Umum

BAJUKU KENAPA HARUS JADI CERMIN SURGAKU?

BAJUKU KENAPA HARUS JADI CERMIN SURGAKU?

Leonita Lestari

28 Jun 2021
 

Pas photo dalam KTP, Pasport atau banyak kartu identitas yang lain tentu memiliki maksud. Identitas anda sama dengan apa yang tercantum dalam keterangan pada kartu itu. Gambar wajah anda atau photo anda adalah petunjuk sederhana sebagai pemilik identitas itu.

Paling tidak, itulah maksud sederhana atas diterbitkannya kartu identitas. Paling tidak, berdasar 1 kartu tersebut, informasi lebih detail mudah didapat bagi yang membutuhkannya. Maksud lain yang lebih rumit banyak, dan maka banyak macam kartu dibuat.

Namun bila ada diantara kita menolak difoto karena alasan tertentu yakni keyakinan atau perintah agamanya, dan wajah harus tertutup sempurna dalam pas foto di pasport misalnya, pentingkah makna pasport itu?

Terjadi apa pemaknaan akan kontra produktif kita kenal. Sia-sia. Tidak masuk akal. Maksud dari kartu itu dibuat menjadi sia-sia. Sebuah sistem langsung bubar karena interpretasi suka-suka.

"Bukankah itu hak? Apalagi keyakinannya memang memerintahkan demikian kan?"

Ketika berbicara hak, manusia yang mengerti sebuah tatanan pasti kenal apa itu kewajiban apalagi dalam konteks hidup bermasyarakat, bernegara dan berhukum. Di sana makna dari keseimbangan mendapat tempat.

Karena sifat memaksanya demikian kuat, maka beberapa negara akhirnya harus membuat aturan spesifik atas kondisi yang dianggap telah sampai pada titik meresahkan.

Karena "burqa" telah dimanfaatkan menjadi salah satu cara untuk berbuat tak baik seperti banyak peristiwa bom di Timur Tengah dengan tersangka mereka yang ber"burqa", Tunisia, Turki dan Suriah menerbitkan aturan atas pelarangannya.

Karena sebab perilaku yang cenderung mengarah pada sifat eksklusif dalam tataran masyarakat terbuka, banyak negara Eropa (terkahir Mei 2018 Denmark) dan hingga Australia terutama provinsi Quebec melarangnya.

"Bagaimana dengan kita?"

Jilbab dalam ranah seragam sekolah yang secara eksplisit tampak mengarah pada identitas agama tertentu yang kemarin cenderung dipaksakan pada banyak sekolah negeri, sudah dilarang. SKB 3 Menteri memberi jalan baru kemana arah kita nanti.

Kita tak tahu sejak kapan segregasi semacam itu mendapat tempat. Kita tak tahu persis kapan itu dimulai. Kita juga tak paham kenapa itu harus pernah terjadi. 

Tapi fakta bahwa sekolah tempat seharusnya kita belajar dan menerima keniscayaan bahwa kita penuh warna sempat dijadikan awal penyeragaman bagi kelak bagaimana warna kehidupan masyarakat kita, benar telah terjadi. 

Dan itu memang mengkhawatirkan. Itu tentang kelompok yang secara terencana, sistematis dan masif bekerja demi warna Indonesia 10 hingga 20 tahun kedepan. Dan itu dimulai dengan cara sederhana, baju.

Beruntung, kita cepat sadar.

Paling tidak, nalar para pemimpin kita saat ini lebih baik dibanding rezim sebelumnya yang cenderung tak peduli. Selalu hanya tentang bagaimana diri dan kelompoknya tak berjarak dengan mereka yang senang memaksa dan berteriak. Selalu tentang mencari aman.

"Bukankah itu demi akhlak siswa siswi kita sendiri?"

Banyak diantara kita cenderung mudah tergoda untuk cepat menunjuk siapa salah dalam setiap kejadian. 

Dengan gampang kita marah atas kejadian di jalan raya misalnya. Tak penting siapa benar siapa salah, penting bagi kita ngamuk lebih dulu ketika senggolan di jalan terjadi adalah salah satu bukti.

Demikian pula ketika kita tersandung sesuatu, gelas misalnya. Mudah spontan mulut kita berteriak siapa yang taruh gelas sembarangan dan namun bukan berkaca kenapa tak berhati-hati pada kita sendiri.

Melihat perempuan berpakaian tak seperti standar iman kita dan lantas menghubungkan dengan banyaknya kasus pemerkosaan, adalah tentang paradigma yang tak jauh berbeda. 

Karena sebab mata tak tahan melihat sedikit bagian tubuh tampak dan lantas pemilik tubuh tersebut dipersalahkan meski menjadi korban, adalah cerita tentang nalar kebalik yang sedang di benar-benarkan.

Bukan mereka yang memakai baju salah yang tak berakhlak, mata dari pemilik pikiran mesum itulah yang harus dipertanyakan kesehatannya. 

Tepatkah kita meletakkan dasar kebenaran dan lantas membuat aturan atas pikiran mereka yang secara kejiwaan masih harus dipertanyakan?

Mereka senang membuat klaim bahwa baju versi merekalah pembimbing akhlak menuju jiwa benar. 

Benarkah?

Yang jelas, ketika tubuh kita tertutup total sepanjang hari, itu tak sehat karena sinar matahari sebagai sumber kehidupan tak lagi menjamah kulit kita. Apalagi bila dipaksakan pada mereka sejak usia dini.

Tidaklah tepat menetapkan standar universal tentang apa itu akhlak, apalagi dibumbui dengan disematkannya nilai kesucian atas diri si pemakai hanya dari mode pakain saja. 

Bukankah burqa tak dipakai pada saat para wanita melakukan ibadah haji? Mungkin itu cuma pakaian tradisi Arab atau Yahudi, maka bukan pakaian wajib saat menjalankan rukun iman itu.

"Kenapa justru itu yang diiklankan sebagai pakain ramah surga?"

Mabok adalah kondisi seseorang saat terlalu banyak mengkonsumsi sesuatu. Demikian pula saat beragama dijadikan konsumsi berlebihan.

Dalam kondisi halu, belum terlalu genap otak itu bekerja, dalam remang kalud tak sadar, halusinasi memberi tampilan agama dan budaya bertaud dalam satu carut marut saling menindih. Gado-gado itulah yang mereka bawa pulang.

Budaya Arab, atau entahlah itu dari mana, diberi makna jalan surga. Budaya pun menjadi dogma.

"Emang ada yang salah dengan budaya itu?"

Kita punya tradisi yang jauh lebih membumi dengan tanah, air dan udara Indonesia dimana kita berpijak. 

Ibuku sangat cantik dengan kebayanya. Pun ibu dan ayah saudaraku dengan baju bodo, baju kurung, ulee balang, aesan gede, pangsi, king bibinge, cele dan ratusan nama pakaian adat kekayaan budaya kita, terlihat sangat cantik dan ganteng.

Adakah neraka pasti dituju karena ibu dan ayah saudara kita cantik dan ganteng dengan pakaian tradisi kebanggan leluhur, sekali lagi, pasti orang mabok yang mendalilkan hal seperti itu.

Agama tidak berbaju. Pun surga tak bersyarat pakaian. Paijo Jawa yang Islam, Tarigan Batak yang Kristen, Gde si Bali yang Hindu hingga Euis yang Sunda Wiwitan tak berebut surga dengan baju. 

Mereka memaknai surga dengan saling memberi satu dengan yang lain. Tak terlihat berbaju apa ketika memberi pun saat harus menerima.

Tangan kiri tak melihat apa kebaikan tangan kanan dan senyum sapa selalu tersedia tanpa kenal batas habis pada sesamanya.

Itulah makna kita beragama. Itulah seharusnya kita Indonesia.

Unity in Diversity - Bhinneka Tunggal Ika

(Nitnot-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads