Umum

JALAN PANJANG DEMOKRASI KITA

JALAN PANJANG DEMOKRASI KITA

Leonita Lestari

25 May 2021
 

Ketika kamu lelah, istirahatlah. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, bukalah lebih lebar pintu hatimu dengan apa itu makna teman.

Ketika penat melanda pikiranmu, ketika semua peristiwa tampak seolah menyatu dalam rumit tumpang tindih jejak yang tak lagi mudah diurai, mundurlah.

Seperti ketika kita berada dalam pusaran air, di sana, hanya ada dinding berputar tertampak dan kita lalu terjebak pada pengulangan dan pengulangan. Selalu dan selalu, dan hanya peristiwa-peristiwa itu saja yang hadir dalam putaran waktu kita dan kita merasa hilang. Kita terjebak... 

Menjauhlah... meski hanya sejenak.

Ya.. sepertinya kita memang butuh menjauh meski hanya sejenak dari riuh suasana kita dalam debat tak berkesudahan atas esensi menjadi lebih baik menurut kita dan makin jelek bagi saudara kita yang lain atas kemana arah kita sedang akan melangkah.

Kita butuh meski sesaat demi sejenak berhenti, pun bila perlu mundur setapak dan kemudian menengok kembali di mana titik kita mulai melangkah sebagai pengingat telah sejauh apa kita sudah berjalan.

Soekarno Presiden kita pertama, adalah satu dari sekian banyak para "founding fathers" kita Indonesia. Indonesia sebagai rumah amat sangat besar milik kita bersama dibangun dan didirikan pada eranya. Tak terlalu berlebihan bila gelar sebagai pendiri rumah besar itu kita sematkan padanya.

Jenderal Soeharto dengan kekuatan militernya datang dan kemudian menggantikannya. Dia mengisi dan kemudian tampak berusaha membangun rumah itu. 

Tiga Puluh dua tahun dia lakukan dan bila apa yang tampak terbangun dengan cukup rapi hanyalah halaman depan rumah kita saja, itu adalah apa kata banyak saudara kita yang tinggal di belakang dan di samping kanan kiri rumah. Mereka merasa tak tersentuh oleh pembangunan tersebut.

Jawa sentris membuat wajah Indonesia seolah hanya Jawa saja. Anehnya, saat dia harus mundur dan diganti oleh Habibie, ruangan tempat dia dan keluarganya tinggal, terlihat sangat rapi bahkan amat sangat mewah dibandingkan dengan ruangan sebelah mana pun juga. Ternyata dia juga senang dengan kesibukan membangun bagi dirinya sendiri.

Reformasi 1998 memaksa Jendral sepuh itu mundur. Wiranto sebagai Panglima Abri saat itu memberi jaminan pada pak Harto dan keluarganya dari marah dan balas dendam para musuh politiknya saat kemundurannya dijadikan polemik. Pak Harto aman, ruangan mewahnya pun tak tersentuh hukum.

Reformasi '98 di mana ujung tombaknya adalah mahasiswa, tak mungkin dipisahkan dengan peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996. Dualisme kepengurusan PDI Soerjadi dan Megawati Soekarno memancing pemerintah jaman Orde Baru terlibat di dalamnya.

Intinya, pemerintahan Soeharto lebih senang dengan PDI Soerjadi dan maka Megawati harus diganjal. Menjadi masalah, karena kantor pusat PDI di jalan Diponegoro 58 harus direbut.

Di sana pun, mahasiswa terlihat sebagai pihak berdiri paling depan. Mimbar bebas sebagai istilah menjadi sangat terkenal pada saat itu. 

Mimbar bebas adalah sarana bagi siapa pun yang ingin menyampaikan pandangan politiknya. Panggung itu dibuat dan didirikan di kantor sebuah partai politik yakni Kantor Pusat PDI jalan Diponegoro no 58 Jakarta Pusat. Tak ada hal salah atas kegiatan ini bukan?

Sejak Soeharto merasa sah memerintah negara ini dengan hanya berdasarkan selembar kertas berjudul Supersemar, cara memerintah layaknya kepemimpinan diktator militer dia terapkan. Sejak saat itu, sulit bagi rakyat Indonesia menemukan jejak demokrasi. 

PKI sebagai salah satu partai politik sah saat itu dibuat dan digambarkan menjadi setan, dan maka para pengikutnya harus dimusnahkan. Dan benar sehari setelah Supersemar, perintah atas pembantaian pada rakyatnya sendiri pun terjadi. 

Bukan 1000 atau 10.000, ada jutaan rakyat dibantai, puluhan ribu rakyat dipenjara tanpa peradilan dan ribuan yang lain tiba-tiba kehilangan kewarganegaraannya. Mereka adalah kaum terpelajar yang sedang menerima beasiswa dari negara dan bersekolah di banyak negara asing demi masa depan Indonesia yang Soekarno cita-citakan.

Bukan kita sedang berdebat tentang pantas tidaknya PKI dijadikan tertuduh, hukum secara jelas telah dan masih menyatakan PKI adalah organisasi terlarang. Kita harus patuh atas posisi itu.

Bukan pada organisasi PKI nya yang kemudian dibubarkan dan maka kita marah, pada jutaan rakyatnya sendiri yang dibantai dan kemudian memilih sikap represif bagi pemerintahannya hanya karena jargon PKI setan dan kemudian membuat demokrasi kita mati, itulah yang membuat rakyat bangkit.

Sejak saat itu siapa pun yang tak sejalan dengan pemerintah, serta merta predikat PKI akan disematkan. Demokrasi mati. Rakyat takut bersuara.

Di sinilah mahasiswa sebagai kaum terdidik hadir. 

Nama Hariman Siregar kemudian kita kenal sebagai tokoh dan aktivis mahasiswa pada peristiwa Malari 1974. Dia adalah Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia. Dia dituduh dan dijadikan kambing hitam atas Jakarta yang terbakar saat itu dan kemudian dijatuhi hukum 6 tahun penjara oleh PN Jakarta Pusat.

Petisi 50 yakni sekelompok jendral dan berwarna nasionalis yang baru muncul tahun 80an pun tak banyak memberi tekanan pada Soeharto. Kelima Puluh orang tersebut justru dicekal dan bahkan akses perbankan hingga banyak hal dalam hidup privat mereka dibuat rusak.

Kasus Marsinah tahun 93 melalui jalur buruh dan Wiji Tukul sang seniman yang tak lagi terdengar kabarnya sejak 1998 memberi daftar tambahan atas korban kegilaan Orde Baru.

Peristiwa Priok tahun 1984 dengan warna agama runtuh. Demikian pula peristiwa dukun santet di Banyuwangi 1998 adalah cara pamerintah Orde Baru meredam NU sebagai kekuatan organisasi Islam terbesar di mana Gus Dur adalah salah satu sosok yang dianggap sebagai ancaman oleh Soeharto.

Pun Megawati dengan PDI nya harus dibuat runtuh melalui peristiwa kudatuli 96.

Ada yang berbeda pada peristiwa 27 juli 96 ini, yakni bersatunya mahasiswa dan politisi. Ini sebuah kebaruan.

Seorang Budiman Sudjatmiko dan kawan kawan aktivis mahasiswa yang kritis saat itu mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) di tahun 96 dan secara.smart langsung membaur dalam satu panggung di Diponegoro no 58.

Budiman, sama dengan banyak mahasiswa angkatan 80-90 an yang memiliki jiwa merdeka. Sikap kritisnya dipaksa harus lahir akibat terlalu sering melihat adanya kesenjangan pada masyarakat dan matinya demokrasi.

Saya senang menyebut angkatan mereka sebagai generasi mahasiswa "gelap". 

Ketika mereka ingin mendapat bacaan politik, mereka harus mencari di ruang-ruang gelap dan dari pemasok yang gelap pula. Bahkan fotocopynya pun tampak gelap.

Siapa pun yang pada saat itu memiliki buku "beraroma gelap", dan ketangkap, dia pasti akan dimasukkan ruang gelap dalam arti sebenarnya, penjara.

Ketika ingin berdiskusi politik, mereka harus mengunci rapat-rapat pintu ruang kampus mereka dengan main gelap-gelapan pula dari dosen dan apalagi rektor. 

Tak ada seorang pun dosen siap menjadi "pembimbing" secara terang-terangan pada diskusi seperti itu. Pun tak ada rektor yang akan memberi ijin salah satu ruangan di kampusnya boleh dipakai kegiatan seperti itu bila tak ingin keesokan harinya panser masuk kampus.

Mereka berkembang menjadi produk militan bagi lahirnya demokrasi karena keadaanlah yang meminta mereka. Mereka menjadi pintar dan kritis karena hanya demi mendapat saja, ancaman penjara sudah menanti mereka. 

Mereka lahir dan tumbuh karena perjuangan.

Pada akhirnya, menjadi masuk akal bila panggung Diponegoro 58 selalu penuh saat mereka berorasi. Ada banyak orasi bermutu dan mencerahkan akan kita dapat dari mereka para kritis dan pintar itu. Ada gelegar suara terdengar seperti nada marah namun tak ada kebencian di sana.

Istilah-istilah oligarki, rezim, diktator, fasis, anarki, proletar hingga borjuis dan birokrat terdengar begitu fasih dan merdu ketika keluar dari mulut mereka. Mereka inilah sedikit dari jumlah kaum terpelajar dan kritis yang rela menyumbangkan idealismenya.

Apa yang terjadi pada panggung itu adalah Budiman dan PRD - nya memulai suatu cara yang memiliki unsur kebaruan. Mahasiswa bergabung dengan politisi yang sejalan dengan idenya dan menggunakan momen itu sebagai cara bagi mereka berjuang.

Gema mimbar bebas yang diinisianya memberi gaung pada apa itu makna demokrasi. Mereka yang muda dan sekaligus melek ilmu informasi dan komunikasi pun memanfaatkan internet yang masih sangat terbatas pada saat itu dan ini membuat Diponegoro 58 pun semakin cepat mendunia. 

"Pantaskah Soeharto khawatir?"

Melalui Kodam Jaya yakni pejabat Kasdam yang saat itu dijabat oleh Brigjen Susilo B Yudhoyono, negara masuk. Paling tidak, ini adalah apa kata rekomendasi Komnas Ham.

Sekelompok orang berbadan tegap, berambut cepak dengan sikap sigap layaknya militer namun berkaos PDI dengan warna merahnya yang khas seolah mewakili PDI Soerjadi, mereka menyerbu gedung kantor itu. Tak butuh waktu lama kantor PDI itu langsung luluh lantak.

Tak butuh waktu lama, Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan dijadikan kambing hitam atas terbakarnya lebih dari 4 gedung dan puluhan kendaraan umum di Jakarta pusat. 

Hari sabtu tanggal 27 Juli 1996 itu Jakarta membara. Banyak juga yang memaknai hari itu dengan sebutan Sabtu kelabu.

Minggu, 11 Agustus 1996 malam, Budiman Sudjatmiko dan empat aktivis Partai Rakyat Demokratik yakni Petrus Hari Hariyanto, Iwan, Ignatius Pranowo, dan Soeroso, diciduk di sebuah rumah di kawasan Depok, Jawa Barat.

Tak terlalu berlebihan bila premis "hanya demi menjegal seorang pemuda berumur 26 tahun, pemerintah Orde Baru harus membuat Jakarta membara dan seorang jendral pun diterjunkan" adalah benar. 

Paling tidak, itulah bunyi putusan terkait perkara tersebut. Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan divonis 13 tahun penjara karena dianggap MENDALANGI kerusuhan 27 Juli 1996.  

Dan seperti biasa, agar semua rakyat maklum, sekaligus tambah takut, sebutan PKI pun disematkan pada PRD.

Bukan Megawati jatuh, beliau justru mendapat simpati luar biasa besar dari rakyat atas kasus kudeta 27 Juli itu. Benar adanya Megawati harus menerima kalah ketika Soerjadi dimenangkan. Tapi hal itu justru memantik lahirnya PDIP dan panen dukungan padanya berbuah perolehan sebesar 33,7% suara rakyat dan memantapkan PDIP sebagai partai dengan perolehan suara terbanyak pada pemilu 99.

Reformasi dengan ujung tombak mahasiswa benar dapat meruntuhkan dominasi orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. Namun suka tidak suka, pengkhianatan padanya langsung terjadi seketika.

PDIP sebagai partai pemenang pemilu digembosi di tengah jalan. Amien Rais saat yang bersangkutan masih menjadi ketua umum PB Muhammadiyah yang selalu tampak bersama dengan Gus Dur ketua PBNU dan Megawati, justru memilih dan menjadikan dirinya sendiri sebagai batu sandungan.

Dengan Poros Tengahnya, dan posisi dia sebagai Ketua MPR, dia mampu membuat manuver menggagalkan Megawati menjadi Presiden. Dia memunculkan nama Gus Dur.

Demikian pula dengan Gus Dur yang harus menerima getah atas manuver bebas Amin Rais. Almarhum Gus Dur dipaksa mundur setelah baru berkuasa 2 tahun. Ini semua tak lepas dari muslihat Amin.

Habibie, Gus Dur dan Megawati memang sempat menempati posisi sebagai kepala rumah tangga pada rumah besar bernama Indonesia tersebut namun terlalu singkat. Apa potensi hebat dari beliau bertiga dapat lakukan terhambat oleh singkat dan cepatnya waktu.

Gus Dur sempat memberi kemenangan pada warna keberagaman dan reposisi Militer dan Kepolisian. Megawati sudah harus disibukkan dengan jadwal pembayaran hutang dari rentenir bernama IMF. Privatisasi BUMN yang disarankannya tak membuat rakyat senang.

Lima tahun usia reformasi yang penuh drama mau tak mau justru terlihat memberi dampak tak baik. Rakyat terpancing menjadi tak sabar apalagi puas. Rasa bahwa kepemimpinan dari sosok militer seperti Soeharto tampak lebih menggiurkan, kembali menguat.

Paling tidak, rasa tak puas pada PDIP langsung terlihat dari pencapaian partai itu yang turun drastis pada Pemilu 2004. PDIP hanya memperoleh 18,5%. Golkar justru tampil sebagai pemenang dengan 21,58% menjadi yang tertinggi.

Susilo Bambang Yudhoyono dengan sosok miiternya benar terpilih. Lima tahun periode pertamanya cukup menjajnjikan dan maka dia kembali terpilih. Paling tidak Demokrat yang pada tahun 2004 hanya memperoleh 7,45% suara, namun pada pemilu berikutnya justru naik drastis menjadi partai pemenang pemilu dengan perolehan suara 20,85%. 

Soeharto benar telah diturunkan. Namun ketika pengaruh adalah ukurannya, jelas dia masih sangat perkasa. 

SBY tak mungkin menang tanpa adanya kekacauan 5 tahun pertama reformasi. Para politisi penerima mandat reformasi terlihat tak mampu mempertahankan apa yang menjadi perjuangan mahasiswa. Para politisi juga terlihat seperti tak mampu mempertahankan apa yang rakyat pernah perjuangkan pada 98.

Bandul sepertinya justru kembali pada dia yang dekat dan akrab dengan Orde Baru. Tak ada yang salah. Rakyat sebagai pemilik suara telah menentukan pilihannya. Itulah demokrasi. 

Periode ke 2 SBY kembali membuka mata sang pemilik suara. Ramai-ramai mereka meninggalkan apa yang pernah mereka pikir baik. Korupsi adalah kata kuncinya. Kader Demokrat yang dalam kampanyenya selalu berkata "katakan tidak pada Korupsi" justru membuat rekor. Ketum, Bendahara hingga kader yang sedang menjabat Menteri masuk penjara.

Perolehan suara Demokrat pada 2019 yang hanya sebesar 7,7% adalah bentuk terjun bebas atau dengan kata lain rakyat secara serentak langsung meninggalkannya adalah bukti telak atas itu semua.

Entah dari mana berita itu bermula, kabar bahwa di luar sana ada lilin kecil menyala terdengar. Seorang rakyat biasa memegang dan menyalakan api itu. 

Kabar itu diberitakan dan diulang terus meneris melalui sosial media, melalui jari tangan rakyat dan menyebar hingga pelosok negeri. Bukan oleh media mainstream.

Bu Mega mendengarnya.

Redup dan tak terlalu bermakna bila terang yang dihasilkannya adalah apa yang menjadi ukuran. Namun, dia yang membawanya adalah takyat biasa seperti kita. 

Seperti ngengat, kita mengerubunginya.

Dari Solo api itu sengaja dibawa ke Jakarta dan terang itu pun benar adanya. Kini benderang cahaya itu telah bersama dalam keseharian kita.

Itu hanya sebuah kiasan tentang siapapun dia yang meskipun berasal dari rakyat biasa dan bekerja seperti rakyat apa adanya, pasti akan diterima.

Seorang tukang kayu menjadi Presiden, itu bisa terjadi karena sebab reformasi. Dan itu adalah apa yang kini sudah menjadi kesepakatan kita bersama. Itu adalah pilihan bagi cara kita hidup dalam berbangsa dan bernegara.

.

Itu juga tentang hakikat demokrasi dan itu bisa terwujud karena jasa mereka para pahlawan demokrasi. Mereka yang gugur dan dipenjara karena peristiwa 27 Juli hingga reformasi 98 terjadi. Tugas kitalah menjaga dan melindungi api reformasi itu tetap menyala.

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads