Umum

CERITA DI BALIK FADEL MENANTANG JOKOWI AGAR MEMECAT SRI MULYANI

CERITA DI BALIK FADEL MENANTANG JOKOWI AGAR MEMECAT SRI MULYANI

Leonita Lestari

12 Jan 2022
 

Sudah jatuh, ketimpa tangga. Sudah gitu, keguyur cat pulak! Mungkin, itulah apa yang kini menimpa Bambang Soesatyo. 


Belum terlalu lama kita dibuat heboh dengan pernyataannya terkait Formula E. Dia berujar bahwa terkait tempat penyelenggaraan balap mobil listrik sebagai hajatan milik Gubernur DKI akan ditentukan oleh Presiden.


‚ÄúSirkuit atau lintasan Formula E tidak boleh berada di dua tempat. Saya larang, yang pertama adalah Monas, kedua GBK. Yang lain terserah. Kami hanya bisa menyampaikan lima opsi lintasan, selanjutnya untuk menentukan lokasi kami serahkan kepada Bapak Presiden," kata Bambang saat jumpa pers terkait Formula E di Kantor Blackstone, Jakarta Pusat, Rabu (24/11) malam. 


Pernyataannya tersebut membuat Gubernur DKI diserang. Anis dianggap tak bertanggung jawab atas rencana hajatan penuh sensasi yang telah lama menjadi agendanya. Cerita itu dibaca oleh publik seolah adalah upayanya menarik-narik Presiden pada ranah kacau balau tersebut.


"Apakah ide cerdik ini berhasil?"

Cukup dengan pukulan tangan kecil seorang Faldo Maldini semuanya dibuat menjadi berantakan.


Manuver cerdik Anis adalah meminta Bambang harus membuat klarifikasi. Dan seperti biasa, cerita ajaib itu langsung tak menjadi bahan gunjingan lagi.


Pak Gubernur "memerintahkan" pak Ketua MPR yang sebelumnya telah diangkat menjadi Steering Committee Formula E untuk klarifikasi. 


"Adakah epik peristiwa dapat diambil?"


Ya, dia yang memiliki jabatan super tinggi yakni sebagai yang melantik Presiden Republik Indonesia ingin ditampilkan dalam bingkai berbeda. Meski dengan baju berbeda (sebagai Steering Committee Formula E), dia adalah yang melantik Jokowi menjadi Presiden dan kini menerima perintah dari Gubernur.


"Haruskah mereka malu?"


Dan Bambang Soesatyo pun menutup cerita itu dengan cara keren. Dia tampil dalam kecelakaan dramatis bersama Jagonya Ayam. Photo mobil rally Ricardo Gelael tersebar dalam kondisi hancur.

"Terkait pembelaannya terhadap Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad yang berusul agar Presiden memecat Menteri Keuangan Sri Mulyani, apakah sikap pak Ketua MPR ini juga harus dikoreksi?"


Dia memang mencoba membuat klarifikasi terkait Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad yang menyampaikan 10 pimpinan MPR meminta agar Presiden mencopot Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dia menyoroti bahwa yang menjadi akar masalah adalah sang Menteri dianggap tidak menghargai kelembagaan MPR RI.


"Benarkah?"


Masak harus kita jawab dengan BAPER?


Faktanya, sehubungan dengan pernyataan pimpinan MPR mengenai ketidakhadiran Menkeu dalam dua undangan rapat dengan pimpinan MPR membahas anggaran MPR, Menteri Keuangan memiliki alasan tepat.


Untuk undangan pada 27/Juli /2021, itu bersamaan dengan rapat internal Presiden yang harus dihadiri sehingga kehadiran di MPR diwakilkan Wamen. 


Untuk undangan tertanggal 28/September /2021, itu juga bersamaan dengan rapat Banggar DPR membahas APBN 2022 dimana kehadiran Menkeu wajib dan sangat penting.


Terkait tabrakan jadwal dan Menkeu memilih hadir pada undangan yang lain, tepatkah alasan Menkeu tak hadir pada undangan MPR dijadikan alasan?


Di sisi lain, alasan anggaran untuk MPR yang terus turun atau sengaja dipotong oleh pemerintah adalah cerita dengan bumbu tak sedap.


Data memang berbicara bahwa anggaran MPR tahun sebelumnya pernah turun dari Rp 603,67 miliar menjadi Rp 576,12 miliar.

Data bahwa dalam buku III Himpunan RKA/KL tertulis, pada tahun 2021, anggaran MPR tercatat mencapai Rp750,9 miliar, sementara, pada 2022 mendatang, anggaran MPR kembali turun menjadi Rp 695,7 miliar.


Pantaskah atas banyak alasan itu telah membuat mereka kemudian marah pada Sri Mulyani?


Padahal, khusus untuk pemotongan anggaran tersebut, adalah demi solider pada rakyat yang telah memilih mereka duduk pada kursi mulia yang kini mereka duduki. Anggaran mereka terkoreksi karena negara mengalihkan sebagian dana itu untuk penanganan pandemi. Dan itu telah disampaikan langsung oleh Menkeu.


Bukankah kemarahan itu justru seperti sikap culas yang sedang mereka banggakan?


Terkait Fadel, mengutip data Kementerian Keuangan per Desember 2020, konon Fadel juga tercatat masih memiliki utang BLBI senilai Rp136,43 miliar atas kepemilikan Bank Intan. Fadel diketahui pernah menjadi salah satu pemegang saham Bank Intan yang kemudian dilikuidasi. 


Adakah ini bukan tentang unsur benang merah terkait kemarahannya pada Sri Mulyani secara pribadi?

Bila Bambang Soesatyo seolah terjebak harus terlihat membela para wakilnya sama dengan menjadi tameng bagi Gubernur DKI terkait Formula E, dia memang terlihat seperti orang yang jatuh dan tertimpa tangga. 


Bukan tentang nasib si tukang itu sedang sial, ini adalah soal tak profesionalnya si tukang yang bekerja tanpa peduli pada SOP atau Aturan Keselamatan Kerja. Semua hal seolah adalah urusannya.


(NitNot-KK)



Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads