Umum

GEBYAH UYAH MEDIA TEMPE

GEBYAH UYAH MEDIA TEMPE

Leonita Lestari

09 Nov 2021
 

Kabar bahwa anak bu Minah meninggal dunia karena kecelakaan cepat menyebar. Bukan karena meninggal anaknya yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas itu yang kini menjadi bahan pembicaraan miris para warga, bu Minah tak punya uang.


Dia janda beranak 3 dan kini berumur 35 tahun tanpa pekerjaan tetap.


Anaknya pertamanya yang berumur 15 tahun terlibat kecelakaan tabrak lari dan meninggal di rumah sakit.


Tragis cerita itu manakala kabar nahwa biaya RS, peti mati, pemakaman dan banyak kebutuhan layaknya orang meninggal tak sedikit pun dimiliki oleh bu Minah. Itulah apa yang kini menjadi perbincangan warga kampung.

Menunggu bantuan dari pemerintah, itu pasti butuh waktu. Dan sementara, kemendesakan seperti ini tak memiliki banyak toleransi waktu.


Kabar atas cerita miris ini didengar oleh Paijo dan Yuni yang kebetulan adalah juga warga dari kampung itu. Keduanya secara ekonomi dianggap paling mampu.  


Tanpa menunggu diminta, keduanya menawarkan bantuan. Pak RT dan dua pengurusnya datang. Dari Paijo dan Yuni pak RT disaksikan dua pengurusnya mendapat bantuan berupa uang tunai 10 juta rupiah masing-masing 5 juta Paijo dan sisanya Yuni.


Setelah sebulan berlalu, bu Minah datang dan berkunjung ke rumah pak RT. Dia ingin mengembalikan semua pengeluaran yang telah ditutup oleh pak RT. Bu Minah tak ingin merasa berhutang meski Paijo dan Yuni tak pernah berniat menjadikan uang bantuan itu sebagai hutang.


Karena bu Minah meminta paksa dan tetap ngotot akan mengembalikan semua bantuan itu, pak RT pun menyerah. Total pengeluaran acara duka cita itu adalah 12,3 juta rupiah. Sisa 2,3 juta adalah uang pribadi pak RT.


Kabar bahwa bu Minah mengembalikan uang senilai 12,3 juta itu didengar oleh dua pengurus RT yang turut mendampingi Pak RT. Mereka berasumsi sendiri bahwa Paijo dan Yuni mengambil untung atas musibah yang diderita bu Minah. 


Kabar itu meluas dan hingga Paijo maupun Yuni akhirnya terbawa dan terseret pada isu yang benar-benar tak menyenangkan. 


Apa yang awalnya adalah tentang cerita moralitas yang patut dipuji kini berubah menjadi pembunuhan karakter. Dan itu dengan menggunakan senjata uang.


Paijo dan Yuni sebagai warga yang peka dan peduli pada sesamanya justru masuk perangkap memalukan. Keduanya kini justru harus sibuk klarifikasi atas sesuatu yang tak harus menjadi urusannya.


Pada cerita heboh PCR, Paijo dan Yuni adalah entitas lain dari sosok Erick Thohir dan Luhut Panjaitan. Keduanya konon telah dilaporkan ke KPK.


Sama dengan Paijo dan Yuni yang kaya, Erick dan Luhut adalah pembantu Presiden Jokowi yang secara finansial dapat disebut yang paling kaya dari banyak pembantunya yang lain. Dua orang itu sudah sangat kaya raya jauh sebelum menjadi menteri.


Ketika pandemi datang awal Maret 2020 dan tak dapat kita tolak, ini adalah tentang kemendesakan yang tak memiliki celah lebar bagi sebuah toleransi. Kecepatan bertindak lebih dibutuhkan dibanding perhitungan detail. 


Kebutuhan PCR sebagai salah satu kemendesakan yang tak dapat ditolerir tak mungkin menunggu anggaran dari negara yang sudah pasti butuh waktu. Semua tahu bagaimana aturan anggaran.

Erick dan Luhut sebagai pembantu Presiden yang memiliki kelebihan atas kapasitasnya sebagai orang berduit sekaligus seorang yang memiliki akses luar biasa luas mencoba mengisi pincang langkah negara. 


Mereka berdua merasa terpanggil untuk membeli atau menyediakan banyak mesin PCR yang masih sangat sedikit jumlahnya.


Hal itu mereka lakukan atas fakta bahwa tes PCR pada saat itu yang masih sangat mahal yakni berkisar antara 5-7 juta rupiah dan butuh waktu sekitar 3-5 hari hanya demi mendapat hasil adalah kendala besar yang harus negara ini atasi.


Atas potensi negara yang diduga sudah pasti akan keteteran dalam menghadapi pandemi Covid19 yang sudah tampak di depan mata yakni akan terjadi keterlambatan penanganan pasien karena butuh waktu lama hanya untuk mengetahui apakah seseorang terkena Covid19 atau tidak yang tentu saja juga akan berimbas langsung pada penularan yang akan tinggi dan akan mengakibatkan jatuhnya korban yang makin banyak, mereka terpanggil untuk segera hadir.


"Untuk siapa alat itu dibeli?"


Mendonasikan alat tersebut pada banyak universitas seperti UI, Unpad, UGM, Unair, Undip, Udayana, dan USU adalah apa yang Luhut ingin jalankan.


Melalui Budi Sadikin, Wamen BUMN pada saat itu, Erick pun ternyata juga terlihat sibuk mencari alat PCR yang akan diberikan pada rumah sakit-rumah sakit BUMN. 


Order untuk alat PCR Roche konon dilakukan pada akhir maret 2020. 


Pada akhir April 2020, alat-alat PCR ini mulai datang dan mulai didistribusikan ke banyak rumah sakit dan Fakultas-Fakultas Kedokteran.


"Bukankah mereka membeli alat tersebut untuk usaha mereka yang tergabung dalam PT GSI?"


Sekali tidak. PT GSI hadir justru saat sumbangan Erick dan Luhut telah terealisasi dan terdistribusikan pada tempat-tempat yang sudah mereka rencanakan.


Manakala anggaran negara telah mampu hadir, PT GSI baru lahir. GSI justru hadir karena sebab ingin turut berpartisipasi dalam pendirian lab test covid19 yang memiliki kapasitas tinggi (5000 test/hari) dan bisa melakukan genome sequencing.


Dan bila melihat dari orientasi perusahaan itu didirikan, unsur ingin membantu pemerintah pun terlihat sangat jelas. Di dalam perjanjian pemegang saham GSI, konon juga ada ketentuan bahwa 51% dari keuntungan harus digunakan kembali untuk tujuan sosial... 


Sementara pada hasil laba yang lain ada catatan bahwa itu justru juga telah digunakan untuk melakukan reinvestasi terhadap peralatan atau kelengkapan laboratorium yang lain, salah satunya adalah untuk melakukan genome sequencing.


"Kalau memang ingin membantu penanganan pandemi, mengapa harus mendirikan GSI yang berbentuk PT? Kenapa tidak yayasan saja? Apakah ini bukan petunjuk bahwa mereka memang sedang mencari untung saat negara sedang susah?"


Bantuan yang sifatnya donasi sudah dilakukan Erick, Luhut dan teman-temannya melalui donasi alat PCR, ekstraksi RNA, reagen dan beberapa alat lab lainnya.


Namun, karena sifatnya donasi, bukankah itu bersifat membantu dan sesuai dengan dana donasi yang dikumpulkan saja? Seharusnya, setelah itu semua terpenuhi, mereka harus mandiri. 


Indikasi direka-reka seolah mereka turut berpartisipasi karena orientasi bisnis semata dalam pendirian lab test covid19 yang memiliki kapasitas 5000 test/hari dan bisa melakukan genome sequencing dimana dikemudian hari justru sangat berguna untuk mendeteksi varian delta, adalah cerita yang berbeda.


Tak bisa langsung dikaitkan dengan Erick maupun Luhut dengan cara gebyah uyah seperti itu. Ada banyak variabel harus digunakan untuk mengaitkan keduanya dengan tuduhan tak pantas itu. Tuduhan itu justru terlihat sebagai upaya pihak tertentu dengan maksud pembunuhan karakter.


Dan itu menjadi terlihat sangat masuk akal manakala media Tempe adalah media yang sangat getol memberitakannya. Kita tahu cara media itu berposisi.


Berita seolah tes PCR hanya bermodal 13 ribu telah merusak pemahaman masyarakat. Reagen sebagai salah satu unsur dari banyak komponen yang ada pada tes PCR seolah ingin dibuat hanya satu-satunya unsur.


Itu sama dengan mbok Jinem menjual nasi putih sepiring 7000 rupiah namun yang di capture adalah harga beras 1 kilo yang dibelinya cuma 8000 rupiah padahal dari 1 kilo beras dapat menjadi 10 piring. Mbok Jinem keterlaluan mencari untung mendekati 1000 persen.

Sama dengan mbok Jinem butuh warung, rice cooker, listrik, air hingga tenaganya yang sama sekali tak dihitung, Reagen hanya salah satu unsur dari banyak hal seperti mesin, Viral Transport Medium yang adalah alat untuk menampung hasil swab yang akan mendeaktifkan virusnya sebelum kemudian bisa dilakukan ekstraksi RNA, alat bantu yang lain hingga tenaga medis.


Di sisi lain, ketika Tempe berbicara harga Reagen yang berkisar 13 ribu, faktanya tak ada Reagen atau sejenis bahan kimia yang dicampurkan untuk menghasilkan reaksi yang dipakai untuk mendeteksi COVID-19 seharga itu. Data berbicara bahwa barang itu harga termurahnya adalah 70 ribu dan itu belum termasuk PPN.


Sama dengan cara kita mengurai masalah Paijo dan Yuni dengan tak justru harus bertanya pada dua pengurus RT yang hanya berdasar asumsi, mengurai issue conflict of interest Erick Thohir dan Luhut Panjaitan tak mungkin selesai bila bersandar pada Tempe. Ada cara logis kita mencari data dari banyak sumber yang lebih valid. Tempe lebih terlihat sedang melakukan pembunuhan karakter Erick Thohir dan LBP.


Bagi saya, Erick dan Luhut justru telah bekerja melampaui apa yang menjadi tugasnya. Keduanya memiliki integritas yang tak diragukan lagi. Mereka layak menjadi panutan.


Sama dengan mereka pernah ingin menjungkalkan Presiden melalui Ahok yang sangat dipercayanya, kini mencari sisi buruk dua sosok tangguh yang juga sangat dipercayainya, mereka sedang membidiknya.


Dan Media Tempe sedang berjudi dengan taruhannya yang terlihat semakin tipis.


(NitNot - K.K)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads