Umum

KEMBALIKAN INDONESIAKU

KEMBALIKAN INDONESIAKU

Leonita Lestari

29 Oct 2021
 

Kami adalah pengusaha tambang.

Luas area Kuasa Pertambangan yang diberikan negara kepada perusahaan milik kami seluas 230.000 ha. 4 kali luas DKI jakarta dan masih jauh lebih luas dari rencana ibukota baru di Kalimantan Timur yang sekitar 180.000 ha.

Bersinggungan dengan 3 kabupaten 34 kelurahan dan 90 desa dengan penduduk kurang lebih 60.000 jiwa tentu memiliki kesulitan tersendiri yang harus kami atasi.

Gambar

Namun itu bukan pekerjaan mustahil bagi perusahaan. Yang penting untung kami berlipat lipat, maka apapun akan kami lakukan.

Teori kami sederhana, 

"Jangan pernah membuat mereka (warga) kaya".

Orang kaya, selalu akan minta lebih. Dan itu akan menyulitkan kami. Pengalaman sebagai penambang membuat saya begitu memahami karakter manusia tak peduli apapun agama, dan jenisnya, tidak banyak pengaruh.

Teori kami yang lain adalah, "Jangan pernah mencopet di tempat sepi. Bila tidak ada tempat ramai, ciptakan..!!"

Semua kami rangkum jadi satu kebijakan yang pada akhirnya membuat kami besar dan jauh meninggalkan semua pesaing kami. Saat pertama melakukan survey, kebanyakan hal kami kerjakan justru adalah mempelajari karakter warga setempat.

Banyak pertanyaan kami ajukan di sela-sela obrolan dengan mereka. Rata-rata mereka senang dan berharap daerah mereka akan menjadi maju dengan kehadiran kami. Namun tidak semua orang setuju dan senang dengan kehadiran kami. Janji manis dan santun selalu menjadi tema kami ketika silaturahmi. 

Warga senang...!!

Itulah kami...,pemberi mimpi.

Semua jawaban yang mereka berikan, kami olah menjadi panduan kami melangkah. Pertanyaan seperti pendidikan, pekerjaan dan ingin mendapatkan apa adalah basa basi. Kami hanya ingin tahu bagaimana cara kami masuk kemudian untung besar dan luar biasanya tetap menjadi pahlawan.

Gambar

Dan benar, kekuatan mereka adalah selalu agama. Mereka mau berbuat apapun demi agama dan keyakinan mereka. Mereka siap mengorbankan apapun demi surga yang mereka percaya.

Inilah pintu masuk sempurna.

Anehnya mereka tidak sadar bahwa kekuatan terbesar mereka adalah sekaligus kelemahan mereka. Jelas sudah apa yang harus kami berikan kepada mereka sebagai awal. Kami bangunkan rumah ibadah dan buatkan sekolah berbasis agama.

Guru kami datangkan dari agen yang sudah kami bentuk jauh sebelumnya. Pemuka agama kami sortir sesuai dengan misi perusahaan. Rumah ibadah terbangun....,sarana penyebaran faham dimulai.

Kini kami memiliki tempat untuk mengajarkan dan menyampaikan apapun dengan aman tanpa sensor. Perbedaan kami inisiasi, fanatisme kami bangun. Kebencian kami kembangkan, permusuhan kami jadikan alat membangun riuh.

Sekolah berdiri, pengkaderan pun dimulai.

Dalam waktu singkat jadilah kami pemilik dan pengendali kekuatan masa dengan militansi tinggi dan berbiaya murah.

Tidaklah mungkin mencopet di tempat sepi dan tenang, itulah gagasan yang kini kami bangun dan kembangkan di daerah ini. Keramaian dan keriuhan didasari perbedaan dan kebencian adalah keributan penuh kebodohan yang kami butuhkan.

Tidak ada nalar disana, dan itu jelas akan membuat suasana masyarakat tidak kondusif apalagi fokus. Situasi inilah yang kami dambakan. Sesaat mereka sibuk dengan narasi kebenaran dan jalan surga. Disaat lain persekusi mulai berlangsung.

Mereka saling memaki dan memaknai hidup mereka setiap hari dengan tindakan heroik demi panggilan agama. Mereka mendapatkan janji surga yang mereka idamkan, demikian juga kami, yakni jalan lapang menuju kaya. Sejak saat itu, dengan mudah kami bekerja tanpa gangguan apapun.

Ganti rugi lahan sudah tidak lagi rumit dan mahal karena mereka kini sibuk dengan mainan barunya dan berpikir kami adalah teman yang wajib dibela. Konsep ekosistem dan ramah lingkungan yang sangat mahal, tak lagi menjadi perhatian banyak pihak.

Biaya siluman, kongkalikong dengan oknum aparat daerah otomatis juga berkurang banyak karena aparat pun kini sibuk melerai pertikaian warganya. Siapapun menghalangi apalagi melawan kehendak kami, dengan mudah pemuka pemuka agama didikan kami akan segera tampil dan berdiri paling depan.

Mimbar dan demo menjadi dagangan kami dengan pengawalan para militan yang siap berkorban nyawa. Itulah gambaran singkat betapa mudah mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan agama. Intinya, perusahaan kami mendapat untung sangat besar dalam waktu singkat, disisi lain kami pun mampu mensejahterakan batin warga setempat.

"Adakah cerita itu menggambarkan kejadian nyata?"

Berawal dari ditemukannya ladang gas alam dengan kandungan sangat besar di utara Suriah yakni Levan, kapitalis barat bersama sekutunya di Asia barat yaitu Arab, Qatar dan Turki memprovokasi rakyat Suriah.

Diawali dengan isu Syiah dan Suni, munculah perang fatwa para pemuka agama. Bashar Assad seorang Syiah tidak pantas menjadi presiden dengan rakyat mayoritas Sunni, demikian isu dan narasi berkembang dengan cepat.

Sementara masyarakat sedang bingung terjebak situasi, militan dari seluruh penjuru Arab dan Afganistan masuk melalui Turki yang memiliki akses sempurna ke Suriah. Perang dengan tema Syiah dan Sunni merebak hampir selama 8 tahun dan membunuh lebih 500 ribu jiwa dan jutaan yang lain kehilangan rumah dan jutaan lagi yang lain terserak sebagai pengungsi di luar negeri.

Gambar

Agama dengan mudah menjadi pintu masuk sempurna bagi perampokan sumber daya alam di Suriah. Pembodohan dengan janji surga mengusir kaum Syiah telah memprovokasi kaum sunni di Suriah. Mereka juga rela menjadi pembunuh saudara sebangsanya demi agama namun secara tidak sadar justru telah membela dan memasukkan kapitalis asing yang berniat merampok sumber daya alam mereka.

Mereka korban provokasi orang-orang yang sangat mengerti bagaimana memanfaatkan agama demi keuntungannya sendiri. Rakyat Suriah telah bertindak bodoh dan terjebak pada janji surga dari fanatisme agama yang menjebak.

Gambar

Ini hanya contoh kecil, masih ada Afghanistan, Libya, Yaman, Mesir, dan negara -negara di Eropa timur sampai Afrika. Semua sengaja dibuat kacau balau. Saat kekacauan bergejolak, pencurian besar-besaran berlangsung.

Benar..., jangan pernah mencopet di tempat sepi.

Semua tentang bagaimana kapitalis barat dan sekutunya merebut sumber daya alam yang dimiliki negara-negara tersebut. Uighur di China, adalah contoh berikutnya. Usaha-usaha ke arah sana sedang dan akan terus dilakukan oleh kapitalis barat yang tidak pernah kenyang.

Demikian pula dengan Indonesia. 

Sejak lima tahun yang lalu, saat Jokowi mulai berkuasa, keributan-keributan entah dalam bentuk perang narasi kebencian, fitnah memfitnah, perang ayat adu fatwa bahkan sampai lapor melapor telah menjadi keseharian.

Gambar

Ini mirip sekali dengan kejadian di Suriah awal perang saudara. Indonesia telah menjadi target. Dimulai sejak perang Afganistan tahun 70-an, Amerika serikat secara benderang membantu pejuang Taliban dari penjajahan Uni Soviet.

Tahun 1989 Uni soviet hengkang dari Afganistan dan kemudian lahirlah Al Qaeda yang isinya adalah pejuang-pejuang yang berasal dari banyak tempat di kawasan Arab demi perang Afganistan dan konon menjadi proxy Amerika.

Teori memelihara, merawat dan mendidik pejuang dengan kedok islam dan kemudian mengirim ke tempat tempat konflik dimanapun dibutuhkan, biasa dijalankan Barat dan Arab Saudi. Arab Saudi dengan petro dolarnya adalah penyumbang terbesar.

Bantuan berupa pembangunan banyak rumah ibadah dan madrasah konon telah dilakukan Arab Saudi sejak tahun 90-an di seluruh dunia. Sejak saat itu faham wahabi bawaan Arab Saudi mendunia. Penerjunan milisi di manapun Amerika kehendaki, tak dapat disangkal terlihat pula pada konflik Eropa timur.

Negara-negara pecahan Uni Soviet menjadi korban pertama. Bosnia dan Chechnya adalah contoh dimana tiba-tiba perang berbau agama meletus dan kemudian muncul milisi-milisi berbendera agama dengan kelakuan jauh dari agamis.

Gambar

Ini adalah pola baru yang dipakai oleh kapitalis barat demi nafsu kekuasaannya. Mereka menggunakan proxy dalam rupa milisi yang didanai untuk menghancurkan negara dengan mayoritas penduduknya yang muslim. Negara-negara Islam menjadi korban milisi yang mengaku islam.

Di Indonesia, fenomena ini pernah muncul pada kerusuhan Poso 1998-2001 dimana tiba-tiba banyak milisi asing bermunculan disana. Sempat tenang saat SBY berkuasa, mereka melakukan konsolidasi. Mereka membuat jaringan makin rumit dan masif.

SBY yang sering kita dengar senang dengan teori dan prinsip tak ingin punya musuh, justru telah membuat kelompok itu menjadi makin besar. Mereka bersembunyi pada banyak organ milik negara. Konon, aliansi mereka pernah diidentifikasikan tampak dan hadir saat pilgub DKI. Dan tak butuh waktu lama, permusuhan sesama anak bangsa hampir membuat Indonesia terbelah.

Gambar

Indonesia tiba-tiba terjangkiti penyakit baru dan mengerikan, penyakit kebencian.

Dengan pembunuhan seorang jenderal Iran baru-baru ini, akhirnya si kapitalis ini harus membuka kedok selebar-lebarnya. Dia tidak bisa lagi bersembunyi sebagai negara di belakang ISIS di Irak, Al Qaeda di Afganistan maupun Boko Haram di Nigeria.

Jejaknya sangat nyata, negara-negara kapitalis barat jelas sebagai inisiator pembentukan negara berbasis agama. Kapitalis barat pada faktanya memang sangat diuntungkan dengan berdirinya negara agama bentukan seperti yang dilakukan IS*S di Irak.

Gambar

Mereka hanya perlu menaruh bonekanya menjadi pimpinan pada negara berbasis agama itu dan selesai sudah semua perkara.

Ingat bagaimana getolnya pemerintah kapitalis itu mengajak NU dan Muhammadiyah terlibat masalah Uighur? Bahkan sampai sekelas duta besar harus datang secara pribadi bukan?

Mereka gagal. NU dan Muhammadiyah bukan organisasi kemarin sore yang mudah dibuat terkelabui. Anehnya, yang sowan ke parlemen Amerika justru PKS.

Makin jelas siapa di belakang siapa.


(NitNot-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads