Umum

BADUI POTRET JUJUR KITA YANG TERSISA

BADUI POTRET JUJUR KITA YANG TERSISA

Leonita Lestari

17 Aug 2021
 

Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten. 

Konon, demi Sungai Ciujung tetap terjaga kelestariannya,diperintahkanlah oleh raja setempat sekelompok orang berdedikasi untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung tersebut.

Mereka juga mendapat mandat untuk tetap memelihara kabuyutan atau tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang.

Kelak kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan.

Berbicara tentang mereka, itu seperti kita melakukan perjalanan waktu dan menemukan wajah Indonesia. Berbicara tentang siapa Indonesia, seharusnya tentang hubungan manusia dan semesta dalam keselarasan. 

Suku Badui atau Urang Kanekes, dalam beberapa aspek adalah album tersisa tentang siapa kita.

Ketika tiba-tiba Presiden mengenakan busana Badui saat pidato kenegaraan pada sidang tahunan MPR 2021, adakah asa tersirat ingin beliau sampaikan pada rakyatnya?

Adakah isi pidatonya memiliki jalinan saling mengikat ingin dia ceritakan dengan memaknai budaya Urang Kanekes itu? 

Ketika membaca teks pidato tersebut, teknologi mendapat perhatian besar. Dalam 6 point yang beliau sampaikan, paling tidak, 4 diantaranya berbicara tentang teknologi.

Ada semacam kebaruan dimana titik pijak pemerintahannya pada tahun-tahun yang akan datang sepertinya akan sangat diwarnai dengan berperannya teknologi pada usaha memajukan bangsa ini.

Namun, itu sekaligus seperti bertolak belakang dengan makna baju yang dia kenakan. Dan kita tahu bahwa Urang Kanekes selalu mengambil jarak dengan kemajuan manusia dalam bidang science.

Dan maka, ekonomi berbasis inovasi dan teknologi, khususnya ke arah Green Economy dan Blue Economy yang berkelanjutan adalah benang merahnya. Ada sebuah idealisme kuat tersirat dalam dirinya untuk mampu membawa Indonesia pada masa depan gemilang dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan namun tidak mengorbankan ekonomi negara. 

Transformasi menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau, akan menjadi perubahan penting dalam perekonomian Indonesia.

Ketika konsolidasi kekuatan riset nasional yang harus terus diupayakan disebutnya, ketika digitalisasi UMKM kembali juga disebutnya, ini tentang kebaruan.

Hal itu sangat jelas beliau nyatakan pada poin 4 dalam pidatonya manakala negara sedang sangat berkonsentrasi menangani permasalahan kesehatan, perhatian terhadap agenda-agenda besar menuju Indonesia Maju tidak boleh berkurang sedikit pun. 

Bencana Covid-19 justru mengajarkan pada bangsa ini bagaimana cara melangkah dengan bijak manakala pilihan pada kesehatan rakyat atau ekonomi harus diambil negara ketika pandemi melanda bangsa ini.

Pandemi yang telah berlangsung selama satu setengah tahun ini ternyata juga telah mengajarkan bahwa bidang kesehatan dan ekonomi harus dapat berjalan dalam seiring. 

Teknologi sebagai ujung tombak kemajuan bangsa dalam bidang ekonomi justru seharusnya dapat hidup dalam harmonis dengan kesehatan. Green Economy dan Blue Economy meminta dan mensyaratkan teknologi ramah lingkungan mengambil peran itu.

Pandemi juga telah mengajarkan kepada kita untuk mencari titik keseimbangan sebagai jawaban adaptif saat harus menginjak antara gas dan rem. Ada keseimbangan yang harus tetap dijaga antara kepentingan kesehatan dan perekonomian.

Itu memaksa Pemerintah harus merujuk pada data, serta pada ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru manakala dituntut untuk mengambil sebuah keputusan.

Pada sisi yang lain, kearifan lokal yang ingin Presiden sampaikan ketika memaknai pakaian Urang Kanekes yang dikenakannya, itu terkait erat dengan budaya kita yang terbiasa dengan introspeksi diri. Tidak dengan mudah menunjuk siapa yang akan dipersalahkan.

Pandemi merubah segalanya. Introspeksi sebagai kebiasaan kita mengarahkan kita sebagai bangsa pada bagaimana caranya beradaptasi bukan marah. Kita dituntut untuk adaptif.

Melalui pandemi, kita dipaksa adaptif pada sebuah normalitas baru. Memakai masker, menjaga jarak, tidak bersalaman, dan hingga tidak membuat keramaian menjadi kebaruan kita dalam perspektif normal yang kemarin tidak kita kenal.

Pandemi Covid-19 secara tidak langsung telah menuntut hadirnya akselerasi pada inovasi yang semakin menyatu dalam keseharian kehidupan kita.

Kita dituntut untuk bisa bekerja lebih efektif, lebih efisien, dan lebih produktif dan itu adalah tentang bangsa ini harus bermigrasi pada cara-cara baru di era Revolusi Industri 4.0. Teknologi Internet of Things memberi jalan pada bangsa ini.

Ketika kemandirian kita pada bidang industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan menjadi titik lemah kita, pandemi justru mempercepat proses pengembangan pada industri farmasi di dalam negeri. Di sana, adaptif kita adalah termasuk pada pengembangan vaksin merah-putih hingga oksigen untuk kesehatan. 

"Inovasi, sains, revolusi industri 4.0, riset, kenapa ucapan Presiden terdengar seperti tak asing pada sosok tertentu sih?"

Ketika secara khusus pada pidato itu Presiden berucap terimakasih pada DPR, entah kenapa hanya UU Ciptaker dan UU Desa yang disebutnya. Adakah itu juga harus dikaitkan dengan sosok itu?

Anggap saja itu hanya kebetulan. Ini bukan tentang kampanye dan maka pidato Pak @Jokowi yang banyak bicara teknologi bukan sedang menunjuk sosok tertentu dimana tongkat estafet 2024 akan diberikan.

Anggap saja itu sebuah keniscayaan manakala UU Desa yang konon dibidani oleh Budiman Sudjatmiko terkait dengan program infrastruktur yang telah dibangunnya. Infrastruktur memurahkan logistik untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Dari Desa.

Bila pada pembukaan pidatonya, Presiden menggunakan ilustrasi api itu membakar, tapi api yang menyala juga memberi unsur terang dan kalau api itu terkendali, api itu juga mampu memberi inspirasi dan bahkan memotivasi, itu tentang pilihan mana akan kita ambil. Faktanya, kita telah memilih menjadi adaptif.

Pada bagian penutup dari pidatonya, beliau kembali memaknainya dengan cara budaya asli bangsa ini yakni GOTONG ROYONG.

"INDONESIA TANGGUH, INDONESIA TUMBUH “, yang menjadi semboyan Bulan Kemerdekaan pada tahun ini, hanya bisa diraih dengan sikap terbuka dan siap berubah menghadapi dunia yang penuh disrupsi. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, hanya bisa dicapai jika kita semua bahu-membahu dan saling bergandeng tangan dalam satu tujuan."

Bukankah itu terkait dengan makna baju Urang Kanekes sebagai entitas asli Indonesia yang sengaja dikenakannya?


MERDEKA..!!


(NitNot-KK)

Follow me on :

Instagram

Twitter

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads