Umum

JANGAN BIARKAN DIA BERJALAN SENDIRIAN

JANGAN BIARKAN DIA BERJALAN SENDIRIAN

Leonita Lestari

12 Jan 2022
 

Kenapa kita terlalu cepat bereaksi ketika pada kulit wajah kita muncul jerawat, bercak apalagi goresan? 


Buru-buru mencari dokter dengan biaya tak sedikit jelas bukan masalah. 


Mengapa ketika batuk atau dada kita sesak kita lebih toleran dan dengan mudah berpikir bahwa itu kejadian wajar yang akan sembuh dengan sendirinya?


Ancaman yang terlihat lebih mudah menjadi perhatian. Yang tak terlihat, selalu ada tawar menawar. Ada kecenderungan untuk mengabaikannya.


Padahal, bukankah hampir tak ada orang meninggal karena jerawat? Yang dimulai dengan gejala batuk, banyak.


Alamiah kita berbicara seperti itu. Cara kita berantisipasi, selalu terkait dengan kebiasaan kita.


Pada orang bertato di terminal kita langsung membuat antisipasi dan pada mereka yang berdasi dengan parfum semerbak (kini berjubah dan tampak agamis) dibumbui mulut manis kita serahkan uang kita untuk dikelolanya. 


Padahal, seandai si preman bertato itu benar perampok, dia hanya mengambil apa yang ada pada kita saat itu. Kita tak serta merta menjadi miskin gara-gara dirampoknya. 


Pada penipu dengan label bankir, agen asuransi hingga manajer investasi, kita justru mengundangnya masuk. Cara mereka tampil tak mudah membuat kita curiga. 


Dan kita tahu, banyak sudah orang atau korban yang menjadi gila gara-gara tercebur di sana. Dari dalam, mereka menghajar kita hingga titik tak tahu jalan pulang.


Demikian kira-kira apa yang terjadi pada kita saat ini. Pada bangsa kita saat ini. Kita dalam tahap batuk-batuk. Sesak nafas yang kadang terlihat, semakin membuktikan bahwa kita tidak sedang dalam keadaan baik-baik.


Wajah kita memang kinclong. Kita sudah berdandan dengan hal luar biasa dalam infrastruktur. Boleh dibilang, hampir tak ada lagi tempat yang tak terjangkau. Dan itu salah satu alasan sehingga kita mampu menarik minat banyak investor hadir. Itu juga salah satu alasan kenapa negeri ini tiba-tiba dikenal dan dibicarakan oleh banyak bangsa asing di dunia.


Tujuh tahun sudah Presiden Jokowi membangun negara ini. Tujuh tahun sudah kita mencoba menemaninya dengan menggalang dukungan agar beliau tak diusik secara berlebihan. Musuh politiknya terlalu banyak dan kuat. Kehadirannya telah membuat banyak pihak tak senang dan marah.


Mereka menuduhnya tak berpihak pada mayoritas. Mereka mendiskreditkannya sebagai bagian dari PKI. Bahkan mereka senang mengumpat padanya dengan julukan antek asing.


"Loh bukannya pak Jokowi sudah menang telak? Bukankah HTI dan FPI sudah mampu dia bubarkan? Ga ada dong alasan kita batuk-batuk apalagi sesak nafas?"


Mereka memang tampak. Mereka terlihat mengancam dan maka kita bergandeng tangan melawannya. Rumah tempat mereka berlindung dan bernaung telah kita bongkar dan mereka tercerai berai.


Kita fokus pada yang terlihat. Kita tergoda membuat prioritas dan kemudian melawan mereka yang berteriak. Kita tertawa dalam euforia kemenangan.


Ketika berita bahwa Presiden marah karena ada waduk terbangun tapi tanpa hadir di sana aliran primer, sekunder dan tersier, kita abai.


Ketika Presiden terkejut adanya pelabuhan terbangun tanpa akses jalan kita masih tak mengerti.

Ketika bandara terbangun dan beberapa diantaranya juga tak dilengkapi dengan infrastruktur pendamping dan maka bandara itu seolah sia-sia terbangun, kita hanya terheran.


Ketika proyek LRT yang konon berbiaya 31 triliun yang seharusnya adalah proyek B2B dan entah kenapa tiba-tiba pada akhirnya dibiayai negara dengan APBN, kita mulai bertanya.


Ketika Perpres harus dibuat untuk merubah skema B2B pada Proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan kemudian dibiayai oleh APBN, kita mulai sadar bahwa ini ada hal tak beres.


Ketika UU Ciptaker ternyata dianggap tak sah oleh MK, kita baru ingin mencari tahu ada apa dengan semua ini.


Dimulai dari batuk-batuk kecil dan sesak nafas dengan diterimanya gugatan UU Ciptaker oleh MK, seharusnya menyadarkan kita bahwa kita tidak sedang dalam kondisi baik-baik.


Ada semacam penyakit dalam yang tak boleh dianggap remeh. Ada terlalu banyak tumor telah mulai membesar dalam banyak organ tubuh kita. Dan itu bukan dilakukan oleh oposisi atau mereka yang secara benderang melakukan perlawanan.


Pun pada yang menggugat UU Cipta Kerja ke MK ini, mereka bukan oposisi. Bukan pula Ormas yang tak suka pada pemerintah. Mereka warga biasa yang merasa dirugikan. 

Memang benar bahwa menurut MK materi UU itu tidak bertentangan dengan UUD '45. Menjadi masalah adalah terhadap pembuatan UU itu sendiri. UU ini dianggap melanggar prinsip pembuatan UU yang diatur dalam UUD '45. 


Bukan para penggugat ini adalah musuh negara, para pembuat UU ini sangat mungkin terlalu mengabaikan banyak hal. Dibuat terburu buru. Produk legislasi itu dianggap tak melalui prosedur standar. Dibuat dengan cara yang dianggap tak sesuai prinsip UUD '45.


Dan MK memberi waktu 2 tahun pada pemerintah untuk memperbaikinya.


"Mungkinkah?"


Secara keseluruhan, ada 1.203 pasal dari 73 undang-undang terkait. Dengan cara normal, itu tak mungkin dapat dilakukan. Kenapa, bukankah tahun depan semua partai telah mulai konsolidasi pada persiapan pemilu 2024?


Di sisi lain, bila menggunakan asas formil pembuatan UU sesuai rujukan MK, itu akan memerlukan waktu yang sangat lama. Sosialisasi terhadap UU itu harus dihadirkan dimana para pihak yang berkepentingan harus diundang dalam dengar pendapat. Dan itu belum tentu mereka setuju.


"Trus gimana?"

Tak ada jalan mudah. Tantangan orang baik itu terlalu besar. Bila pada akhirnya UU Ciptaker ini harus dibatalkan karena tenggang waktu 2 tahun yang diberikan MK untuk memenuhinya terlalu sulit dilakukan, ya kita kembali pada era peran raja-raja kecil di daerah yang semakin besar. Kita kembali ke jaman jahiliyah dimana bancaan aset negeri ini dapat dibuat di setiap sudut negeri.


Ya, selama dua tahun kedepan, dunia usaha sepertinya akan menghadapi ketidakpastian. Mereka akan wait and see sembari melirik dimana tempat terbaik untuk pindah.


Dan itu adalah bukti bagi kita yang ingin negara ini maju bahwa negara ini tidak sedang dalam kondisi baik baik saja. Tapi Ini sangat baik bagi mereka yang senang dengan suap menyuap. Senang dengan bisnis rente. Mereka sedang bersiap membagi jarahan kue besar bernama Indonesia.


"Serius ga ada lagi jalan keluar?"

Pak Jokowi adalah ahli strategi. Dia sosok tak mudah ditebak. Dia pasti sudah siap dengan semua ini. Pasti ada kejutan sebelum jabatan beliau berakhir di 2024 nanti. 

Dan itu menuntut peran serta semua pendukungnya untuk tetap solid. Saya, anda dan kita semua justru harus hadir pada saat seperti ini. Jangan biarkan dia memanggul beban itu sendirian.


(NitNot-KK)



Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads