Umum

DUKA PANJANG RAKYAT AFGHANISTAN

DUKA PANJANG RAKYAT AFGHANISTAN

Leonita Lestari

19 Aug 2021
 

Tiba-tiba kita berbicara tentang konflik Afghanistan. Tiba-tiba kita mengutuk AS karena kabur meninggalkan gelanggang perang dan membuka ruang chaos pada negeri itu. Tiba-tiba kita berbicara Talib*n dengan potensi kegilaan absolutnya dan kita menangis bagi nasib tak pasti yang akan menimpa rakyat Afghanistan.

Terlepas dari betapa gila dan sadisnya Taliban pada rakyatnya sendiri, bukankah pada peristiwa itu AS adalah negara agresor?

Segila apapun Taliban, bukankah mereka adalah bagian dari rakyat Afghanistan? 

Fakta hukum juga berbicara bahwa kelompok itu adalah pemegang tampuk pemerintahan yang sah pada negara tersebut sebelum diruntuhkan AS pada 2001. Pakistan, Arab Saudi dan UEA mengakui pemerintahan Afghanistan di bawah Taliban.

Bukankah dengan demikian kejadian itu adalah cerita tentang sebuah negara yang sedang berjuang demi lepas dari kekuasaan asing?

Pun ketika Biden memutuskan mundur dari Afghanistan, bukankah itu tentang janji politik dia pada pemilihnya bila terpilih menjadi Presiden yang harus dipenuhinya?

Kita berbicara berdasar atas rasa peduli dan ungkapan kemanusiaan dari persepsi dan subyektifitas kita. Kita pun tidak salah.

Rasa kemanusiaan kita seolah terpanggil ketika membayangkan bagaimana nasib rakyat Afghanistan bila Taliban berkuasa kembali. 

Bayangan kekejaman kelompok yang dapat dimasukkan dalam kategori organisasi teroris itu demikian kuat tertinggal dalam ruang ingatan kita dan kita menangis bagi rakyat yang tak memiliki pilihan apapun selain pasrah ketika lari dari negaranya tak lagi dapat mereka lakukan.

Tiba-tiba rakyat Afghanistan terancam masuk pada ruang hukum dimana nyawa sangat murah, perempuan tak lagi boleh sekolah, potong tangan bila mencuri, tak boleh nonton tv, laki-laki harus pellihara jenggot, perempuan harus bercadar dan masih banyak aturan dimana ruang privat manusia bukan lagi Sebagai hak asasi.

Apakah Taliban kekinian masih akan segila ketika mereka pernah berkuasa dulu, kita memang patut berduka bagi mereka. 

"Kenapa AS kabur sebelum pemerintahan lokal siap?"

Tak mudah bagi kita mengetahui alasan pasti kenapa mereka pergi. Yang kita tahu bukan karena alasan apa mereka pergi, namun kita tahu untuk alasan apa mereka hadir. Dengan kekerasan AS datang atas alasan subyektif akibat peristiwa 911. 

AS menuduh Taliban melindungi tokoh-tokoh Alqaeda yang dianggap berada di balik runtuhnya menara kembar pada 11 September 2001 dan langsung menyerangnya. 

Adakah itu dapat dibuktikan kebenarannya, sepertinya itu sudah bukan hal yang penting. Yang pasti, Iraq dan Afghanistan langsung runtuh. Sadam Hussein tewas, Taliban tersingkir dan Osama bin Laden pun konon mayatnya dibuang ke laut.

Yang kita tahu, selama 20 tahun, AS dikabarkan telah mengeluarkan dana mendekati 1 triliun dolar. Itu belasan ribu triliun rupiah. Itu hampir 3 kali lipat utang RI yang selalu diributin.

Siapa yang untung, yang pasti adalah mereka yang dekat dengan kekuasaan dan memiliki bisnis senjata, hingga kontraktor keamanan swasta. Dan itu adalah cara kerja kapitalisme. Itu sebuah kewajaran dalam sistem yang tidak pantas.

Yang kita ketahui, banyak prajurit AS, prajurit Afghanistan dan rakyat tewas dalam perang itu. Yang pasti, Biden sebagai Presiden terpilih memiliki legalitas bagi keputusan itu.

"Tapi bukankah itu membuat rakyat Afghanistan menjadi terancam hidupnya?"

Bukankah yang harus melindungi rakyat Afghanistan adalah pemerintah Afghanistan sendiri? Bila Taliban ternyata berhasil mengambil alih kekuasaan, seharusnyalah Taliban yang bertanggung jawab atas keselamatan warga negaranya. Terlepas bagaimana cara yang diambilnya.

"Kenapa pemerintah Afghanistan justru tak melakukan perlawanan? Bukankah mereka lebih terlatih dan lebih lengkap senjatanya?"

Spekulatif kita tak banyak berarti. Itu bisa karena banyak sebab. Yang jelas berita Presidennya justru kabur dan pasukan pemerintah yang konon dididik AS dengan biaya miliaran dolar pun tak ada terlihat ingin melindungi rakyatnya.

Di sisi lain, kita lupa bahwa pada 1996 rakyat Afghanistan telah pernah menerimaTaliban sebagai pemerintah yang sah. Yang kita ingat hanta pada moment tindakan brutal mereka saja.

Taliban menggantikan posisi Mujahidin yang dalam beberapa hal jauh lebih sadis pernah kita dengar. Kehadiran Taliban menggantikan kekuasaan Mujahidin pada suatu saat dulu pernah membuat rakyat Afghanistan memiliki harapan hidup lebih baik. Bahwa ternyata sami mawon, bukankah kita juga tak intervensi pada derita rakyat Korut?

"Serius?"

Sejarah mencatat, hampir tak ada satu pun bangsa yang lebih tahu apa itu arti penderitaan dibanding rakyat Afghanistan. Sepanjang sejarahnya adalah tentang perang, perang dan perang. Ketika kita baru mengenal apa itu makna sedih, puluhan kali sudah rakyat dari bangsa itu menangis dengan air mata darah.

Ribuan tahun sejarah bangsa itu tercatat, bisa dibilang, hanya dari tahun 1933 hingga 1973 saja Afghanistan tenang dan tak ada gejolak berarti. Sebelum dan sesudahnya, adalah selalu tentang derita yang seolah tanpa akhir.

Sejak ribuan tahun yang lalu, negeri itu selalu dan telah diserang atau menjadi tempat bagi medan perang oleh sejumlah bangsa. Di sana ada keterlibatan bangsa Arya, Media, Persia, Yunani, Maurya, Kushan, Sassaniyah, Arab, Mongol, Turki, Inggris, Soviet, hingga AS yang pernah singgah dan mengganggunya.

Ketika saudara sebangsa sendiri memerintah, entah kenapa selalu saja tentang kudeta dan perebutan kekuasaan seolah tak kenal apa itu usai. Sejak 1900 hingga AS datang pada 2001, sebelas raja dan penguasa terlalu sibuk untuk saling menumbangkan. 

"Tapi kenapa harus Taliban?"

Afghanistan adalah Vietnamnya Uni Soviet pada sisi tertentu. AS yang pernah sangat dipermalukan dengan kekalahannya pada perang Vietnam, konon tak rela bila musuh bebuyutannya pada perang dingin tak mengalami hal yang sama. Keterlibatan Uni Soviet pada perang di Afghanistan diagendakan.

Pada perang Vietnam AS menerjunkan pasukannya. Uni Soviet, China, Kuba dan Korea Utara berada di belakang pasukan Vietnam Utara yang beraliran komunis dengan bantuan senjata hingga melatih pasukan. AS kalah dengan sangat memalukan dan hengkang dari Vietnam tahun 1975.

Pada perang Afghanistan, Uni Soviet yang akhirnya terjebak pada perang itu, menerjunkan pasukannya membantu pemerintahan Afghanistan yang beraliran komunis melawan pemberontakan banyak faksi Mujahidin. 

AS, Inggris, Pakistan, Arab Saudi hingga China, berada di balik para pejuang Mujahidin. Uni Soviet kalah dan harus pergi dari Afghanistan Desember tahun 1989.

AS sangat berperan menyokong para mujahidin dimana nantinya turut menyuburkan gerakan islamis dan memberikan ruang bagi lahirnya gerakan Islam militan di kawasan sekitarnya. 

AS melalui Arab Saudi dan Pakistan konon juga berada di balik hadirnya ribuan mujahid dari seluruh dunia tak terkecuali seorang pemuda bernama Osama bin Laden yang terpanggil dalam jihad itu. Kelak, Al-Qaeda lahir karena gerakan ini.

Ketika akhirnya pasukan Soviet kabur pada awal dekade 1990-an, perang sipil terjadi di Afghanistan. Faksi-faksi mujahidin berperang demi saling berebut kekuasaan. Itu terjadi pada 1992 hingga 1996.

Dalam kekacauan itu, faksi-faksi mujahidin yakni faksi dari suku Tajik, Uzbek, Pashtun, dan Hazara sering menyasar perempuan dari faksi musuh. Perkosaan dan penculikan perempuan seolah menjadi keseharian bagi warga Afghanistan.

Ketika akhirnya rezim Taliban kemudian menggantikan para mujahidin, praktik gila itu kabarnya langsung berkurang drastis. Adakah penerimaan rakyat Afghanistan pada kelompok Taliban saat itu menjadi masuk akal? 

Di mata rakyat kecil saat itu, Taliban setidaknya tidak menjarah, tidak memerkosa, atau menculik. Simpati rakyat terhadap Taliban pun sempat hadir. Bahwa dikemudian hari dalam perkembangannya Taliban seolah tak berbeda dengan banyak faksi Mujahidin yang sebelumnya, dan kembali memberlakukan aturan sangat keras dan seolah anti perempuan, itu buruk nasib warga Afghanistan yang patut kita turut bersimpati karenanya.


https://tirto.id/babak-ke-4-afghanistan-setelah-mujahid-taliban-dan-invasi-as-ghMK

"Jadi ini masalah negara asing yang membuat kacau sebuah negara?"

Pada Vietnam, yang dibantu oleh Uni Soviet kita bisa melihat bahwa Vietnam hari ini telah menjadi negara berkembang maju.

Pada Afghanistan yang dulu didukung AS, hingga kini negara itu tak sedikitpun berubah dan tetap dalam kekacauan tanpa batas waktu. Penarikan pasukan Soviet hanya dipandang sebagai kemenangan ideologi AS.

Setelah penarikan pasukan Soviet pada tahun 1989, AS dan sekutunya kehilangan minat di Afghanistan, dan tidak sedikit pun tertarik untuk membantu membangun kembali negara yang hancur dilanda perang. Afghanistan dibiarkan dalam kekacauan pada perang saudara.

Lebih aneh lagi, pada 2001, Taliban sebagai salah satu anak didiknya dengan Pakistan dan Arab Saudi sebagai gurunya, justru menjadi musuh yang diperanginya. AS melakukan intervensi militer ke Afghanistan demi tuduhan sepihak Taliban telah melindungi tersangka runtuhnya WTC pada 11 September 2001.

*Benarkah pola itu kini menjadi cara AS dan barat pada penanganan konflik global?"

Seperti kita mengambil gelar doktor harus siap dengan disertasi, nilai Cum Laude dicapai AS atas hasil "tesis" akan sebuah kebaruan dalam isu geopolitik mereka temukan. 

Perang Afghanistan dengan cara memanfaatkan proxy radikal agama, tiba-tiba berlaku pada Bosnia dan banyak keributan di Eropa timur sesaat ketika Uni Soviet runtuh. Bahkan hingga pada Arab Spring warna itu sangat kental. 

Isis yang tiba-tiba hadir dalam rupa tak jauh berbeda dengan Al-qaeda adalah salah satu contoh kebaruan bagi sebuah kekacauan yang diciptakan. Digunakan saat dibutuhkan, dibuang manakala sudah tidak berguna.

"Kira-kira, ada gak pelajaran buat Indonesia?"

Bila pada perang Vietnam AS turun langsung dan pada perang Afghanistan Uni Soviet terlibat langsung, di balik peristiwa G 30 S PKI, itu adalah perang pengaruh dari keduanya pada Indonesia.

Kedua super power itu memang tak terlihat menurunkan tentaranya namun keduanya berada pada saling berhadapan dengan menggunakan tangan rakyat Indonesia dan kita saling bunuh.

Itu dulu. Itu sebelum mereka makin pintar karena pengalaman di Afghanistan. Pada masa kini, cara baru yang mereka dapat dari hasil kuliah kerja nyata di Afghanistan kini sedang mereka terapkan. Ciri-cirinya adalah munculnya perpecahan rakyat karena unsur perbedaan, kemudian para mujahid yang entah datang dari mana datang meramaikannya. 

Di Suriah, isu Syiah dan Sunni sebagai umpan pertama telah berhasil meluluhlantakkan negara itu, di Indonesia isu beraroma agama pun sedang dibangun. Sama dengan di Suriah yang target utamanya adalah saling cakar terlebih dahulu, saling pukul pada sesama anak bangsa di Indonesia kini sedang diagendakan. Tidakkah ini sebagai peringatan?

Sama dengan Afghanistan yang mayoritas rakyatnya beragama islam dan terdiri dari banyak suku, Indonesia adalah rupa yang sama sebagai sebuah lahan. Indonesia jauh lebih beragam dalam suku, agama dan kepercayaan dan itu adalah lahan lebih subur bagi perpecahan. Kita dapat belajar dari kesalahan Afghanistan.

"Mungkinkah wajah bengis Taliban akan berubah saat mereka justru dekat dengan China yang komunis itu?"

Bukan hanya pada China, Taliban juga terlihat sedang ingin menerima dan bersahabat dengan Iran. Ini sesuatu kebaruan. Di sisi lain, wajah lebih moderat sedang mereka tampilkan manakala mereka meminta para pegawai negeri untuk tetap bekerja, tak akan memusuhi Syiah hingga janji tak akan keras pada perempuan dan anak-anak ketika berhasil menguasai Kabul. Semoga ini bukan cuma lips service.

Sejak Uni Soviet menginvasi Afghanistan, China adalah salah satu negara yang berpihak dan berada di belakang para Mujahidin. Republik Rakyat Tiongkok tercatat turut memasok RPG Type 69 kepada Mujahidin dalam kerjasama mereka dengan AS melalui CIA-nya.

Dua negara yang saling berbatasan di sebelah timur laut Afghanistan dan barat daya dari China itu telah lama saling berhubungan. 

Ingat film animasi Mulan? Bukan tentang Shan Yu sebagai musuh Mulan, ini tentang bangsa Hun yang adalah salah satu entitas masa lalu Afghanistan yang telah memiliki keterkaitan dengan bangsa dan rakyat China.

Bila benar mereka saling berhubungan, kita tidak tahu perkembangan apa yang akan terjadi dalam 10 tahun yang akan datang. Yang kita tahu, banyak negara di Afrika yang lama dibiarkan oleh barat, tak butuh waktu lama untuk beranjak dari kemiskinan dan kekumuhan sebagai wajah yang kita kenal tentang Afrika selama ini manakala mereka berhubungan dengan China.

Yang kita tahu, China tak butuh banyak syarat ketika ingin berteman. China hanya ingin berhubungan dagang dan dagang adalah tentang saling memberi untung. 

Seperti banyak negara Afrika yang kini telah berbenah dengan positif ketika telah saling memberi untung dengan China, kita berharap inilah waktu bagi rakyat Afghanistan. 

Mengutip tulisan @BudimanDjatmiko : “Bukankah Taliban yang pragmatis yang mau berbisnis dan berteknologi akan mengurangi radikalisasinya dan kemudian tak akan dipakai oleh kelompok-kelompok serupa dengan nya di Indonesia sebagai inspirasi jihadnya?

Bagi kita di Indonesia yang senang dan bangga dengan Taliban di masa lalu dan kini terkait hubungannya dengan China, bukankah lawanmu bukan berarti lawan dari kawanmu?

Semoga apa yang terbaik bagi rakyat Afghanistan segera terwujud..🙏

(NitNot-KK)

Follow me on :

Instagram

Twitter

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads