Umum

MARAH TAK MAU MENUNGGU MALAM

MARAH TAK MAU MENUNGGU MALAM

Leonita Lestari

19 Apr 2022
 

Kemarahan itu datang terlalu cepat. Bila tidak, bisa jadi malam harinya justru akan ada kemarahan lebih besar dengan akibat lebih besar pula.

Ade Armando menyematkan malam. Tubuhnya menjadi samsak kemarahan yang tak sabar menunggu malam ingin menjelang. Marah itu datang terlalu cepat.

Itu masuk akal manakala melihat antisipasi pemerintah. Wiranto turun gunung dan Mahfud MD bahkan harus menggelar sidang khusus pada Sabtu 9 April.

Rapat ini dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perhubungan, Kepala BIN, Panglima TNI, Kepala Staf Presiden dan Wakabaintelkam mewakili Kapolri, beserta sejumlah pejabat Eselon I Kemenko Polhukam.

Itu ga mungkin tanpa pretensi apa-apa atas potensi demo 11 April. Mereka telah mencoba membuat antisipasi. 

Berapa demo selalu berakhir rusuh menjelang malam? Dua demo besar sebelumnya yakni pada penolakan gugatan Prabowo di MK dan penolakan UU Ciptaker, itu terjadi.

Kericuhan pada penolakan putusan MK atas hasil Pilpres 2019 itu tercatat terjadi sejak Selasa (21/5/2019) malam hingga Rabu (22/5/2019) dini hari.

Pun pada demo penolakan UU Ciptaker pada Oktober 2020. Lebih dari 1.000 orang ditangkap saat itu.

Dua demo besar itu berakhir dengan rusuh berhias amuk api membakar mencari puas amarah . 

Berapa banyak aset negara rusak atau berapa banyak rakyat menjadi korban baik langsung maupun tidak, ga lagi penting. 

Jangan bertanya siapa aktor di balik kerusuhan itu, sedangkan kenapa demo itu terjadi saja, banyak dari kita yang bahkan sudah lupa. 

Kita memang bangsa pemaaf. Apapun yang kita rusak hari ini atas nama ramai-ramai, pasti akan sudah dianggap ga ada lagi pada minggu depannya. Kata ibu mertua saya : " tuku maneh..." (beli lagi) saat menyaksikan kebiasaan saya banting-banting barang manakala ngamuk... ?

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD pernah mengatakan bahwa kerusuhan pada aksi demo tolak UU Cipta Kerja yang terjadi 8 Oktober 2020 lalu, sengaja didanai dan di setting oleh oknum tertentu. 

Hal tersebut ia sampaikan ketika menjadi bintang tamu pada video di kanal Youtube milik Karni Ilyas.

Kepada Karni Ilyas, Mahfud mengatakan jika dalang di balik kerusuhan yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, sudah terendus oleh Badan Intelijen Negara (BIN). 

Lebih lanjut, ia mengaku memperoleh beberapa laporan dari BIN yang menyebut adanya pertemuan-pertemuan rahasia untuk merencanakan kerusuhan pada aksi unjuk rasa.

"Sebenarnya sebelum peristiwa itu terjadi, aksi-aksi itu terjadi, kita sudah dapat gambaran apa yang akan terjadi, intelijen itu. Kita dapat laporan akan terjadi ini, itu. Ada pertemuan si A, si B, ini bilang begini, ini saksinya, ini buktinya," kata Mahfud MD.

Pun pada demo di depan Bawaslu setahun sebelumnya, Wiranto sebagai Menkopolhukam saat itu juga pernah mengatakan bahwa aparat telah mengetahui dalang di balik kerusuhan Rabu (22/05-2019)

"Mereka bukan pendemo tapi perusuh. Kalau demo tidak menyerang asrama Brimob, membakar dan lainnya. Mereka preman-preman yang dibayar, bertato. Kita sudah tahu dalangnya," kata Wiranto.

Unjuk rasa di depan Bawaslu pada Selasa (21/05) sempat berakhir pada sekitar pukul 21:00 WIB namun menjelang tengah malam, massa yang diperkirakan dari luar kota datang. 

Polisi memukul mundur massa yang tetap bertahan sampai dini hari Rabu dan bentrokan terjadi. Jakarta berwarna api.

Siapa aktor bertanggung jawab di balik dua demo besar dan merusak banyak hal mulai dari korban jiwa hingga aset negara, rumput bergoyang pun justru kini ingin bertanya. Itu cerita abadi negeri ini.

Demo Mahasiswa 114 kemarin itu mamang tak pantas disamakan dengan dua demo besar pada 2019 dan 2020 lalu. Terlalu kecil dan tak memiliki spektrum pantas untuk berkembang menjadi sangat besar. 

Namun, akan merusak tatanan negara yang sedang dalam kondisi recovery akibat multi masalah terkait pandemi global hingga suhu politik dunia yang sedang tak baik ini, jelas ada.

Dan bibit rusuh itu sudah sempat dimulai di Kendari Sulawesi Tenggara maupun Makassar dan Palopo di Sulawesi Selatan. Di sana, Mahasiswa dikabarkan telah mulai bentrok dengan aparat.

Ya, kita cukup beruntung sebab marah datang terlalu cepat di Jakarta. Marah itu tak mau menunggu malam, menunggu matang menjadi ledakan yang menginspirasi. 

Kedengarannya sadis bila Luka sekaligus duka Ade Armando kita anggap sebagai silih misalnya, namun siapakah kita sehingga demikian jumawa merasa mampu membaca tanda itu? 

Ketika semesta berbicara, dengarkan saja. Itu pernah menjadi cara kita hidup pada suatu saat dulu..... ?

(NitNot-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads