Umum

JENTIK JARI

JENTIK JARI

Leonita Lestari

04 Jul 2022
 

Cukup dengan satu jentikan jari, serta merta dunia pun berubah. Hanya karena satu jentikan jari Thanos, wajah semesta konon tidak lagi sama. 

Seperti antiklimaks dan berbalik drastis, dalam megah dentuman suara sound system Film Infinity War pada seri Avenger, pada akhirnya, lembut suara "klik" justru menjadi puncak film tersebut.

Dan layar panggung pun ditutup tanda pertunjukan berakhir. Dan drama yang sesungguhnya pun segera saja berpindah dalam bincang seru di meja makan, cafe, warung bahkan hingga menjadi tema sebuah pidato politik.



Kita terhenyak pada satu bunyi "klik" yang seolah gak bermakna namun pada fakta sebenarnya telah membawa dampak luar biasa hebat. Yang terjadi, pada cara kita hidup saat ini, satu jentikan jari yang sama, adalah bukti Thanos benar.

Satu jentikan jari anda pada kolom share atau OK pada ponsel anda, saat ini, dapat menjadi apa saja. Anda tertawa, marah, menangis atau bahkan berakibat masuk penjara, itu benar dapat terjadi hanya dengan melakukan hal itu.

Mereka yang abai, mereka yang tak ambil pusing atau bahkan mencibir sinis fenomena kekinian itu dijamin hanya akan berakhir pada PENYESALAN. Mereka hanya sedang akan tergusur.

Maka, ketika 5 atau 10 tahun yang lalu kita tiba-tiba berada pada satu pilihan harus berlomba merebut masa depan, berebut investasi paling masuk akal, merebut potensi untung yang paling dapat diandalkan dalam jangka panjang, nalar yang sama bahwa dunia sedang menuju satu bunyi "klik" seharusnya adalah target itu.

Dan benar saja, siapa yang hari ini menuai untung paling besar adalah mereka yang mendapat "klik" paling banyak. Dia yang panen dalam jumlah berlimpah adalah dia yang mampu merebut keindahan makna "klik" dengan banyak inovasi tak kenal lelah demi semakin mudah, semakin cepat dan semakin dekat dengan target.

Dia yang sadar potensi masa depan adalah pemenang. Ini adalah jaminan pasti tanpa tendensi apalagi hanya sekedar basa basi. Inovasi adalah kunci dari semua itu.

Saat fakta harus dibuka, saat bicara harus berdasar data, keseharian adalah bukti paling dapat diandalkan. Di sana, dalam keseharian kita, "klik" jari kita dapat dijadikan rujukan.

Data berkata bahwa transaksi e-commerce di Indonesia tumbuh dengan signifikan. Data bercerita bahwa nilai transaksi pada bisnis itu terus meningkat selama lima tahun terakhir. Artinya, dia yang berinvestasi pada jalur tersebut jelas adalah pihak yang tahu arah.

Online marketplace adalah salah satu pemain terbesar dalam bisnis e-commerce Indonesia, dimana salah satu platform yang paling banyak digunakan untuk berdagang secara online di Indonesia adalah marketplace.

Merujuk data yang dihimpun iPrice, pada kuartal II 2021, di sana ada nama Tokopedia. Dan ternyata Tokopedia adalah e-commerce yang mendapatkan pengunjung atau visitor web bulanan terbanyak di Indonesia.

Total pengunjung Tokopedia mencapai 147.790.000 rata-rata bulanan jauh meninggalkan pesaing utamanya dimana kunjungan rata-ratanya hanya sebanyak 126.996.700 per bulan.

Iya, itu adalah data dan fakta bahwa cara hidup kita memang sudah mulai berubah. Perilaku kita berbelanja berpindah dari terbiasa "kunjung" menjadi "klik". Itu sekaligus bukti bahwa dia yang paling banyak dikunjungi adalah dia yang tahu dengan sangat baik apa itu perubahan.

Pun saat ingin makan, bepergian bahkan bayar membayar. Ada nama GoFood yang mendekatkan warung makan dengan kita dan Gojek atau GoCar kita "klik" saat parkir adalah salah satu gangguan paling menyebalkan misalnya.

Ada lagi GoPay yang hadir saat anak-anak kita ingin makan bareng teman dan namun harus urunan. Siapa pemilik dana GoPay pada aplikasi Gojek dapat menjadi eksekutor. Itu demi makin mudah bukan?

"Tapi kenapa banyak orang nyinyir pada Telkomsel terkait investasi mereka pada GoTo?"

Ketika itu masuk ranah politik, apa saja selalu berubah warna menjadi abu-abu. Tak ada lagi pekat hitam dan putih sebagai warna yang seharusnya benderang. Abu abu menjadi ruang nyaman mereka yang tak punya pendirian tetap.

Anda tahu siapa orang terkaya di Indonesia selama 12 tahun berturut-turut? Kakak beradik Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono pemilik Djarum itu duduk pada urutan 1 dan 2 tanpa tanding. Keduanya pasti orang luar biasa jago dalam bisnis.

Saat Djarum memilih GoTo sebagai salah satu saham yang dibidiknya, hanya orang sok tahu saja yang bilang GoTo ga bagus apalagi ga beres. Apalagi kalau sosok yang omong adalah politisi kaga jelas macam Didu, kita tahu kerisauan macam apa yang ada dalam dirinya.

Beberapa nama besar lain yang juga memilih GoTo sebagai saham pilihannya adalah Astra International, ADIA, SoftBank, Sequoia Capital, Alibaba, Mitsubishi, Google, dan Visa. Ini membuktikan bahwa ekosistem GoTo memang sangat menarik dan menjanjikan dong?

Saat orang lebih mengerti ayam tepung goreng kering dengan nama ayam Kentucky, saat air putih botolan seolah identik dengan Agua, saat tahun 70an setiap motor disebut Honda, saat ini, saat kita butuh pergi, entah kenapa nama Gojek dan GoCar langsung disebut. Saat kita ingin beli barang, entah kenapa Tokopedia otomatis kita "klik".

Itu soal branding yang sudah mengakar dan entah kenapa seolah telah menjadi kosakata baku dalam benak kita. Itu sekaligus soal nama dari sebuah merek yang telah TERBUKTI. Itu juga soal investasi yang sudah BENAR.

Sementara politisi oplosan masih senang berteriak tanpa juntrungan, anak saya, ibu anda, nenek, kakek, om, tante, adik kecil kita sibuk mencari dan kemudian memutuskan untuk pencet tombol OK dan lalu bunyi "klik" kita dengar. Dan hidup kita pun berubah, semua jadi terasa semakin mudah.

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/GrRHn0mW9k0



Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads