Umum

DARI NIKEL KE BATERAI, LALU…?

DARI NIKEL KE BATERAI, LALU…?

Leonita Lestari

22 Sep 2021
 

Entah bagaimana caranya, perjanjian iklim Paris 2015 tiba-tiba telah mengancam akan membuat runtuh bangunan minyak sebagai pondasi masa depan utama negara-negara industri dari barat. 

Secara perlahan energi hijau digadang akan akan mengganti peran minyak yang diduga sebagai TSK global warming. Energi terbarukan dan ramah lingkungan mulai dilirik demi ramah umat manusia pada bumi.

Tiba-tiba Jerman, Perancis, Jepang dan banyak negara maju di dunia berikrar bahwa pada tahun 2030 nanti tak lagi boleh ada mobil berbahan bakar minyak lalu lalang di negaranya.

Tiba-tiba, panen energi dari matahari dan angin dilirik oleh mereka yang terbiasa bermain dengan keunggulan teknologinya.

Tiba-tiba, baterai sebagai penyimpan energi dibutuhkan lebih dari apapun makna butuh oleh banyak pihak. Nikel tiba-tiba diperbincangkan. 

Nikel tiba-tiba juga melesat menjadi bintang baru yang padanya dugaan bahwa dia adalah bayi sebagai calon pembunuh raksasa MINYAK yang telah begitu dominan selama puluhan tahun dilekatkan. Nikel sebagai bahan baku baterai memang telah diprediksi akan tumbuh besar dan kuat melebihi peran minyak di masa yang akan datang.

Pemain sekaligus pengguna terbesar nikel adalah China. Negeri Panda ini menyerap lebih dari 50% produksi nikel dunia untuk kebutuhan industrinya. 

Sama dengan AS yang selama ini dikenal sebagai negara yang senang menimbun minyak, China menirunya. Bukan minyak semata ditimbunnya, China kini terlihat senang menumpuk nikel pada banyak gudang di rumahnya. China terlihat sangat nyaman menyimpan nikel sebanyak dunia mampu memproduksinya. Padahal, di sisi lain, China juga adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.

Negara ini jauh-jauh hari sudah mengamankan pasokan feronikel sebagai salah satu hasil pemurnian bijih nikel dengan menanam banyak modal untuk pembangunan smelter. Indonesia adalah salah satu yang terbesar di mana China berinvestasi.

China adalah negara yang datang pertama dan tak ribut manakala Indonesia menerapkan aturan tak ingin lagi menjual barang mentah. Sementara, negara-negara dari Eropa lebih senang berungkap kemarahan dan mengancam bila kebijakan itu diberlakukan. 

Atas kesedian China melakukan investasi membuat smelter, barang mentah itu kini mengalami nilai tambah. Dengan mengolah bijih nikel menjadi feronikel, misalnya, harga barang tambang itu meningkat. Dari 55 dollar AS per ton menjadi 232 dollar AS per ton. Adakah itu tak memberikan nilai tambah sekitar 400 persen?

"Adakah kita hanya akan terus menjual barang setengah jadi dalam rupa feronikel itu pada China?"

Bermimpi dan berakhir dengan berkhayal adalah tentang tak ingin bekerja keras. Tak mau melalui sebuah proses pahit dan getir sebagai logis sebuah urutan peristiwa. Itu bukan tentang kita sebagai bangsa yang ingin menjadi bagian dari negara-negara maju dengan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan mereka yang kini telah mendahuluinya.

Sama dengan kita tak mungkin tiba-tiba berdiri pada puncak tanpa melalui konsep step anak tangga, tak lagi menjual barang mentah adalah step pertama. Step kedua adalah membuatnya menjadi barang setengah jadi dalam rupa feronikel dan terbukti telah meningkatkan nilai jualnya. Step selanjutnya atau step ketiga yakni membuatnya sebagai produk akhir kini telah dimulai. 

Baru-baru ini Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik industri baterai listrik di Karawang. Ini adalah merupakan bagian dari nota kesepahaman atau MoU yang disepakati antara Indonesia dengan Korea Selatan terkait investasi baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD 9,8 miliar atau setara dengan Rp142 triliun.

Dari hulu hingga hilir. Terintegrasi dalam satu tautan dengan fasilitas penambangan, smelter, pemurnian, serta industri precursor dan katoda. Fasilitas produksi baterai listrik ini akan menjadi yang pertama di Asia dan bahkan di dunia.

Bila target Indonesia terpenuhi yakni akan sudah bisa memproduksi baterai kendaraan listrik mulai Mei 2022, sudah pasti ini adalah sebuah prestasi luar biasa. Ini adalah tentang proses super cepat yang dapat dilakukan oleh sebuah bangsa dan ini tak boleh dipungkiri sebagai kebijakan luar biasa hebat Indonesia dibawah Jokowi.

Anak tangga pertama tercatat baru kita injak pada akhir tahun 2019. Pada 2020, anak tangga kedua telah kita jangkau dengan ekspor luar biasa besar feronikel ke China. Bila pada 2022 hilirisasi sebagai puncak prestasi tercapai, adakah itu mimpi berakhir khayalan?

Tidak hanya berhenti pada step 3, step keempat, target pada tahun 2035 nanti bahkan telah pula disusun. Indonesia dikabarkan telah mencanangkan produksi 4 juta mobil listrik dan 10 juta motor listrik pada tahun 2035 nanti.

Tahukah anda bahwa baterai listrik adalah merupakan komponen utama mobil listrik yang mencapai 40 persen dari total biaya mobil listrik? 

Itu adalah komponen terbesar dan maka target itu bukan sesuatu yang diletakkan di awang-awang tanpa jangkaun pasti. Itu sangat logis apalagi jika dibuat terkait dengan target pabrik baterai ini yang rencananya akan memiliki kapasitas produksi sebesar 10 Gigawatt Hour.

Tahukan anda sebesar apa 10 Gigawatt Hour? China sebagai produsen terbesar di dunia baterai lithium-ion, pada 2016 nilai produksinya adalah 16,4 GWh..

Semua adalah tentang proses. Dan itu telah kita lalui dengan benar. Adakah ikhtiar dan kerja keras seperti itu akan tetap dikatakan sebagai mimpi tak berujung? Hanya para skeptis yang bicara seperti itu. Hanya para pengecut dan penghianat bangsa saja yang tak mau menghargai usaha dan karya anak negeri sendiri.

Yang jelas, ketika pada mobil Mercedes Benz, BMW, Audi, VW, Ford, Volvo, Tesla, Toyota, Nissan, Hyundai pada tahun-tahun yang akan datang ada baterai tersemat di dalamnya dengan tulisan "Made in Indonesia", adakah mustahil baterai pada banyak smartphone pada merk Apple, Samsung hingga Huawei tak ada tulisan buatan Indonesia yang sama?

Asa itu akan terus mendorong kita menjadi bangsa besar. Bukankah CPO sebagai bahan baku dalam rupa minyak nabati hasil budidaya tanaman kita kini juga telah merambah pada BBM sebagai biodiesel dan hingga avtur sebagai produk akhir yang bernilai sangat strategis? Bukankah itu juga tentang hilirisasi? Memberi nilai tambah dalam maksimal?

"Bagaimana dengan para skeptis itu?"

Masa dibuang?

Jangan beri kesempatan untuk berkuasa adalah cara pada sistem politik dalam rupa Demokrasi di negara kita. Skip dan coret setiap nama yang pernah terkait dengan tindak KORUPSI meski itu cuma indikasi atau hanya katanya. Itu adalah bungkus transparan yang sering membuat kita tak sadar karena rapi bungkusan itu.

Kebijakan pemerintahan Jokowi harus terlanjutkan bila makmur rakyat Indonesia dikemudian hari adalah target kita bersama. 

Dia yang sangat adiktif pada Pancasila dan UUD 45 adalah salah satu kriteria dapat dimunculkan. Dia yang sangat logis dan bervisi teknologi masa depan patut pula menjadi syarat agar bangsa kita tak lagi sekedar menjadi bangsa pengunduh tapi bangsa pengunggah.

Bukankah berkali-kali sudah Presiden Jokowi dan hingga bu Megawati berbicara tentang pentingnya teknologi bagi masa depan bangsa ini?

Siapa pun penerus tongkat estafet Jokowi adalah dia yang juga mampu berbicara tentang Indonesia berteknologi sebagai bentuk capaian prestisius sebuah tatanan masyarakat.

Bukan mustahil, bila entah 5 hingga 10 tahun kedepan, seluruh atap rumah milik warga negara kita telah tergelar solar panel dan pada gudangnya tersimpan energi dalam baterai sebagai salah satu sumber ekonomi dan keuangannya. Bukankah matahari yang terus bersinar selama 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan 365 hari dalam setahun adalah berkah tak boleh tersia-siakan?

Berawal dari nikel ore dia berubah menjadi feronikel dan kini dalam perjalanan menjadi baterai mobil listrik. Bermula dari produk baterai kemudian meningkat menjadi salah satu produsen mobil listrik dunia sekaligus penghasil daya listrik akibat melimpahnya panas matahari yang kemudian dirubah menjadi daya listrik oleh seluruh warganya, mustahilkah Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan teknologi sebagai bidang unggulnya?


Itu semua akan terwujud bila dia yang melanjutkan dan membawa tongkat estafet presiden kali ini adalah sosok yang tepat. Dia yang Pancasilais sekaligus bervisi masa depan demi mencapai cita-cita Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah mutlak. Tak ada lagi tawar menawar.


(NitNot-KK)

Follow me on :

Instagram

Twitter

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads