Umum

JANGAN BIARKAN KERETA ITU LEWAT

JANGAN BIARKAN KERETA ITU LEWAT

Leonita Lestari

24 May 2021
 

Kereta malam Jakarta Jogja akan harus sudah berangkat pada pukul 20.00 WIB dari stasiun Gambir Jakarta Pusat. Tak ada regulasi atau tawar menawar dalam bentuk apa pun terkait dengan jadwal tersebut. 

Selalu tepat waktu, dan bila delay terjadi pasti karena masalah teknis. Pasti bukan karena sebab menunggu seseorang yang terlambat misalnya. 

Kereta itu berjadwal ketat demi sebuah kepastian. Ada sebuah keharusan yang nilainya lebih dari apa pun selain keselamatan.

Siapa yang boleh ikut, tentu dia yang memenuhi syarat dan ketentuan. Dia yang memiliki dokumen, dia yang juga sudah beli ticket, dia yang sudah reservasi sebelumnya, dan dia yang datang tepat waktu. 

Artinya, ada sebuah aturan dibuat dan dijadikan tolok ukur bagi berlakunya sebuah kondisi.

Demikianlah jaman berubah. Dia hanya terus bergerak ke depan. Tak ada istilah menunggu dikenal dalam kamusnya. Siapa tak memenuhi syarat, apalagi mereka yang senang menunda dan datang terlambat, dijamin tak akan pernah terangkut. Dijamin akan selalu tertinggal.

Dunia memiliki banyak catatan sejarah tentang perubahan jaman itu. Perubahan yang bersifat tiba-tiba itu sering kita kenal dengan sebutan "Revolusi". Sebuah kondisi berupa perubahan radikal yang membawa dampak sangat nyata dalam cara kita hidup bersama.

Ingat Revolusi Kemerdekaan kita pada tahun 1945? Itu adalah pemaknaan kita bersama atas sebuah kondisi dimana 16 Agustus 1945 kita masih belum bernama dan dijajah, dan pada 17 Agustus kita sudah merdeka dan memiliki nama negara Indonesia. 

Ada sebuah perubahan sangat signifikan dan sekaligus membawa dampak radikal bagi cara kita hidup bersama dalam berbangsa dan bernegara.

Bahwa peristiwa Kebangkitan Nasional pada 1908 dan Sumpah Pemuda 1928 adalah bagian melekat atas dimungkinkannya terjadi peristiwa Proklamasi yang berakibat muncul makna revolusi, itu adalah cara sejarah menulis catatan sebagai logis sebuah peristiwa demi keterkaitan sebab akibat. 

Ada sebuah proses perubahan, namun berjalan dengan cukup cepat bukan? Dalam rentang umur kita sebagai manusia bukan? Itulah cara kita membuat deskripsi tentang revolusi sebagai antitesa evolusi.

Sejarah dunia pun pernah mencatat adanya Revolusi Industri. Di sana juga ada catatan tentang Revolusi Teknologi dan Revolusi Digital yang sekali lagi memiliki dampak sangat nyata bagi cara kita hidup bersama.

"Apa makna revolusi-revolusi tersebut bagi kebersamaan kita Indonesia?"

Saya, anda dan kita semua yang tak saling kenal, hari ini dan setiap hari, ternyata telah masuk pada makna revolusi itu. 

Kita yang tak sekalipun pernah saling bertatap muka atau tak pernah saling mendengar suara kita masing-masing satu dengan yang lain, ternyata mampu berkomunikasi secara intens dan setiap hari melalui FB, twitter dan banyak aplikasi yang lain. 

Wajah dunia kita tiba-tiba berubah sangat drastis. Dia mengecil secara dahsyat. Dia membawa dampak pada cara kita hidup secara langsung, sekaligus dan seketika. Dia juga akan menentukan posisi kita, terbawa atau tertinggal. Muncul atau justru tenggelam. 

Itulah Revolusi 4.0 sebagai penamaan atas periode ini.

"Loh koq tiba-tiba Revolusi 4.0, kapan 1, 2.dan 3 nya?"

Suka tidak suka, siap tidak siap, kita sudah dibawa dan sampai pada periode itu. Kita tak siap, sama artinya kita akan tertinggal. Dan akan makin tertinggal bila kita abai apalagi senang dengan terlambat.

Bahwa ada fakta terlihat dimana saat dunia sedang bergerak maju dan entah kenapa kita justru ingin mundur, itulah tantangan kita bersama saat ini. 

Jaman batu atau periode dimana segala sesuatu terkerjakan hanya dengan mengandalkan otot dan tenaga fisik, tampaknya sedang dijadikan tempat dimana kita mengarah oleh pihak-pihak tertentu dengan maksud tak baik.

Suka tidak suka, dunia sedang mengarah pada titik dimana eksistensi keterbatasan kita sebagai manusia digugat. Dia ditantang masuk pada situasi yang kemarin dikatakan sebagai "tidak mungkin".

Perempuan seperti siapakah sanggup angkat beban 5 kali lipat berat tubuhnya? Dulu hal itu tak mungkin terjawab. Bila toh ada, satu diantara sejuta. 

Hari ini, jangankan 5 kali lipat, 10 bahkan 100 kali lipat berat tubuhnya dengan mudah kita dapatkan. Suruh saja dia menjadi operator crane di pelabuhan. Hanya dengan pencet tombol, semua terangkat. 

Artinya, keterbatasan fisik kita bukan lagi menjadi hambatan. Revolusi dalam hal teknologi mekanik telah menyelesaikan satu hambatan atas keterbatasan kita, fisik.

Ketika fisik telah terbantu, revolusi berikutnya adalah keterbatasan otak kita. Kini, kita telah, sedang dan akan membuat kemampuan otak kita melampaui kemustahilan. Melampaui takdir atas keterbatasannya. 

Secara umum, revolusi 1.0 hingga revolusi 4.0 adalah tentang usaha ras manusia dalam mengalahkan kemustahilan atas ruang keterbatasan manusia itu sendiri.

Revolusi 1.0 dimulai ketika seorang James Watt menemukan mesin uap. Eropa berubah drastis. Skala produksi dari sebuah industri hingga hal-hal yang berhubungan dengan teknologi mekanik langsung memberi dampak. 

Apa yang kemarin dilakukan tangan, kini diganti mesin. Dengan mudah dapat kita tebak bahwa revolusi itu langsung merubah wajah Eropa.

Berbeda dengan Eropa yang mendapat imbas positif. Kita, Indonesia saat itu, justru sebaliknya. Mesin uap memancing terciptanya kapal tanpa layar telah membuat VOC semakin hebat menjarah bumi kita. Waktu tempuh dan cuaca bukan lagi halangan bagi kapal dengan tenaga mesin uap tersebut.

Revolusi 1.0 adalah tentang fase dimana keterbatasan fisik manusia bukan lagi sebagai hambatan.

Revolusi 2.0 tak dapat dipisahkan dengan ditemukannya listrik. Amerika memanfaatkan ini dengan baik. Revolusi teknologi ini mampu membuat jalur produksi menjadi sangat cepat dan efisien. Conveyor belt dibuat dan Ford sebagai pabrikan mobil langsung merubah paradigma tentang apa itu industri massal. 

Otomatisasi mesin secara mekanikal sekaligus elektrikal dimulai. Kemampuan otak manusia yang terbatas mulai dibantu dengan hadirnya proses otomatisasi tersebut. Belum canggih, namun cukup membantu mengalahkan faktor error karena lelah otak.

Secara perlahan teknologi analog mulai masuk dalam rangka mempelajari dan kemudian meniru secara sederhana konsep dan kemampuan otak manusia.

Digitalisasi adalah hal berikutnya. Revolusi 3.0 masuk dengan cara lebih mengejutkan. Robot dan kecerdasan buatan tampil dengan skala massif. 

Ketepatan, akurasi, presisi dan tak kenal kata "capek" dari kecerdasan buatan jelas bukan lawan dari kodrat makhluk biologis bila daya tahan adalah parameternya. 

Revolusi 3.0 hadir dan kita takut? Bagi sebagian dari kita mungkin ya. Dibuat seolah tiba-tiba harus langsung berhadap-hadapan dan bersaing dengan robot yang disisipi Artificial Intelligence (AI), jelas bukan perkara mudah.

Belum kita dibuat lega dengan bagaimana cara kita mengantisipasi kemajuan luar biasa atas capaian teknologi itu, Revolusi 4.0 sudah hadir dan masuk dalam ruang hidup kita. 

Internet of Things (IoT), itulah makhluk menakutkan tersebut. Dan itu jelas akan jauh lebih dahsyat dibanding robot yang sekedar pintar.

Industri 4.0, dijamin pasti akan menggunakan komputer dan robot ini sebagai dasarnya.

Kemajuan teknologi itu mau tak mau pasti akan menciptakan ribuan sensor baru dan berakibat pada munculnya ribuan cara baru untuk memanfaatkan informasi yang didapat dari sensor-sensor tersebut. 

Dia akan merekam segalanya selama 24 jam sehari tanpa pernah capek. 

Dengan machine learning, yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar, yang bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga kemudian akan melakukan koreksi atas kesalahannya demi memperbaiki hasil berikutnya, dan disisipkan pada robot tersebut, mm..pasti luar biasa.

Ini adalah proses alamiah milik manusia yang kini sudah mulai diambil dan ditiru oleh robot dengan kecerdasan buatan itu. 

"Apa yang harus kita lakukan?"

Menolak, jelas hanya akan membuat kita makin tertinggal. Menerima, namun disisi lain banyak saudara kita mencoba menghambatnya, itu adalah tantangan kita bersama hari ini.

Ada kalanya ketika kita harus berani membuat sebuah keputusan, bukan tentang masalah senang dan tidak senang. Bukan pula tentang membuat semua pihak puas. Mungkin skala prioritas yang lebih besar harus mulai kita pikirkan.

Biarkan mereka tertinggal bila memang harus, karena kereta memang tak memiliki regulasi menunggu bukan? Demikian pula jaman. 

Bukankah kereta itu juga memiliki syarat dan ketentuan? Tidak semua orang harus diangkut apalagi mereka yang tak ingin.

"Mungkinkah periode pak Jokowi yang hanya tinggal 3,5 tahun ini mampu membuat kita mengejar?"

Paradigma, mungkin pemahaman itu yang akan harus sudah selesai. Paradigma bahwa Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa sedikit pun jurang pemisah muslim non muslim, jawa non jawa hingga pri dan nonpri adalah kunci kita bersama. Di sana ribut kita tentang hal yang bukan esensial tak lagi kita dengar, akan membuat kita berjalan layaknya di jalan tol.

Ini jelas bukan pekerjaan satu dan tiga tahun selesai, ini tentang pencapaian logis yang juga harus dipertimbangkan dengan cara-cara logis meski hanya demi perkiraan.

Dengan infrastruktur tergelar rapi berupa jalan, pelabuhan, bandara hingga regulasi tepat dari Pemerintah saat ini, dengan kekayaan SDA yang berlimpah, dengan SDM yang mumpuni, dan terakhir dan bahkan sangat penting adalah tentang Presiden berikutnya yang melek dan paham arah kemana dunia ini akan bergerak, seharusnya itu bukan hal sulit. 

Kita memiliki kesempatan besar bahkan bila harus memimpin misalnya.

"Pengganti pak Jokowi?"

Bukankah baru pada tahun 2030 nanti negara kita diprediksi akan menempati 5 atau 6 besar dunia? 

Secara konstitusional Presiden Jokowi akan harus melepas jabatan pada tahun 2024 bukan? 

Siapa paling tepat menggantikannya pada 2024 kelak agar pada tahun 2030 gelar itu tak lewat, seharusnya adalah sosok yang paham dan tak buta arah pada kemana dunia sedang bergerak. 

Revolusi industri 4.0 masih akan terus bergerak dan memberi warna dominan pada dunia kita meski Jepang telah mulai membahas Revolusi Industri 5.0.





Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads