Umum

LEGENDA PUTRI MANDALIKA

LEGENDA PUTRI MANDALIKA

Leonita Lestari

22 Nov 2021
 

M A N D A L I K A adalah nama seorang putri raja pada cerita rakyat suku Sasak yang demi menghindari pecah perang di antara para pelamarnya, memilih untuk menjatuhkan diri di antara buih pantai Seger dan menghilang bersama ombak.


Putri Mandalika terlahir dari pasangan Raja Tonjang Beru dan Permaisuri Dewi Seranting dari kerajaan Tonjang Beru yang terletak di pantai selatan Pulau Lombok.


Rakyat Tonjang Beru berbangga bukan hanya pada sang raja arif bijaksana yang selalu membantu dan peduli atas kesulitan hidup rakyat yg bahkan membuat seluruh kerajaan makmur, aman dan sentosa, pun pada sang Putri Mandalika yang saat beranjak dewasa elok paras dan keanggunannya terlihat dari hari ke hari diikuti oleh kebaikan hati, keramahan, sopan santun dan tutur bahasanya yang lembut.


Keanggunan Putri Mandalika terpancar dari matanya yang diibaratkan sebagai bintang di timur, memiliki pipi bagai pauh dilayang dan rambutnya bagai mayang terurai. Putri kebanggaan dan kesayangan rakyat Tonjang Beru ini sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunannya terdengar oleh para pangeran - pangeran mulai dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, hingga kerajaan Beru.

Para pangeran bumi Sasak - Lombok mabuk kepayang. Mereka mengadu peruntungan untuk bisa mempersunting sang Putri yang karena halus perasaannya harus menampik semua lamaran yang datang pada ayahnya.


Ada yang pergi dengan pasrah dan kecewa.


Tidak demikian halnya dengan Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor dan Pangeran Maliawang dari Kerajaan Lipur. Mereka sangat murka. Dalam angkaranya Datu Teruna mengirim Arya Bawal dan Arya Tabuik, sementara Arya Bumbang dan Ayra Tuna oleh Maliawang diutus, dan dengan membawa ancaman yang serupa yakni akan menghancurkan kerajaan Tonjang Beru apabila lamarannya ditolak.


Kekerasan hati Putri Mandalika dengan tetap tidak memilih salah satu antara kedua pangeran tersebut membuat kemarahan keduanya memuncak.

Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra untuk memberi pelajaran pada sang putri. Keampuhan senggeger ini tak kepalang tanggung.


Wajah kedua pangeran itu selalu terbayang yang membuat sang putri tak bisa tidur, tak bisa makan, dan membuat tubuh sang putri kurus kering. Putri Mandalika tak mau menjatuhkan pilihan pada salah satu pangeran, dimana yang lain akan berduka dan marah. Tetapi di sisi lain, ia memikul tanggung jawab besar atas keamanan rakyat kerajaan Tonjang Beru pada ancaman keduanya.

Dalam kesedihan hati dan berat pikiran. Putri Mandalika mendapat wangsit hasil dari semedinya untuk mengundang semua pangeran dalam pertemuan bertanggal 20 bulan 10 (bulan Sasak). Semua pangeran yang hadir harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua undangan diminta datang berkumpul di Pantai Kuta.


Pada waktu dan di tempat yang telah ditentukan, Pantai Kuta bagai dikerumuni semut atas hadirnya 6 Pangeran dengan membawa rakyatnya yang terkumpul ribuan jumlahnya.Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan, mulai dari anak - anak sampai kakek - kakek pun datang dari seluruh penjuru Lombok dengan rasa penasaran atas apa yang akan dilakukan oleh Putri Mandalika dalam menentukan pilihan pendamping hidupnya.


Sebelum adzan berkumandang, dan persis ketika senja tiba, ia tiba dihantar memakai usungan berlapis emas, berkawal ketat prajurit pada sisi kiri, kanan dan belakang. Semua undangan terpana melihat kedatangannya dengan berbalut gaun sutra merah yang sangat indah sebagai pelengkap kecantikan dan keanggunannya.

Tak lama kemudian sang putri melangkah dan berhenti dan berdiri dengan anggun pada seonggok batu, membelakangi laut lepas. 


Ia melihat pada seluruh yang hadir dan mengumumkan keputusannya : " Aku tahu kalian semua mencintaiku dan menginginkanku menjadi istrimu. Tapi aku tidak bisa lakukan itu. Aku tak mau memilih, aku tak ingin kalian bertarung karena aku, dan aku tidak ingin kalian bersedih. Ayah, Ibunda, para pangeran dan seluruh rakyat Tonjang Beru yang aku cintai, aku telah memutuskan bahwa diriku adalah untuk kalian semua. Aku tak mampu memilih satu diantara pangeran. Aku merasa ini adalah takdirku untuk menjadi Nyale yang akan dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat Nyale bermunculan di permukaan laut."  


Belum pupus rasa heran dari wajah - wajah mendengar tutur kata sang putri, tanpa diduga - duga Putri Mandalika, kebanggaan dan kecintaan rakyat Tonjang Beru menyerahkan dirinya pada laut di tengah angin kencang yg menyertai gemuruh ombak bersahut - sahutan. Bingung dan kesedihan terpancar pada wajah - wajah yang tak melihat sementara suara kilat dan petir menjadi jawab rasa kehilangan mereka yang mendalam


Namun tak lama kemudian muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Mereka menduga itulah jelmaan sang putri sesuai apa yang telah diucapkannya. Dan seketika mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih san putri dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya untuk rakyat Kerajaan Tonjang Beru.

Acara Menangkap Cacing atau BAU NYALE (bahasa Sasak) menjadi salah satu festival di Lombok yang paling penting pun paling populer selain sering dipentaskan dalam drama lokal Lombok.


(NitNot-KK)


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads