Umum

INDONESIA TAK BOLEH TUMBANG KARENA POLITIK IDENTITAS SEPERTI JAKARTA PERNAH

INDONESIA TAK BOLEH TUMBANG KARENA POLITIK IDENTITAS SEPERTI JAKARTA PERNAH

Leonita Lestari

12 May 2022
 

Dia bermimpi ingin jadi Presiden. Merasa bahwa kapasitasnya sudah mencukupi, dia beres-beres portofolio. Dia juga terlihat mulai bersih-bersih apa yang dianggapnya patut untuk segera dibersihkan. Dia ingin terlihat pantas.

Namun…Pantaskah?

Dulu, untuk menjadi Gubernur saja, masih ada terlalu banyak celah kekurangan pada dirinya. Tambal, sulam, ketok magic dan poles seluruh jati dirinya, butuh biaya sangat mahal. Dan namun, itu sepadan. Dia dan timnya sukses merubah mindset warga Jakarta.

Jakarta yang di mata banyak orang adalah pusatnya nalar, pusat banyak hal berbau kekinian, tiba - tiba mampu disulap menjadi layaknya kota sebelum abad pertengahan di Eropa atau di beberapa negara kawasan Arab pada kekinian. Dogma agama berkuasa. Jakarta yang sekuler tiba-tiba terlihat agamis.

Dan maka image bahwa penggunaan senjata ayat dan mayat demi merebut Jakarta yang sempat disematkan padanya itu, kini ingin diubah. Dia sadar bahwa medan pertempuran di level Nasional gak mungkin menggunakan pola seperti itu. Dia tahu pasti akan kalah.

Bersih - bersih dilakukan. Image tentang dirinya dibangun ulang. Mereka berusaha membangun narasi bahwa dia adalah korban propaganda.

Namun image saja gak cukup. Lima tahun jadi Gubernur harus punya bukti bahwa dia sosok yang mumpuni pada jabatan prestisius itu. Dia butuh bukti hadirnya fisik kemegahan sebuah bangunan yang sudah dihasilkannya. Dan JIS hadir untuk itu.

Ramai - ramai, para pendukungnya mencari cara berungkap bahwa JIS adalah masterpiece sang Gubernur. Biar terdengar wah, dipoleslah dalam rupa dongeng. Seolah adalah pencapaian luar biasa seorang manusia, stadion itu hadir demi citra.

Ramai - ramai mereka bercerita bahwa stadion itu sangat megah hingga bertaraf internasional. Mereka juga bercerita bahwa sosok sang gubernurlah seorang diri berdiri, di balik keberhasilan pembangunan itu.

TAPI…Benarkah?

Yang meresmikan, IYA. Yang berhutang banyak demi stadion itu berdiri, memang benar adanya. Konon 80 persen dari total 4,5 triliun sebagai modalnya, benar berasal dari hutang pada negara atas nama pemerintahannya.

Catatan bahwa Gubernur Sutiyoso adalah sang penggagas, diungkap oleh banyak pihak. Bahkan, orang yang sangat loyal padanya dan berdiri pada barisan depan yang turut menjadikan dirinya menjadi gubernur pada 2017 lalu, M Taufiq, justru yang berbicara peran Sutiyoso tersebut.

Kemudian pembangunan stadion di Taman BMW yang memiliki luas 66,6 hektar ini mulai dieksekusi pada era Gubernur DKI Fauzi Bowo.

Diceritakan oleh Taufiq bahwa Fauzi Bowo lah yang menggusur bangunan-bangunan liar di sana pada 24 Agustus dan 8 Oktober 2008. Konon ada sekitar 200 gubuk liar yang dirobohkan secara paksa.

Akhirnya Pemprov DKI pun memulai pembangunan stadion pada 2009 dan dilanjutkan sampai 2011.

Pada era kepemimpinan Jokowi-Ahok, rencana pembangunan kembali dilakukan pada 2013. Ada moment peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Jokowi dapat dijadikan bukti.

Kemudian Djarot Saiful Hidayat kembali mencanangkan pembangunan stadion di Taman BMW, saat urusan terkait tumpang tindih tanah diselesaikan gubernur sebelumnya.

Tepatnya pada 20 Agustus 2017 saat Jokowi yang telah menjadi Presiden RI menyerahkan sertifikat tanah itu kepada Djarot, setelah dia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 9 September 2017.

Jadi, klaim bahwa beliau sang gubernur itu adalah pemain tunggal jelas adalah salah atau tidak akurat. Ada fakta-fakta yang masih hangat sebagai jejak dapat ditelusuri dengan mudah. 

Bila karya monumental dan bersejarah ingin mereka klaim sebagai karya tunggal sang Gubernur, ada monumen bambu GETIH GETAH, Batu Bronjong, Tugu Sepatu, Monumen Sepeda, Jalur Sepeda hingga Lobang Resapan Iconic Jakarta, yang dapat mereka list sebagai pencapaian.

Perkara itu tak menjual, tak bisa dijadikan portofolio menarik, faktanya, apa yang dilakukannya selama 5 tahun menjabat Gubernur, yaaa… hanya itu yang beliau hasilkan bukan?

Listing aja!!

Bukankah para pendukungnya pun juga tak begitu pusing dengan esensi tepat guna apa tidak, TAPI yang penting tetap bisa di-listing?

Tiba-tiba.. narasi bahwa Ahok yang beretnis Tionghoa namun lahir di Indonesia diberitakan oleh kelompok mereka sebagai pribumi. Dan itu ternyata dibuat demi maksud terkait bahwa yang beretnis Arab PUN tapi juga lahir di Indonesia adalah pribumi.

Itu sangat bikin kuping panas, pun suara itu terdengar sangat fals manakala keluar dari barisan mereka. Ada tendensi bermakna "ADA MAUNYA" menyala terang di sana.

Cela itu masih terasa hangat. Luka itu pun belum sempat kering. KOFAR KAFIR sebagai cacian masih kita dengar keluar dari orang yang konon katanya selalu diterima pada kelompok itu hingga hari ini.

Nama pak Gubernur itu sudah terlalu sulit untuk dibersihkan. Stigma bahwa beliau membawa politik identitas dan senang menampung para intoleran berkedok agama, telah keburu menetap pada dirinya. Dan kalo benar, itu adalah CELA yang tak mudah DIMAAFKAN.

Pun pada kinerjanya selama menjadi Gubernur yang minim prestasi, konon bahkan Formula E pun kabarnya juga telah menuju tiarap. Mereka sudah kibarkan bendera putih dengan berungkap pasrah bahwa Formula E adalah milik Jokowi.

Itu pernah dikatakan oleh Ahmad Sahroni Ketua Pelaksana Formula E pada akhir April yang lalu.

Bila megah JIS mereka banggakan sebagai karya monumental seorang legend, di sana ada tersembunyi peninggalan HUTANG sangat besar yang kelak akan dibebankan pada gubernur pengganti bahkan hingga terpilih pada 2024 nanti.

Berdasarkan pernyataan pak Gubernur itu sendiri, dana PEN yang digunakan untuk pembangunan proyek JIS senilai Rp1,18 triliun pada 2020 dan Rp2,464 triliun pada 2021 diambil dari dana PEN yang berasal dari pemerintah pusat. Dan itu hutang yang harus dibayar.

Sementara, anggaran pembangunan JIS itu sendiri adalah sebesar Rp4,5 triliun. Bila 20 persen adalah modalnya, 80 persen hutang berikut bunganya, itu kelak harus dicicil melalui APBD DKI. Dan itu menjadi kewajiban siapa pun Gubernur berikutnya.

Namun bercerita tentang Jakarta, tidak melulu soal pemborosan. Tanpa sepeser pun menggunakan uang APBD, sebuah jembatan terbangun dan sangat membantu lalu lintas di pusat Jakarta.

SIMPANG SUSUN SEMANGGI, konon itulah nama jembatan tersebut.

Pun ratusan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau RPTRA yang tiba-tiba bermunculan di seantero Jakarta. Taman itu banyak sekali yang tak harus dibiayai dengan APBD.

Sayangnya, itu tak mungkin dapat di klaim oleh para pendukung Gubernur. Itu justru cela yang lain yang gak ingin diingat apalagi diangkat menjadi cerita.

Karena cerita itu, dia pernah berungkap bahwa pembangunan fisik bukan hal patut dibanggakan. ITU BENDA MATI. Anehnya, kini dia telan sendiri apa yang pernah diucapkan. Klaim pada JIS berbicara.

"Jadi, layakkah dia menjadi capres berikutnya?"

Hasil karya selama 5 tahun memerintah, tak ada yang tampak. Konon justru Jakarta tak lagi punya aura istimewa sebagai Ibu Kota kabarnya dimulai sejak beliau jadi gubernur nya.

Kabar bahwa dia pernah menggunakan jalan dengan cara tak elok hanya demi merebut jabatan itu kini jadi BUMERANG.

Yaaa.. stigma itu sudah terlalu melekat. Sekeras apapun usaha mereka untuk membersihkannya, selalu muncul bercak lain yang lebih tebal.

Bila Jakarta pernah tumbang dengan politik IDENTITAS, Pastikan TIDAK dengan INDONESIA !!!

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/TcOjXB-vJ4A


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads