itu memaksanya harus ekspansif. Tradisi dan etos kerja yang demikian kuat ternyata juga mensyaratkan hadirnya banyak bahan baku. Dan itu tak banyak mereka punya.

Jepang yang pernah sangat ekspansif dengan militernya itu tersungkur dan kalah dalam perang dunia II. Dia langsung jatuh tergeletak pada sisi jurang sangat dalam. Selain infrastruktur miliknya hancur, hukuman dalam bentuk sanksi diberikan pada negara itu. Itu seperti kita punya kebun tak beririgasi plus tak boleh memiliki cangkul dan sabit.

Budayanya tak mengajarkan menyerah. Tekad kuat dari masyarakatnya tak memberi ruang pada apa itu menyerah. Mereka bangkit.

Masalah utamanya masih sama, mereka tak memiliki kemewahan dengan SDA. SDM mereka genjot. Kebiasaan mencari barang mentah dan kemudian diolah menjadi sesuatu yang baru dan bernilai guna lebih, tetap menjadi kebiasaan bangsa itu. 

Bukan dengan militer yang ekspansif, tapi bisnis. Berawal dari senang menjiplak, kini made in Japan memiliki makna teknologi kekinian.

Jepang masih tetap Jepang yang lama. SDA bukan kemewahan berlimpah yang tanah air mereka miliki. Mereka terus dan terus mencari bahkan bila harus mengejar hingga sampai ke ujung dunia.

Ketika kepandaian bangsa itu meminta lebih dan lebih banyak lagi mineral bumi dan negara lain mulai membatasi, kebiasaannya mencari telah menuntun bangsa itu pada sesuatu yang mustahil dalam ukuran banyak bangsa di dunia. Mereka mencari dari sumber di luar bumi. Mereka ingin menambang ASTEROID.

Badan Eksplorasi Antariksa Jepang, JAXA dikabarkan sedang melakukan misi HAYABUSA untuk mencoba membawa kembali sampel asteroid ke Bumi.

Klasifikasi telah mereka buat. Paling tidak kini ada 3 klasifikasi asteroid telah mereka kenal dan telah dijadikan rujukan. Asteroid tipe C, tipe S dan tipe M. 

Ingin panen karbon organik, fosfor, dan bahan utama lain untuk pupuk yang dapat digunakan untuk menumbuhkan tumbuhan, Jepang akan memanfaatkan asteroid tipe C.

Ketika Jepang butuh nikel, kobalt, dan hingga jenis logam yang lebih berharga, seperti emas, platinum, dan rhodium, mereka akan membidik asteroid tipe S yang membawa banyak mineral silikat tersebut.

Untuk kebutuhan unsur logam yang ekstrim, Jepang akan memilih asteroid tipe M atau Moderat. Ini termasuk asteroid yang jarang ditemui. Berat asteroid tipe M ini bisa 10 kali berat asteroid tipe S. 

Sebagai gambaran mudah, 1 meter kubik air beratnya adalah 1 ton dan 1 meter kubik emas adalah sekitar 20 ton. Asteroid ini kabarnya memiliki berat ratusan kali air dalam 1 meter kubiknya. Bisa dibayangkan, unsur logam apa saja terkandung di dalamnya?

Ketika Jepang senang dengan mencari, China sedikit berbeda. China terlihat sangat ekspansif dalam keinginannya mencari sumber energi. Gas bumi, batubara hingga minyak bumi selalu menjadi bidikannya. Jumlah penduduknya yang kini sekitar 1.4 miliar menuntut negara mampu terus membakar banyak tungkunya demi ekonomi negara berjalan.

Dan maka, kita dengar China berkonsentrasi dan sibuk membuat matahari buatan. China juga sedang bermimpi memanen energi matahari secara langsung dari angkasa luar.

Seperti cerita fiksi ilmiah, China sedang ingin memanen energi dari Matahari dan kemudian memancarkannya ke Bumi dengan menggunakan infrastruktur besar di orbit.

Dari ketinggian 36.000 kilometer atau lebih, pembangkit listrik tenaga surya geostasioner yang dapat menghindari bayangan bumi dan melihat matahari 24 jam sehari, akan sedang mereka bangun.

Dalam targetnya pemerintah China berencana menghasilkan 1 megawatt dari luar angkasa pada 2030. Pada tahun 2049, ketika Republik Rakyat Tiongkok merayakan hari jadinya yang ke-100, total kapasitas pembangkit listrik akan meningkat menjadi 1 gigawatt, setara dengan reaktor tenaga nuklir terbesar saat ini.

Sangat mungkin, itu juga akan merangsang pengembangan berbagai teknologi mutakhir, termasuk roket super heavy, pesawat luar angkasa hipersonik untuk transportasi berbiaya rendah, konstruksi infrastruktur orbital dan hingga menggerakkan drone atau pos militer jarak jauh.

"Haaa...China lebih muda dari kita to? Koq bisa dia sudah jauh lebih maju dari kita?

Bagaimana dengan kita rakyat Indonesia, zona nyaman sepertinya masih terlalu sayang untuk kita tinggalkan. Negeri berlimpah madu dengan kolam susu yang memanjakan penghuninya pada satu sisi adalah berkah namun di sisi lain juga masalah. Hambatan dalam rupa kenyamanan itu telah membuat kita enggan bergegas.

Siapa tak nyaman dengan kondisi hidup manakala tongkat kayu yang kita lempar pada sembarang tempat akan memberi kita buah? 

Adakah kita justru tak sudah menghina Tuhan yang telah memberi SDA melimpah siap jual kapan saja termasuk dengan hutan yang membentang luas yang memberi kita kayu gratis sebanyak kita mau berikut laut penuh ikan tak kenal habis dan maka kita masih harus khawatir?

"Emang gak akan habis po?"

Itu tergantung pada iman kita. Anda percaya, niscaya rezeki tak akan kemana. Anda tak percaya, jangankan satu tahun, dalam satu detik pun, itu akan musnah. Percayalah, semua sudah ada yang atur.  

Kekhawatiranmu menunjukkan imanmu. Takut dan apalagi harus khawatir pada masa depan, itu bukanlah ciri orang beriman. 

Lagipula, bukankah kita semua akan mati pada waktunya nanti? Bukankah kita tak membawa apapun saat kita di akhirat selain catatan dosa dan amal?

"Loh...ini kan soal masa depan negara to?"

Bila suatu saat dulu negara Jepang pernah dilucuti paksa banyak nilai lebihnya karena faktor kalah Perang Dunia II, kita karena satu dan lain sebab telah melucuti kita sendiri. 

Bila Jepang dengan akar tradisi dan budayanya mampu membuat rakyatnya tetap semangat dan kemudian bangkit menjadi pemenang, pun seharusnya dengan kita. 

Jepang mungkin agak sedikit lebih beruntung karena selain dia dilucuti oleh orang lain dan kita melucuti diri sendiri (konyol), Jepang hanya dilucuti badannya SEMENTARA kita melucuti jiwa kita sendiri. 

Berbenah diri sangat mungkin adalah jawab atas tanya bagaimana seharusnya kita? 

Inovasi 4.0 bukan sekedar jargon Paijo demi tampak kerén. Siap tak siap, suka tak suka, periode industri 4.0 akan tetap datang. Adakah kita turut menjadi bagiannya, atau masa itu hanya berlalu di depan kita, kitalah penentunya

Meski terkesan sepi tanggapan, berita bahwa sebagian dari saudara kita yang sedang menggelorakan pentingnya rakyat ini segera bangun demi menyongsong era industri 4.0 adalah kabar baik. Itu seperti kita mendengar suara gemericik air manakala kita sedang melintasi bukit berbatu. Itu menyegarkan.

Harapan besar kita adalah banyak dari saudara kita turun dan mencari di mana sumber suara air itu. Minumlah, maka kau akan lepas dari dahaga. Mandilah pada sumber air berlimpah itu dan niscaya badan kita akan kembali bersih sekaligus segar. 

Dari sana, semangat dan bangga kita pada tanah surga penuh madu dan kolam susu itu mendapat paradigma baru. Bukan semata demi eksploitasi belaka, itu adalah modal lebih kita sebagai start menguntungkan. Itu sekaligus adalah demi jangkauan langkah lebih lebar anak-anak bangsa ini dalam karsa dan karyanya.

Apresiasi MODERAT untuk @BudimanDjatmiko dengan BUKIT ALGORITMA nya

Seharusnya kita bisa....


(NitNot-KK)

Follow me on :

Instagram

Twitter

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads