Umum

BEGAL TERBEGAL

BEGAL TERBEGAL

Leonita Lestari

19 Apr 2022
 

Si penakluk begal itu, oleh para penyidik polisi, boleh pulang untuk sementara waktu. Kelak bila kembali dibutuhkan untuk pemeriksaan dan hingga dimintai keterangan, dia wajib datang.

Murtede alias Amaq Sinta (34) untuk sesaat boleh berkumpul lagi bersama keluarganya. Pemintaan penangguhan penahanannya telah dikabulkan penyidik.

Ini tentu karena berita atas kasus yang menimpa dirinya tersebar hingga seluruh penjuru negeri. Berita itu jadi perbincangan karena dianggap ada kejanggalan. Dan ini tak lepas dari jasa netizen yang sibuk membuatnya jadi viral.

Narasi yang berkembang adalah "orang dibegal jadi TSK pembunuhan dan mamun si begal jadi saksi" jelas terdengar aneh pada masyarakat umum. Dan maka itu cepat trending. Apalagi emosi rakyat terkait kegilaan para begal itu saat ini sedang meninggi.

Murtede seolah jadi antitesa para begal yang selama ini perkasa. Murtede yang berhasil membunuh begal itu adalah pahlawan di saat aparat cenderung selalu kecolongan dan tak mampu melindungi masyarakat. 

Si pemberani dan dianggap pahlawan namun justru ditersangkakan telah membawa gelombang protes.

Murtede adalah seorang korban begal yang ditahan dan kemudian ditetapkan oleh penyidik kepolisian sebagai tersangka atas dugaan telah melakukan pembunuhan dua begal dan melukai dua begal lainnya. 

Di Lombok TImur, Minggu (10/4/2022) malam, ia dibegal oleh empat orang ketika sedang mengendarai sepeda motornya. Tak ada cara lain selain mempertahankan nyawa dan hartanya, dia melawan. Dia memilih bertarung langsung dengan empat pelaku begal tersebut dibanding menyerah. Dua begal tewas dan dua yamg lain kabur.

"Saya melakukan itu, karena dalam keadaan terpaksa. Dihadang dan diserang dengan senjata tajam, mau tidak mau harus kita melawan sehingga seharusnya tidak dipenjara, kalau saya mati siapa yang akan bertanggung jawab," katanya.

Berita pembebasan bersyarat Murtede menjadi perbincangan. Masyarakat mengapresiasi putusan polisi. Namun apakah Murtede akan bebas selamanya, itu bukan wilayah penyidik kepolisian tapi itu adalah wilayah pengadilan kelak. Itu tergantung putusan hakim saat perkara itu telah disidangkan.

"Kenapa tak dibebaskan saja sih, bukankah dia hanya bela diri? Tak ada unsur sengaja apalagi niat membunuh kan?"

Jangankan menghabisi nyawa dengan senjata tajam seperti yang diberitakan pada kasus Murtede, kita lagi nyetir mobil trus ada motor nabrak kita dan pengemudinya tewas saja hukum hanya bicara tentang menghilangkan nyawa orang lain baik disengaja maupun tidak harus dihukum. 

Hukum yang ada tak bicara siapa benar dan siapa salah ketika terjadi peristiwa yang menyebabkan hilangnya nyawa. Pada kasus Murtede, pasal pembunuhan adalah UU yang ada dan disediakan oleh negara.

Meski tak berniat membunuh, fakta yang ada adalah telah ada orang yang tewas karena sebab terbunuh. Dan karena tak ada indikasi atau unsur perencanaan atau sengaja, maka pasal pembunuhan tak berencana adalah pasal teringan yang dapat disangkakan pada Murtede.

Pembunuhan yang tidak direncanakan dan tidak diikuti dengan tindak pidana lainnya diatur dalam pasal pembunuhan 338 KUHP di mana bahkan hukuman maksimalnya pun masih 15 tahun penjara. 

Karena ancaman hukumnya diatas 5 tahun, kemarin polisi harus menahan Murtede. Itu perintah undang-undang. 

Bila hari ini kita dengar bahwa Murtede boleh berada di luar tahanan sementara kasusnya juga masih tetap berjalan, itu subjektivitas penyidik. Bisa karena sebab apapun. Itu hak yang juga dimiliki oleh penyidik.

Apakah bukan karena desakan masyarakat demi rasa adil?

Sekali lagi, alasan subyektif tak harus dibuat jadi perdebatan. Undang undang memberi kewenangan itu dan kini digunakan. Apapun alasannya, bukan wilayah kita meminta polisi menjelaskannya.

"Trus kenapa 2 begal yang lain hanya jadi saksi?"

Dua orang itu adalah saksi pada perkara Murtede namun pasti juga tersangka pada kasus perampokan dengan kekerasan atau begal. Di tempat sepi dan tak ada saksi lain dapat dimintai keterangan, baik korban maupun pelaku dapat menjadi saksi, terlapor dan bahkan pelapor. 

Rasa adil bagi masyarakat memang terasa terobati karena Murtede sebagai pihak yang dirampok dan hanya membela diri namun justru ditahan kini dirasakan. Murtede boleh berada di luar tahanan selama masa pemeriksaan.

Namun itu bukan berarti Murtede tak akan menjalani sidang di Pengadilan. Polisi sebagai aparat penyidik diperintah oleh Hukum untuk menyelidiki dan menyidik. Jaksa penuntut umum akan melanjutkan dengan melakukan tugas penuntutan.

Bagaimana hakim kelak akan memutus perkara tersebut, kebijakan hakim sebagai wakil Tuhan pun berbatas. 

Ya, siapapun menghilangkan nyawa orang lain baik sengaja atau tidak, baik hanya untuk bela diri demi menyelamatkan nyawanya sendiri atau bahkan nyawa orang lain, saat ini, hukum hanya menyediakan opsi itu.

"Ga adil dong hukum yang ada?"

Kasus serupa pernah terjadi di Bekasi. Begal yang ingin merampas HP justru tewas dengan celurit miliknya sendiri yang berhasil direbut oleh korban. Pada awalnya, korban juga sempat ditersangkakan namun Kepolisian akhirnya justru membebaskan.

Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota justru memberikan penghargaan kepada Mohamad Irfan Bahri dan Ahmad Rafiki, dua pemuda yang melawan aksi pembegalan di Jembatan Layang Summarecon Bekasi, Rabu (23/5/2018) lalu.

Peristiwa Bekasi bisa menjadi rujukan bagi peristiwa di Lombok Timur.

Pada peristiwa di Malang, cerita itu harus berakhir di Pengadilan. Korban yang bertahan dan namun juga berhasil membunuh sang begal itu dikenakan pasal 351ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. 

Dia dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Negeri Kepanjen Kabupaten Malang dengan hukuman 1 tahun pembinaan karena pertimbangan usia yang masih muda.

"Bagaimana bila perkara Murtede tetap sampai di Pengadilan?"

Berharap bahwa hakimnya kelak adalah sosok keren dan berani menabrak pakem yang ada, entahlah... Sepertinya agak sulit dari negeri ini muncul sosok pendobrak. 

Bukan menghukum 1 tahun seperti di Malang, tiba-tiba karena satu dan lain hal hakim berani membebaskan Murtede misalnya, itu pasti akan bikin heboh. 

Mungkin para ahli hukum akan berkata itu konyol. Tapi bukankah hakim otonom? Bukankah rasa kebenaran bukan tentang 1 tambah 1 pasti 2?

Entahlah, namanya juga opini kan? Yang jelas, bila itu terjadi, itu akan menimbulkan perdebatan luar biasa ramai. Pak polisi dengan subyektifitasnya saja berani melepas TSK padahal ancaman hukumnya 15 tahun dan jauh dari 5 tahun sebagai syarat boleh menahan seseorang.

Hasil putusan itu "mungkin" justru bisa mengisi kekosongan hukum yang ada meski hanya untuk sementara. Dalam persidangan.yang lain kelak, Itu mungkin justru akan bisa jadi yurisprudensi hukum. 

Ya, tak semua begal hanya ingin motor atau mobil kita. Kadang, demi menutupi jejak, sejak awal mereka ingin merampok, mereka memang telah menetapkan akan membunuh dalam tindak kejahatan itu. Pada titik itu, tepatkah spontan korban ingin mempertahankan nyawanya sendiri dihukum dengan pasal pembunuhan?

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/00CWtyKSTDY


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads