Umum

Jokowi, Presiden Kita Yang Kurus Itu Memang Pemberani

Jokowi, Presiden Kita Yang Kurus Itu Memang Pemberani

Ni Komang Yuni Lestari

20 Oct 2021
 

Selama bertahun-tahun setelah Indonesia merdeka, kita belum pernah benar-benar berdiri dengan kaki sendiri. Menengadahkan kepala dan berbangga hidup di bumi pertiwi. Boleh jadi kita telah memiliki kedaulatan atas negri ini, namun pada nyatanya mental-mental para pejabat kita masih macam orang terjajah yang rela menyerukan kebodohan mereka dibawah kaki-kaki Para Elite demi uang dan kekuasaan.

Berpuluh tahun negara ini dipimpin oleh pejabat yang sibuk dengan periuk belanga mereka sendiri. Perut mereka kenyang, maka mereka diam. Masa bodoh dengan kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Dengan tenang mereka disuapi oleh negara asing dan membiarkan negaranya terbelakang sementara sumber daya alamnya dikeruk habis-habisan. Tambang Freeport di Papua dibiarkan dikuasai asing selama bertahun-tahun.

Mengekspor biji nikel mentah dengan nilai jual yang rendah, kemudian membeli barang jadi yang nilai jualnya bisa dua kali lipat lebih banyak. Terus saja begitu selama berpuluh tahun, dan Indonesia tetap menjadi negara yang begitu-begitu saja. Dalam hal ini, banyak pejabat dan mavia yang bermain dengan komisi. Mereka dibiarkan kekenyangan agar tak bicara dan mengubah keadaan. Sumber daya alamnya di keruk, sementara negaranya tetap terbelakang dalam hal kemajuan teknologi maupun ekonomi.

Hingga kita punya seorang Joko Widodo, yang telah membawa negara ini menjadi lebih baik selama tahun-tahun kepemimpinannya. Lelaki kurus asal Solo itu sering dikatai Presiden Planga-Plongo, Ndeso, Tukang Kayu, dan sebutan apa lagi? Tetapi, lihatlah apa yang telah dia lakukan untuk menegakkan kewibawaan negara ini dihadapan dunia internasional.

Presiden Jokowi membangun infrastruktur dimana-mana, membuat perekonomian dan pembangunan mulai tumbuh dan mengubah kehidupan rakyat banyak. Dia merebut kekayaan milik negri ini yang telah berpuluh tahun dikuasai asing dengan memiliki 51% saham tambang Freeport. Selain itu, pada januari 2020 lalu, Presiden Jokowi telah mengeluarkan aturan untuk menghentikan ekspor biji nikel dalam bentuk mentah.

Yang boleh di ekspor hanya dalam bentuk jadi ataupun setengah jadi, yang tentu saja menaikkan harga jualnya. Wal hasil, Eropa, yang selama ini mengimpor biji nikel dalam bentuk mentah untuk pabrik-pabrik bajanya dengan harga yang murah, kontan saja marah besar dengan langkah yang diambil Presiden Jokowi.. Setelah aturan itu keluar, mereka langsung menggugat Indonesia ke WTO, World Trade Organization, atau Organisasi perdagangan dunia. Karena dianggap mematikan industri baja di Eropa .

Lihatlah Presiden kita yang kurus yang sering dikatai Planga-Plongo itu. Dia sama sekali tidak gentar. Dia berdiri tegar, menegakkan dirinya dan menunjukkan bahwa negaranya punya wibawa dimata Internasional dengan menantang Eropa dan mengirimkan pengacara kelas dunia untuk membela Indonesia di pengadilan. Ini bukan saja menyoal potensi kemenangan yang lebih besar, tapi ini tentang harga diri dan menunjukkan bahwa Jokowi tak pernah main-main dengan kebijakkan yang ia buat di negaranya.

“Nikel-nikel kita, barang-barang kita, terserah kita mau kita bikin pabrik di sini, mau kita bikin barang di sini, hak kita, dong. Sekali lagi, kita harus berani.” ujarnya dengan lugas.

Pembangunan Smelter tembaga PT Freeport Indonesia Di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE,Gresik, Jawa Timur yang bernilai 42 Triliun rupiah itu adalah salah satu bukti ke-genius-an Presiden Jokowi. Selain digadang-gadang sebagai Smelter terbesar didunia, pendapatan yang dapat diperoleh dari Smleter ini bisa sampai senilai Rp 77.000.000.000.000 pertahun. Setelah rampung, Smlter ini dapat mengolah 1,7 Juta Ton Konsentrat tembaga menjadi 600.000 ton katoda Tembaga pertahun. Tidak hanya memproduksi katoda tembaga, di Smelter ini juga terdapat fasilitas pemurnian logam berharga seperti emas, perak, dll.

Dengan segala hal yang telah dibangun dan dikerjakan oleh Presiden Jokowi, dia menunjukkan bahwa Indonesia tidak akan lagi dijajah, dibodohi, dan bisa dikeruk kekayaan alamnya dengan menyuapi mulut-mulut para pejabatnya dengan cuan. Presiden Jokowi adalah Presiden Jokowi. Dia bekerja untuk rakyat dan negrinya, bukan untuk mengenyangkan perutnya dan para koleganya. Dialah Presiden Jokowi. Dia adalah Putra bangsa ini. Dia bekerja tulus dan melakukan yang terbaik untuk Indonesia.

(Komang Yuni-KK)



Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads