Umum

Kami Mau Dukung Presiden Jokowi Atasi Pandemi, Kalian Mau Apa?

Kami Mau Dukung Presiden Jokowi Atasi Pandemi, Kalian Mau Apa?

Ni Komang Yuni Lestari

08 Jul 2021
 

Dalam kondisi pandemi seperti ini, seharusnya setiap elemen masyarakat, juga para pejabat, politisi, buzer, dan segenap antek-anteknya bahu membahu mengatasi wabah yang kian mengganas. Bukan malah bikin keributan dan menjadikan kekalutan orang-orang sebagai panggung politik, kemudian mereka tampil dengan segala pernak penik memuakkan yang dipertontonkan kepada publik.

Belum lagi orang-orang yang kerab bikin onar dengan berbagai pernyataan meresahkan. Mereka yang percaya konspirasi, tidak taat prokes, tidak senang dengan pemerintah, sampai mau ada rencana turunkan presiden segala. Mulai dari BEM UI yang menggelontorkan meme dan mengatakan Jokowi sebagai King Of Lip Service, yang mereka katakan sebagai kritik, namun yang lebih tepat disebutt sebagai hinaan itu, muncullah ajakkan demo besar tanggal 5 Juli lalu yang mengatas namakan BEM UI. Meskipun akhirnya mereka memilih untuk cuci tangan. Menampik kalau mereka yang menyebarkan ajakkan itu. Lalu mulai timbul tenggelam suara-suara sumbang yang berusaha menggerus citra pemerintah. Mereka tampil di sosial media dengan narasi yang sama. Menyerang dan berusaha membangun stigma negatif.

Ironisnya, tak ada solusi yang keluar dari mulut mereka. Kalaupun ada, solusi yang mereka berikan cenderung tidak masuk akal dan mengundang tertawaan. Seperti Rocky Gerung misalnya. Dia mengusulkan Presiden Jokowi turun dan digantikan oleh Anies Baswedan. Ia menilai bahwa pemerintah pusat menganggap mantan mendikbud RI itu sebagai pesaing dalam komunikasi publik, menyoal PPKM yang kembali diterapkan di pulau Jawa dan Bali. Hanya orang hilang akal yang mau menjadikan gubernur DKI itu sebagai presiden. Sepak terjangnya di DKI Jakarta saja sudah carut-marut, apa lagi kalau disuruh memimpin negara.

Lihat saja sosial media. Serangan demi serangan menyasar pemerintah. Tujuan mereka hanya satu, menggulingkan presiden dari kursi kekuasaannya. Orangnya ya itu-itu saja. Barisan pembenci Jokowi, mereka yang mau cari panggung untuk kepentingan politik, dan orang-orang yang sudah kebelet ingin berkuasa. Mereka adalah riak-riak tanpa arti yang berharap menjadi ombak besar untuk menggulung Presiden Jokowi.

Pun, kebijakkan PPKM yang bertujuan untuk menyelamatkan rakyat banyak masih saja disangkut pautkan dengan agama. Kata Waketum MUI, “Kalau Masjid ditutup, bangsa ini bisa dimarahi Tuhan.” Tapi jika mereka masih ngotot, mungkin saja merekalah yang dipanggil terlebih dulu oleh Tuhan.

Ada pula. Yang menjabat sebagai gubernur, dengan tanpa malu-malu, ngemis ke Dubes asing untuk penanganan wabah, padahal anggaran profinsinya lebih tinggi dari profinsi lain. Bikin malu Indonesia. Seorang pemimpin tapi kelakuannya seperti pemalas tukang palak negri ini di masa lalu. Kerjanya tak ada yang benar-benar nyata, hanya pencitraan saja kemana-mana.

Rakyat sudah sangat kelelahan.. Rumah sakit kewalahan. Sudah banyak rakyat dan nakes yang bertumbangan. Masih sempat-sempatnya orang-orang jahat itu wara-wiri sembari menunggangi berbagai kepentingan. Betul-betul tak punya hati.

Di saat-saat sulit seperti inilah kita bisa melihat mana pemimpin yang bisa bekerja dan mana pemimpin yang bisanya bacot saja. Pemimpin yang sungguh-sungguh berjuang bersama rakyatnya dan pemimpin yang sungguh-sungguh berjuang demi kepentingan politiknya.

Seberapapun gencar serangan terhadap pemerintahan Jokowi, tapi lebih gencar lagi orang-orang yang mendukungnya, yang percaya bahwa bliau bisa mengendalikan pandemi ini. Mereka sudah teriak-teriak dan berusaha menjatuhkan Presiden Jokowi, namun kepercayaan rakyat terhadap bliau tidak surut sedikitpun.

Rakyat Indonesia masih cukup waras untuk tidak ikut-ikutan bikin gaduh. Sebab mereka sudah merasakan sendiri betapa langkah pemerintah penuh dengan kehati-hatian, Menerapkan PPKM sebab Pemerintah masih cukup bijaksana untuk tidak menerapkan lockdown yang justru akan memperparah keadaan. Menyelamatkan perekonomian agar negara ini tidak kolaps, dan mempercepat faksinasi untuk kesehatan masyarakat. Sudah begitu, masih ada yang ngotot mengatakan bahwa Covid hanyalah konspirasi, tidak mau difaksin, dan menyebarkan hoax kemana—mana. Kalau virus sudah gencar merebak seperti sekarang, pemerintahlah yang disalahkan. Padahal imbauan demi imbauan sudah diberikan. Larangan mudik, taat prokes, dan percepat faksinasi. Masih saja ada yang melanggar.

Dalam kondisi kemelut seperti ini, sebaiknya kita fokus dengan pemecahan masalah, dan bukannya malah menambah masalah agar pandemi ini cepat usai. Taati prokes, ikut faksinasi, dan jangan mengacuhkan apa yang diselorohkan oleh para begundal profokator yang sama sekali tidak punya kontribusi untuk mengatasi pandemi, selain menjadi biang keributan dimana-mana.

Pemerintah juga harus tegas kepada mereka yang sering menyebarkan hoax, seenak perutnya melanggar aturan sehingga orang lain yang sudah mematuhi imbauan pemerintah dalam menekan penyebaran virus yang justru menjadi korban. Kalau pemerintah masih terkesan lunak terhadap begundal-begundal profokator itu, niscaya kepercayaan rakyat yang akan tergerus, sebab pemerintah tak bisa memberikan ketegasan bagi para biang onar yang gemar membikin keributan.

Mari bersama-sama bantu pemerintah. Taati prokes, ikut faksinasi, dan lawan profokator di jejaring maya yang senang bikin kegaduhan itu. Kita semua adalah elemen terpenting bagi Indonesia untuk mengatasi pandemi ini.

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads