Umum

CROWD, BIAS, MARAH DAN MALU

CROWD, BIAS, MARAH DAN MALU

Leonita Lestari

12 Jan 2022
 

Siapakah yang tak akan turut hanyut dan larut dalam irama yang sama manakala semua orang pada saat bersamaan lari menjauh atas teriakan adanya sebuah bom misalnya?


Atau entah bagaimana kita tiba-tiba tergerak turut mengejar seseorang hanya karena teriakan copet tertuju padanya?


Crowd atau kerumunan sering membuat kita lepas dari pribadi kita. Kita tiba-tiba kehilangan diri kita dan kita menjadi satu pribadi dengan kelompok. 


Pada Peristiwa demo misalnya, psikologi crowd ini paling sering dimanfaatkan oleh para korlap. Teriakan bakar dan berakhir dengan terbakarnya rumah berikut orang di dalamnya sebagai misal, dilakukan oleh Paijo yang kesehariannya jauh dari sifat-sifat itu.

Kenapa bisa, secara sederhana, Paijo kehilangan kepribadiannya. Dan seringkali, kita adalah Paijo-Paijo dalam wajah lain.


Itu tak hanya terjadi pada dunia nyata. Pada media sosial, perilaku crowd meski kita sedang sendirian di dalam kamar dan hanya berteman smartphone, itu dapat terjadi. Kita tiba-tiba turut larut dalam gelombang besar dimana kita tak tahu apa penyebab di balik gelombang besar itu.


Pada heboh berita seorang perempuan melakukan bunuh diri dimana ada unsur seorang Polisi di dalamnya, tiba-tiba kita menjadi pribadi yang lain. Kita menjadi sadis dan brutal dengan membuat vonis yang seolah adalah sudah menjadi fakta padahal kesehatian kita bukan tipe orang seperti itu. 


Kita marah pada sesuatu yang telah terlanjur digelorakan menjadi gelombang besar.

Dengan naluri kita yang mudah memberi simpati pada korban sebagai seorang perempuan lemah, kita diajak menjadi lupa dengan cara masuk pada wilayah sensitif kita, tentang makna ketidak adilan dan kita mengendorsnya.


Dramatis cara meninggalnya di atas pusara sang ayah, ini memang pembuka luar biasa. Empati kita mengalir deras tanpa sedikit pun hambatan. 


"Apapun ceritanya, si Polisi itu SALAH!!"


Salah dan benar bukan soal persepsi. Itu wilayah hukum. Itu wilayah dimana saksi dan bukti digelar dan diperdebatkan dengan dalil dengan hadirnya seorang hakim pada sebuah sidang pengadilan.


Konferensi pers atas cerita itu adalah keduanya telah berkenalan sejak Oktober 2019. Bila bukti ini benar, bukankah pacaran selama lebih dari 2 tahun telah berbicara? Itu bisa berakibat apapun. 


Bisa makin dekat satu dengan yang lain demi masa depan ingin mereka bangun, tapi juga bisa membuat cerita yang lain.


Di sisi lain, aborsi sebagai jalan keluar kabur dan lari dari kenyataan bahwa keduanya belum dewasa juga telah mereka lakukan 2 kali. Konon itu terjadi pada Maret 2020 dan Agustus 2021.


Itu hanya data dan masih harus dibuktikan.

"Bukankah si lelaki adalah polisi? Kenapa kita tidak curiga telah terjadi kesewenangan misalnya?"


Itu wilayah penyidik. Dan Randy juga telah diamankan demi penyidikan yang lebih intensif.


Seandainya Randy adalah Kapolres misalnya, atau Kasat Reskrim yang punya wewenang besar, faktanya Rendi hanya bintara dengan pangkat paling rendah yakni Bripda. 


Jabatannya pun hanya sebagai petugas umum yang tak memberi ruang lebar bagi egonya berbuat sesuka hati. 


Pun pada cerita awal yang tiba-tiba berkembang dan menjadi besar terkait isu bapaknya adalah anggota DPRD.


Pada titik ini, ada baiknya kita melihat dari sisi hubungan dua anak manusia saja terlebih dahulu. Prasangka kita tak membawa kita pada penyelesaian yang adil dan bermartabat.


Konsekuensi Randy sebagai seorang Polisi yang pada faktanya tak pantas menjadi panutan akan menggiringnya pada hukuman yang makin berat. Selain pidana umum yakni terlibat aborsi, dia akan dikenakan pasal kode etik. Paling sedikit, dia akan dikenakan 2 pasal tersebut.


Memaksa polisi dengan tekanan massif untuk memberikan hukuman paling berat hanya akan membuat otoritas hukum di negara ini mudah diintervensi dan berjalan dengan cara tak taat asas. 


Dan itu adalah tentang blunder penegakan hukum. Di satu sisi, kita ingin hukum berwibawa, di sisi lain ternyata kita justru memaksa aparat hukum ikut arus bukan membuat arus.


Bisa jadi, ini adalah tentang rasa tak puas kita pada kinerja aparat Kepolisian. Bisa jadi, kasus Randy hanya bias kita pada rasa tak puas itu.


Kita tetap harus simpati pada derita yang menimpa NW hingga nekad mengakhiri hidupnya. Kita sampaikan duka mendalam pada keluarga korban. 

Namun akar pokok permasalahan kita pada kasus-kasus seperti ini adalah tentang pendidikan dan aturan hukum yang lebih berpihak pada perempuan. Dan kita tahu RUU PKS yang berbicara banyak tentang posisi perempuan tak banyak mendapat respon positif dari bapak-bapak yang mulia yang duduk sebagai pembuat UU.


"Trus kinerja Polisi ga kita kritisi?"


Kenapa kita tak berbicara apa yang belum lama disinggung Presiden terkait sowan beberapa pejabat Polisi pada para petinggi ormas misalnya daripada melalui jalur Randy yang masih abu-abu dibanding hitam dan putih?


(NitNot-KK)



Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads