Umum

KASUS HUKUM RIZIEQ

KASUS HUKUM RIZIEQ

Leonita Lestari

27 Jun 2021
 

Seperti sebuah pertandingan, untuk sementara kemenangan ada pada pihak negara. Dalam 3 kali pertemuan, secara berturut-turut, sejauh ini negara masih tampak mampu mendominasi lapangan permainan. Tiga kali menang dalam tiga pertemuan. 

Hasil akhir dari pertandingan kedua tercatat lebih baik dari pertandingan pertama dan hasil dari pertandingan ketiga lebih baik dari hasil pertandingan yang kedua.

Pada pertemuan pertamanya PN Jakarta Timur sebagai wasit memenangkan negara dan memutus rizieq bersalah dengan denda 20 juta dan subsider 5 bulan tahanan.

 

Pada hasil pertemuan keduanya, dia kembali kalah dan harus menerima hukuman selama 8 bulan kurungan. Pada pertemuan ketiganya, sekali lagi dia harus menelan pil pahit dengan kekalahan makin menyakitkan yakni 4 tahun penjara.

 

Secara total, dari 3 pertandingan dia dihukum harus membayar denda 20 juta dan kurungan selama 4 tahun 8 bulan.

"Apakah masih ada perkara lain yang masih menunggunya?"

BANYAK!

Salah satunya adalah chat mesum yang kembali dihidupkan setelah sempat dinyatakan SP3 oleh penyidik Kepolisian.

"Koq jahat amat sih Jokowi? Lagipula, kenapa sih Polisi mau dijadikan alat oleh pemerintah?"

Jokowi jahat?

 

Bukankah Di tengah ketidakjelasan kasus chat mesum yang semakin membesar saat itu PA 212 menggelar pertemuan dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, pada 22 April 2018?

Ada tercatat sejumlah perwakilan PA 212 yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Slamet Maarif, Al Khaththath, Sobri Lubis, Yusuf Martak, Usamah Hisyam, dan Misbahul Anam.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201229172721-20-587529/kronologi-kasus-chat-rizieq-hingga-sp3-dibatalkan-pengadilan

Bukankah tak lama sejak pertemuan tersebut kemudian MRS sendiri mengumumkan bahwa kasus dugaan chat mesum juga telah di-SP3-kan oleh polisi?

"Hari ini kami mendapat kiriman surat asli SP3 kasus dan fitnah. Surat asli SP3 kasus dan fitnah. Surat asli SP3 Kasus dan fitnah yang dikirim oleh pengacara kami yaitu Bapak Sugito yang beliau dapat kan SP3 ini langsung dari penyidik," ujar MRS seraya mengangkat lembaran kertas yang ia sebut surat asli SP3 tersebut di rekaman video, 15 Juni 2018.

DALAM VIDEO TERSEBUT, RIZIEQ MASIH BERADA DI ARAB SAUDI.

Bukankah dengan demikian ada korelasi dapat ditarik bahwa justru pak Jokowi Lah yang telah membantu mereka? Mendengar keluh kesah mereka dan memenuhi permintaannya?

Bahwa kemudian ada warga negara yang marah dan tak puas dengan keputusan penyidik yang mengeluarkan SP3 chat mesum tersebut, itu cerita berbeda.

Si warga negara itu marah dan kemudian menggugat secara hukum keputusan subyektif penyidik kepolisian yang menangani perkara tersebut.

Kenapa dia marah? Karena dia pula sebagai pelapor perkara tersebut. Dia hanya merasa bahwa keadilan tak berpihak padanya karena perkara yang dilaporkannya sudah pada tahap penyidikan dan telah ada TSK kenapa tiba-tiba SP3? 

Dia menggugat Kepolisian Republik Indonesia atas ketidakadilan hukum yang dirasakannya dan itu disebut Praperadilan. Polisi dia pra peradilkan di PN Jakarta Selatan dan ternyata putusan hakim menyatakan Polisi bersalah. Polisi atau penyidik harus membuka kembali kasus tersebut.

Maka ketika logis hukum berbicara, Polisi atau penyidik harus kembali membuka apa yang telah mereka tutup. Itu perintah pengadilan yang harus dijalankan. Bahkan Presiden pun tak mungkin dapat intervensi pada wilayah yang bukan miliknya.

Artinya, bukan Presiden Jokowi punya ingin agar kasus itu dibuka kembali. Bahkan bila benar akibat pertemuan di Bogor itu bisa membuat SP3 perkara chat mesum MRS, Presiden pun justru kini sedang dimarahi sama Hakim pada perkara tersebut bukan?

"Jadi..??"

Ya lanjut..!! Perkara itu harus kembali disidik ulang, dan pengadilan adalah satu-satunya pintu untuk menguak tabir chat mesum itu benar ada atau tidak.

Kapan? Itu wewenang penyidik dan jaksa penuntut umum mempersiapkannya. Yang jelas, bila dahulu hal ini dibicarakan dalam bisik -bisik, pada sidang terbuka di Pengadilan akan dibicarakan menggunakan pengeras suara dan booster oleh media melalui kanal tv hingga media sosial.

"Ramai dong?"

Yang jelas, itu adalah tontonan 18 tahun keatas karena sensor tak tersedia dalam ranah pengadilan.

Bukan jumlah hukuman yang nanti bakal ditambahkan pada dirinya akan menjadi masalah, cela dan cibiran para penonton yang akan diterimanya lah yang akan sangat menghantuinya. 

Nama besarnya, wibawanya hingga gelar suci yang terlanjur melekat padanya langsung akan runtuh pada level paling rendah dalam kubang lumpur kehinaan.

(Nitnot-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads