Umum

BAGIKU, TUKUL ARWANA LEBIH BERHAK

BAGIKU, TUKUL ARWANA LEBIH BERHAK

Leonita Lestari

22 Nov 2021
 

Almarhum bapakku mendapat hak untuk dimakamkan di taman makam pahlawan karena beliau adalah penerima Bintang Gerilya. 


Beliau juga mendapat beberapa bintang jasa yang lain karena turut hadir dalam banyak palagan pertempuran sepanjang negeri ini berdiri. 


Entah kenapa, bintang Gerilya-nyalah yang menjadi tolok ukur atas hak taman makam pahlawan yang kini menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir.


Berderet panjang cerita dapat diambil dari kisah hidupnya terkait kehadirannya pada setiap pengalaman tempur demi Indonesia tetap bersatu. Dia hadir pada peristiwa pemberontakan Madiun, Kartosuwiryo, PRRI, Kahar Muzakar, Perebutan Papua hingga G 30 S PKI. 


Bintang Gerilya yang didapatnya menyembunyikan cerita tentang sejarah tentara Indonesia yang sengaja menarik paksa militer Belanda untuk menjalani perang yang tak mereka pahami. Itu terjadi pada agresi Belanda I dan II tahun 1947 dan 1948 yang kemudian berhasil memaksa Belanda masuk pada perundingan.


Tak ada perang terbuka digelar dan sebagai gantinya hit and run dilakukan dan kemudian menjebak tentara Belanda pada rasa frustasi tak berkesudahan. Bila sesekali perang terbuka dijalankan, perang besar di Jogja dan Solo yang sering kita kenal dengan serangan umum 1 Maret 1949 adalah contohnya.

Konon Panglima besar Jenderal Soedirman berada di belakang taktik perang gerilya tersebut. Dan hingga kini, teknik perang gerilya masih tetap menjadi kurikulum wajib sekaligus materi unggulan yang tak diajarkan pada militer di negara lain pada generasi militer Indonesia modern saat ini.


Ketika saat ini kita justru terkesan lebih banyak membicarakan peristiwa 30 September dibanding 10 November, itu memang terdengar aneh. Itu seperti kita lebih menghargai kisah rebutan makan dengan saudara sendiri dibanding kita menghalau agresor asing.


Kita lebih bangga berbicara betapa mulianya rebutan kekuasaan meski harus dengan akibat saling bunuh sesama saudara dibanding cerita hebat manakala pejuang kita secara serentak melawan Belanda yang sembunyi di belakang sekutu. Dengan senjata apa adanya, arek-arek Soerobojo melawan.


Kenapa makna kepahlawanan seakan tak lagi mampu membangkitkan rasa nasionalisme kita, bisa jadi karena siapapun saat ini dengan mudah menjadi pahlawan. Dia yang karena keputusan politik, berhak mendapat bintang jasa dengan kelas tertinggi.


Fadli Zon misalnya, terlepas bahwa sangat mungkin tak ada satu pun rakyat Indonesia berpikir bahwa dia pantas mendapat gelar tersebut, dia adalah pahlawan. Dia memiliki hak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena bintang Maha Putra yang didapatnya.


Dan itu dia dapat dengan mudah. Cukup hanya dengan menjadi Wakil Ketua DPR dengan gaji dan tunjangan yang aduhai selama 5 tahun tanpa jeda. UU memberi aturan itu. Aturan atau UU yang mereka buat ternyata juga di-design bagi keuntungan kelompok elit itu sendiri.

Ga tahu dengan anda, bagi saya, Tukul Arwana misalnya, jauh lebih memiliki kontribusi positif bagi rakyat dibanding dengannya. Namun UU tak bicara demikian.


Apapun itu, kita tak sepantasnya melupakan jasa-jasa para pahlawan kita.

SELAMAT HARI PAHLAWAN 🙏🙏



(NitNot-KK)




Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads