Umum

D U O

D U O

Leonita Lestari

29 Apr 2022
 

Bebersih diri ala para pendukung Anis tak akan banyak membantunya. Sebesar apapun usahanya. 

Pemahaman itu sudah "kadung" mengendap dan berakar di alam bawah sadar rakyat Indonesia. Pilkada DKI 2017 adalah PILKADA PALING BRUTAL sekaligus MEMALUKAN adalah keadaan final.

Pun pada sang Gubernur, stigma AYAT dan MAYAT yang melekat hanya demi meraih kemenangan akan terus dimaknai sebagai kebenaran yang tak butuh penjelasan lagi. Di pengadilan, itu seperti makna inkrach.

Jadi, usaha para pendukungnya yang belakangan ini demikian gencar membuat narasi bahwa pak Gubernur adalah KORBAN PROPAGANDA JAHAT justru terdengar seperti lawakan. Lucu sekaligus menghibur kalau yang omong cak Lontong tapi udik bila Rocky Gerung yang bicara.

Itu sebuah kebaruan. Meski terdengar agak fals atau janggal bahwa hal seperti itu bisa datang dari kelompok pendukung Anis, itu sedikit melegakan..

Paling tidak, team kampanye Anis mulai sadar bahwa stigma ayat dan mayat itu sudah mulai agak mengganggu bila terus dibiarkan. Mereka mulai gak pede dengan pola perjuangan satu warna yakni politik identitas.

Pada skala nasional, itu memang akan cenderung merugikannya.

Artinya, bila benar dia kelak akan maju, cara brutal seperti pada Pilkada DKI ada potensi tak akan diulangi lagi. Pada situasi kebangsaan, ini tentu sesuatu yang agak melegakan.

Anehnya, pada sosok pangeran biru, kejadian sebaliknya justru terlihat sedang terjadi. Rasa mindernya karena merasa masih penuh dengan kekurangan, telah membuat dia sibuk mencari simbol-simbol yang lain.

Dia menampakkan citra diri yang masih saja merasa kurang pede meski telah bergelar keturunan Majapahit yang entah karena wangsit apa tiba-tiba muncul. Baru-baru ini dia terima predikat lain, keturunan Arab.

Tak penting itu masuk akal atau tidak bagi publik, baginya itu keren. Baginya itu akan menambah rasa percaya pada dirinya.

Dia yang seorang muda, ganteng (kata pendukungnya), Ketua Umum sebuah partai politik plus anak seorang Presiden tapi masih merasa minder dan gak percaya diri, tentu menimbulkan banyak tafsir. Jelas terkait dengan rasa ragu banyak pihak : "ada yang tidak beres".

Itu seperti tidak masuk akal tapi benar-benar terjadi. Itu pasti bukan masalah sepele.

Tapi dia ingin jadi PRESIDEN. Bukan hanya dirinya ingin, bahkan sejak lama dia telah dirancang untuk menjadi seorang PRESIDEN seperti bapaknya pernah.

Mungkinkah?

Entahlah, yang jelas, meski atas otoritas apa kita masih dibuat bingung, terbukti dia dikabarkan telah melantik 313 kiai langgar di Banyuwangi ga lama setelah gelar barunya sebagai keturunan Arab disahkan.

Faktanya, baik yang melantik dan yang dilantik, semuanya terlihat senang dan sumringah. Demi politik, semua adalah mungkin di negeri ini.

Apakah itu lantas menjadi seperti dagelan, sepertinya tidak. Bisa jadi sang pangeran biru justru belajar dari Pilkada DKI. Dia belajar dari fakta bahwa politik identitas membawa dampak significant dan mampu mengantarkan Anis menjadi Gubernur.

Bisa jadi, pada 2024 nanti, bukan Anis yang akan memakai politik identitas namun sang pangeran biru.

"Kalau benar nanti pakai politik identitas, emang ada potensi untuk dia menang?"

Jangankan menang, sempat melakukan kampanye saja sudah mustahil. Tak ada data dapat dibaca bahwa pada 2024 nanti dia akan mampu turut dalam kontestasi Pilpres tersebut.

Batas 20 persen presidential threshold terlalu amat sulit didapat dari ajakan koalisi dari partainya meski hanya maju menjadi cawapres misalnya. Tak ada bisik-bisik itu apalagi benderang pernyataan.

"Emang bapaknya gak bisa bantu?"

Pada Pilkada DKI, meski bapaknya belum terlalu lama menjabat Presiden, putaran pertama saja sudah tumbang. Tak ada tampak pengaruh dari sang ayah mampu melejitkan namanya. Apalagi pada 2024 nanti bukan?

Bukankah itu sudah berjarak 10 tahun sejak sang ayah tak lagi menjabat sebagai Presiden dan maka makin jauh dari rasa punya pengaruh?

Itu terkait sang ayah, pada diri sendiri pun dia terlalu banyak menebar kendala tak mudah dilalui.

Dia sendiri saja masih gak yakin pada dirinya sendiri dan maka butuh artificial gelar yang macam-macam masak orang lain bisa yakin? Itu nalar sederhana.

"Bagaimana dengan Anis?"

Narasi yang sedang dibangun bahwa Anis adalah sebagai korban propaganda pada Pilkada 2017 lalu jelas lawakan. Itu kekonyolan TINGKAT DEWA.

Stigma itu telah menetap. Sepertinya, usaha menjadi sebersih apa pun dia nanti, mayoritas rakyat Indonesia masih akan takut terbawa terlalu jauh pada akibat perpecahan dan sangat tidak menguntungkan itu. Ada ongkos terlalu mahal dan mustahil rakyat gak tahu.

Sudah gitu, per Oktober 2022 nanti dia sudah bukan Gubernur lagi. Terlalu sulit waktu 2 tahun menuju 2024 tanpa panggung.

Jadi, apapun yang sekarang sedang ingin dibuat para pendukungnya, bahkan dengan dirigen seorang Eep Saefulloh yang kabarnya kembali akan dipanggil, itu masih tetap sangat sulit.

Lebih baik beliau konsentrasi pada formula E saja. Itu sudah di depan mata padahal tiket oun belum terjual kan?.

Bukankah kemarin sudah dibantu promosi oleh pak Presiden? Seharusnya itu dimanfaatkan dengan baik.

Dan ingat, ini kesempatan terakhir membuat para pendukungnya sedikit bangga. Kasihan militansi mereka selama 5 tahun dengan fakta tak satupun program besarnya ada yang sempat berjalan.

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/3EWbhoD6R9k


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads