Umum

INDONESIA (MASIH) MASA DEPAN DUNIA

INDONESIA (MASIH) MASA DEPAN DUNIA

Leonita Lestari

29 Jun 2021
 

Entah kenapa, sebagian dari kita senang menyisihkan makanan yang kita anggap paling enak di pinggiran piring. Sengaja makanan itu kita pisah, kita pilah, dan kemudian ketika semua yang di piring habis, kita makan untuk yang terakhir kalinya.

Ada nikmat tersendiri. Ada kepuasan yang tak harus diperdebatkan. Yang pasti, itu adalah makanan yang kita anggap paling enak.

 

Apa jenis makanan itu, tak penting. Bisa bakso tetelan yang sangat lunak dengan sedikit urat menempel pada dagingnya, atau justru cabe ijo atau jengkol misalnya. Tak penting apa itu namanya namun, itu adalah apa yang kita anggap paling enak. Paling berharga.

Demikianlah Indonesia. Tanah air kita memiliki banyak hal di mana itu adalah sangat bahkan paling berharga. Memiliki kualitas paling hebat dalam kekayaan sumber daya alam dan mineral bumi, sehingga untuk banyak alasan tak mungkin diambil dan dimanfaatkan lebih dulu.

Disisakan, dipilah, disimpan dan diletakkan pada urutan akhir karena nilai lebihnya. Tak mungkin mineral berharga itu diolah lebih dulu karena unsur hebat atas apa yang dapat dihasilkannya.

Sama dengan memasak, minyak sebagai bahan bakar adalah hal utama. Minyak menjadi rebutan para pihak yang ingin negaranya menjadi paling maju dan memimpin. 

Siapa menguasai ekonomi dia menjadi yang paling kaya. Siapa yang paling kaya adalah mereka yang memiliki tungku dan mampu membakar paling banyak. 

Siapa menguasai minyak, merekalah yang menguasai dunia.

Hal ini sangat disadari banyak negara setelah perang dunia pertama. Pembagian jarahan berupa wilayah banyak bangsa kalah perang oleh mereka para pemenang dilakukan sesuai peran hebat mereka dalam pemenangan perang tersebut.

 

Inggris, Perancis, Rusia dibantu Amerika Serikat adalah negara-negara pemenang dalam perang itu. Ada Jepang dan peran China namun mereka masih belum dianggap mewakili apa itu hebat.

Amerika Serikat dan lebih sedikit lagi peran Jepang, belum menjadi pihak hebat. Dua negara itu nantinya adalah penentu dalam perang dunia berikutnya. Perang dunia ke 2.

Tak berlebihan bila Inggris, Perancis dan Rusia disebut sebagai 3 negara super power pemilik saham terbesar di planet bumi saat itu.

Lahirnya negara Israel dan Kerajaan Arab Saudi tak dapat dipisahkan dari kepentingan para bangsa pemenang perang. Siapa dan dari kalangan apa yang akan memimpin Suriah, Libya, Mesir dan banyak pemimpin di Timur Tengah tak lepas dari kebijakan para pemenang perang, BARAT.

Pengkaplingan sesuai keinginan para pihak pemenang perang benar terjadi di sana. Ada kepentingan tak dapat diabaikan atas perlunya situasi kondusif sesuai interpretasi mereka para pemenang perang.

Minyak ada dan tersimpan di dalam perut bumi banyak negara kawasan Arab. Minyak adalah tentang makna dapur harus tetap ngebul demi ekonomi. Minyak adalah apa yang harus mereka kuasai. 

Untuk itulah kebijakan para pemimpin negara-negara Arab dibuat harus berpihak pada kepentingan barat. Untuk itulah siapa dan dari kelompok apa dipilihkan menjadi pemimpin.

Dua negara boneka mereka sisipkan sebagai cara agar kaki tetap memiliki tempat bagi caranya berpijak. Arab Saudi dan Israel.

Perang dunia ke 2 yang diinisiasi Jerman sebagai salah satu pihak kalah perang di PD1 dan tak suka atas hegemoni Inggris dan sekutunya kembali terjadi. Perang itu kembali menjadikan pihak Jerman sekali lagi harus mengaku kalah.

Tokoh utama pemenang perang adalah Amerika Serikat dan Rusia yang nantinya berubah menjadi Uni Soviet, sementara pihak paling dianggap berbahaya adalah Jerman dan Jepang. 

Keduanya, Jerman dan Jepang dihukum dan dikerangkeng dalam kemampuan militer sebagai hukuman. Nantinya, kedua negara itu justru menjadi pemenang dalam hal ekonomi dan teknologi.

Perang itu melahirkan dua kutub saling bermusuhan. Keduanya adalah para pemenang perang. Keduanya, yang pada awalnya adalah berdiri pada sisi yang sama yakni musuh Jerman, Italia dan Jepang kini berebut menjadi siapa paling hebat. 

Mereka bermusuhan dan saling menikam diam-diam dalam perang dingin selama lebih dari 40 tahun hingga Soviet bubar karena salah jalan tentang konsep ekonomi dipilih. Kapitalis dan sistem sentralistik.

Di Indonesia sejak tahun 1949 hingga 1965 pun adalah tentang bagaimana dua pihak barat dan timur berebut pengaruh menancapkan kukunya. Soekarno Nasionalis sejati bapak proklamator kita tak ingin terjebak. 

Non Blok sebagai lantang sikapnya pada cara berbicara ketika di luar dan Nasakom pada caranya kompromi atas kekuatan Agama, Komunis dan Nasionalis di dalam negeri tak berumur panjang.

Dulu, hanya ada agama dan nasionalisme saat awal pergerakan sekitar tahun 1900 an. Agama terpecah menjadi kanan dan kiri, agama dan komunis. Pengaruh lahirnya komunis di Rusia memberi warna sosialis kaum agama.

Permusuhan blok barat dan timur lebih dari 40 tahun juga memberi warna pada dua kelompok itu. Agama tak dipungkiri adalah cara Amerika atau barat memberi tekanan pada Soekarno, sedang Komunis adalah cara Rusia dan China memberi pengaruh.

Pemberontakan beraroma agama, DI/TII tak mungkin tanpa peran barat demikian juga pemberontakan PKI Madiun dan terakhir G 30S PKI tanpa China dan Rusia. 

Indonesia luluh lantak. Barat memenangkan pertempuran adu pengaruh dalam perang asimetris itu. Soeharto dengan militernya menang dan membuat Soekarno tersingkir. 

Keberpihakan kaum agama padanya membuat Soeharto melaju tanpa dapat dicegah meski pada akhirnya kelompok agama ini kemudian dibatasi. Sejak saat itu, netral kita pada cara bangsa ini berpolitik tak lagi terjadi. Aroma bahwa kita adalah bagian dari kebijakan barat tak lagi terlalu harus disembunyikan.

Kebijakan kita, cara kita berbicara pun seolah berwajah barat.

Minyak dan emas kita mulai diangkut oleh mereka yang berjasa memberi tahta padanya. Bagi barat, tak penting agama atau militer partner itu sepanjang kepentingannya terakomodir.

Ketika Soviet runtuh pada periode 90an, cakar barat semakin tajam. Kawasan Arab semakin tak kondusif. 

Afghanistan yang telah dijadikan lahan uji coba pasukan proxynya dengan Taliban dan kemudian Al Qaeda di saat Rusia diambang runtuh pengaruhnya pada Uni Soviet adalah cikal bakal. Bayi radikalisme beraroma agama yang dilahirkan dan dibuat sebagai senjata adalah cara baru pihak barat membuat dirinya mempertajam kukunya.

Konflik Afghanistan dengan Taliban dan Al Qaeda-nya dijadikan uji coba. Agama dipilih menjadi alat dan pemeluk fanatik yang sengaja diciptakan dijadikan proxy bagi kepentingan.

Proxy itu dirawat, digunakan bila butuh, dimusnahkan ketika tak lagi berguna.

Soviet runtuh, Balkan membara dan proxy barat dengan Al Qaedanya yang sangat tangguh meluluh kantakkan kawasan di kawasan Balkan, Bosnia pada awal 90an. Sejak saat itu, tak ada lagi apa itu agama adalah pembawa damai.

Ketika panggung kembali dibutuhkan, Afghanistan dengan Al Qaeda dan Osama Nya dianggap bertanggung jawab atas runtuhnya menara kembar yang kita kenal dengan 911. 

Iraq pun luluh lantak karena Saddam Hussein dianggap menyimpan senjata pemusnah massal dalam bentuk senjata biologi. Tak satu pun terbukti, namun tak pula ada maaf terucap atas kehancuran yang dibuatnya.

Arab Spring dengan Tunisia sebagai awal rusuh membuat peta negara-negara di kawasan Arab tak lagi hanya terfokus pada Israel dan Palestina. 

Mesir tumbang, Libya, Suriah, Yaman hingga Nigeria dengan Boko Haram-nya bukan lagi menjadi negara yang dapat bertepuk dada atas sejarah masa lampaunya. Mereka semua terpuruk dalam derita perselisihan tak pernah kenal kata usai.

Wajah agama dicoreng, dihancurkan hingga titik mengerikan. Mereka memberi baju agama dengan wajah penjahat dan bertindak layaknya iblis. Nyawa manusia dipilah dengan dalil halal dan haram.

Minyak dan gas adalah alasan atas semua kegilaan ini. Dapur tetap menyala dan ekonomi melaju pesat hingga harta berlimpah demi menjadi yang paling kaya, paling maju dan paling kuat. Semua terarah pada siapa harus menjadi pemimpin dunia. Siapa pantas menentukan kemana dan bagaimana dunia harus bergerak. Siapa penguasa dan tuhan.

Bak setan di siang bolong, Perjanjian Iklim Paris 2015 membuat langit seolah runtuh. Amerika Serikat sang penguasa tunggal dunia ditinggal banyak pengikut setianya di masa lalu. 

Perjanjian global yang monumental untuk menghadapi perubahan iklim dibuat dan didukung 195 negara. 

Minyak sebagai jimat sakti tak lagi layak dipertahankan. Keberadaannya digugat telah membuat dunia kotor dan berpolusi sehingga masa depan bumi menjadi taruhannya.

Minyak tak lagi semengkilap berlian dan seharum melati. Minyak digugat dan disudutkan sebagai pihak Paling bertanggung jawab atas hancurnya dunia.

Komitmen negara-negara itu dinyatakan melalui Nationally Determined Contribution untuk periode 2020-2030 dan ditambah aksi pra-2020. 

Semua aksi bangsa di dunia sepakat bahwa dunia harus berubah. Dimulai dari 2015 hingga 2020 sebagai gerakan persiapan dan dilanjutkan keharusan pencapaian signifikan pada tahun 2030 nanti.

Tiba-tiba, Perancis, Jerman, Italy hingga Jepang dan banyak negara lain di dunia menyatakan bahwa tahun 2030 nanti, negara-negara itu tak lagi ingin mesin mobil berbahan bakar fosil masih menyala di sana.

Masa depan minyak pembuat dapur ngebul tak lagi bersinar. Kusam dan tak bermasa depan kini disandangnya. Dulu, kobalt adalah bahan utama pembuat baterai. Kongo pemilik terbesarnya tak pernah menjadi kaya bahkan justru menjadi salah satu negara termiskin dan paling tak aman di dunia. 

Kobalt yang langka, mahal dan cara mendapatkannya tak baik, digugat. 

Tesla memberi jalan baru pada nikel dengan pencampuran nikel pada kobalt dan aluminium pada baterai lithium bagi produksi mobil listriknya. 

Nikel naik daun.

Nikel adalah kita. Nikel adalah hasil eksport mineral bumi terbesar kita di mana di bawah kaki kita berdiri banyak terkandung mineral itu. Nikel adalah anugerah Tuhan bagi bumi Nusantara ini.

Kehadiran Jokowi pada 2014 sebagai Presiden Republik Indonesia kemudian ditandatanganinya perjanjian iklim Paris 2015 dan disematkannya nikel pada teknologi baterai oleh Tesla yang membuat mineral bumi bernama nikel itu tiba-tiba menjulang seolah berbicara tentang takdir.

Takdir Indonesia, negara yang darahnya seolah hanya menjadi hisapan para lintah dari barat dan kaki tangan lokalnya kini menemui tantangannya.

Reformasi 98 tak berjalan setelah sebentar mampu menumbangkan sang diktator boneka barat namun sendi-sendi kuat jaringan para kapitalis dan anteknya tak turut ambruk. 

Gus Dur dan Megawati hanya sempat merasakan jadi Presiden dan belum dapat berbuat banyak. Posisinya sudah harus diambil kembali dan kiblat kita kembali mengarah pada mereka yang selama ini selalu menang, barat.

Benar militer dapat dikembalikan pada tugas luhurnya, NKRI. Sekali lagi, agama kini dijadikan alat sama seperti saat DI/TII dulu pernah.

Arab Saudi sebagai kiblat banyak pemeluk Islam negeri ini diminta maju dan berdiri paling depan. Banyak dari kita tak mampu melihat siapa di balik Arab. 

Kita cukup dibuat senang dan bangga dengan mampu berteriak anti komunis China sebagai pengganti Rusia. Kita dibuat sibuk seolah menemukan musuh yang sejati kita, PKI dan China.

Sesaat mantan Wali Kota Solo dan sempat duduk sebagai Gubernur DKI ini menjadi Presiden, setahun kemudian berita minyak tak lagi jadi raja membuatnya cepat bertindak.

Melalui Luhut, Menkopolhukam saat itu, Presiden banyak melakukan diskusi serius dan kepadanya pula investasi tercepat dapat harus didapat, telah ditugaskan.

Tahun 2015, banyak diantara kita tak mengerti betapa intens Luhut mencari partner siapa paling cepat menanggapi tawaran barang sangat berharga rujukan Elon Musk Tesla sebagai baterai, nikel.

Yang kita tahu, nikel dan banyak mineral bumi kita sebagai sumber daya alam melimpah tak lagi boleh djual dalam bentuk ore atau mentah. Dasar hukumnya, UU no 4 tahun 2009 yang sudah dibuat oleh SBY namun tak pernah berjalan.

Yang kita tahu, Uni Eropa marah dan CPO dijadikan sandera atas kebijakan kita selain WTO sebagai pengadilan perdagangan dunia karena kita dianggap melanggar.

Yang kita tahu, Presiden dengan lantang berucap, "siapkan lawyer terbaik" saat kita di WTO kan dan "ga mau beli ya saya pakai sendiri" saat CPO diboikot.

Tahun 2020 ketika Perjanjian iklim Paris sudah memulai aksi pastinya, tiba-tiba kita sudah eksport stainless steel. Sebagian Nikel yang kita punya sudah kita sulap menjadi besi nir karat di mana dulu, Eropa adalah gudangnya produk itu. Dan kita sudah menjadi salah satu eksportir terbesar stainless steel dunia.

Kita, dari yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba tercatat menjadi pengekspor besi nirkarat itu. Kita ngebut dan menyusul mereka yang dulu dalam mimpi pun tak berani kita angankan.

Dan, tiba-tiba riuh pejabat dubes Jerman mampir di Kantor efpei menyadarkan kita siapa mereka. Jejaknya pada keterlibatan mereka saat peristiwa PKI 1965 tiba-tiba terpapar dengan jelas. Jejak sibuknya di panggung Suriah tiba-tiba begitu tampak benderang. Kita diajak tahu siapa sebenarnya mereka dibalik wajah ramahnya.

Ada korelasi tak terbantahkan atas kepentingan mereka dengan kebijakan Presiden kita. 

Bukan hanya kebijakan soal nikel yang langsung terkait nyata dengan produk stainless steel hingga terhambatnya produk baterai bagi industri mobil listrik grup VW, BMW hingga Daimler sebagai unggulan mereka.

Ini cerita yang jauh lebih strategis. Ini tentang dominasi yang ingin tetap mereka jaga sebagai bagian dari penguasa dunia terutama dominasi barat terhadap kita, Indonesia.

Ini tentang bagaimana seharusnya politik kita di bawah Jokowi tak melangkah terlalu jauh sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Ini juga tentang cara mereka mengerem laju China sebagai kutub baru dunia di mana Asia adalah kiblat. Dominasi barat sedang berjalan pada keruntuhannya dan mereka tak ingin ini terjadi.

Bukan dijual mentah seperti Kongo pada mereka yang memaksa dan mengancam, Nikel sebagai baterai adalah cara Presiden Jokowi memaknai dan menggunakan berkah itu sebagai pijakan pertama bagi Indonesia melangkah.

Di sisi lain, bijih nikel yang diolah menjadi feronikel bernilai hingga 10 kali lipat dibanding harga ore. Nilai nikel makin meroket sampai 19 kali lipat bila feronikel diolah menjadi stainless steel. Dan semakin gila ketika dia menjadi baterai lithium.

Namun apa yang paling penting adalah kita, anak bangsa yang terlibat dalam proses pembuatannya. Ada transfer teknologi yang membuat kita naik kelas menjadi lebih pintar.

Eropa benar marah. Posisi mereka yang telah menjadi terdepan dalam produksi stainless steel terancam. Kesempatan mereka mengejar ketertinggalan dalam teknologi baterai terhadap Tesla terganjal. Dan itu semua akibat kebijakan seorang Jokowi.

Untuk saat ini, Amerika serikat terlihat masih hidup dengan cerita masa lalunya, minyak. Berebut nikel sebagai bayi calon jagal minyak belum tampak gregetnya. Dia tak tampak terlalu marah atas kebijakan Jokowi terkait nikel, dia marah karena Freeport hingga blok Mahakam dilucuti.

Namun ingat, Amerika Serikat masih memiliki puluhan ribu triliun dana yang tiba-tiba tak banyak terpakai gara-gara bisnis minyak melambat.

Dana sebesar itu sangat berbahaya bagi siapa pun yang dianggap sebagai ancaman. Dana itu dengan mudah akan berubah menjadi apa saja saat digunakan.

Di sisi lain, Amerika juga marah karena secara perlahan dan pasti semua proxynya yang dikelola oleh Arab di Indonesia dikupas tipis-tipis oleh seorang Jokowi. 

Hatei talah merasakan pedas dan panas tamparan tangannya. Efpei pun juga telah mendapat giliran. 

Tak terlalu sulit Hatei dapat dicabut, dia belum terlalu berakar. Efpei berbeda. Meski seolah baru lahir 1998, dia adalah kepanjangan tangan asing dimana sebelumnya telah melekat pada Soeharto dengan militernya selama 32 tahun. 

Mereka juga pernah hidup dalam DI/TII saat Soekarno. 

Jauh sebelumnya, Sarikat Islam dan PKI adalah satu saudara dalam satu kandungan. Keduanya pernah sangat berjasa pada pra dan awal kemerdekaan dan namun persaingan keduamya telah membuka peluang bagi dimanfaatkannya oleh pihak asing.

Proxy asing jaman 32 tahun Soeharto berkuasa itu masih sangat kuat ketika dia runtuh. Dia hanya berubah baju, hingga SBY pun tak terlalu terganggu dengan keberadaannya.

Secara perlahan, sejak tahun 2014 semua pengaruh asing dilepas. Disingkirkan dan dibuat berjarak demi langkah ringan rakyat ini menyusuri takdirnya sebagai sebuah bangsa.

Anasir-anasir jahat itu belum semua lepas dari tubuh persatuan kita dalam NKRI. Tak lagi terlalu kuat setelah selama 6 tahun disayat perlahan oleh Jokowi, mungkin benar, namun tak lagi dapat bangkit, jelas teledor. 

Mereka akan selalu hidup dan kembali kuat manakala persatuan kita sebagai sesama anak bangsa goyah. Mereka akan terus mengintip dan mengawasi, dan bangkit ketika kita lemah.

Pada pemerintahan keduanya, ratusan bahkan ribuan triliun dana segar mengalir di negeri ini. Dana segar atas elok paras negeri yang telah didandaninya ini dan terang masa depan kita sebagai sebuah bangsa, mengalir deras. 

Mereka sangat yakin bahwa Indonesia dibawah Jokowi adalah tempat tepat bagi cara lari bersama menuju kemakmuran bersama.

Teknologi baterai hingga produk mobil listrik, stainless steel hingga produk berteknologi yang mengikutinya hanya masalah waktu. Arah sudah jelas dan langkah juga sudah dimulai.

Mineral bumi sebagai sumber daya alam berharga milik kita. Sebagai nilai lebih kita miliki untuk masa depan kita yang juga adalah masa depan dunia. 

Dia akan dikonsumsi paling akhir karena mahal, langka dan sangat-sangat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan. 

Dia akan dimanfaatkan ketika saatnya tepat yakni ketika kita sudah siap.

Nasi, sedikit kuah dan lauk yang bukan paling enak sudah hampir habis. Lauk paling enak, paling berharga dan sengaja kita sisihkan untuk kita makan paling akhir, jelas tak layak untuk dibiarkan direbut orang lain.

Itulah mineral bumi yang saat ini sungguh diperlukan mereka yang sedang berebut menjadi terdepan dalam segala hal. Hanya dengan material itu, eksistensi mereka tetap dapat dijaga.

China, AS dan Uni Eropa sedang melirik makanan paling enak itu.

Presiden Jokowi menutup akhir tahun 2020 dengan manis. Membuang satu proxy besar yang dapat menjadi agen sewaan siapa saja bagi kemajuan kita.

Tanda-tanda itu sudah tampak cukup jelas. Bukan mengambil jarak pada AS, Eropa dan China, menyatukan mereka dalam konsorsium besar di Weda Bay Halmahera. 

Jepang, China, AS dan Perancis telah sepakat untuk bersama mengelola pekerjaan dalam payung smelter hasil tambang Freeport.

Siapa pemenangnya?

(Nitnot-KK)


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads