Umum

BENANG MERAH

BENANG MERAH

Leonita Lestari

25 Sep 2021
 

Hari Senin 20 September 2021 pak Jokowi meresmikan Rumah Susun Pasar Rumput yang berkapasitas 1.984 unit . 

Sehari sesudahnya yakni Selasa 21 September, Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi sebagai partner Gubernur dalam hal anggaran terlihat memenuhi panggilan KPK.

Seolah terlihat menyusul, pada hari yang sama, Gubernur Anis Baswedan pun tampak hadir pada gedung merah putih itu.

Keduanya hadir sebagai saksi atas perkara adanya dugaan telah terjadi tindak korupsi pada pengadaan tanah di Munjul Pondok Ranggon Jakarta Timur dimana lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Objek dalam rupa tanah seluas 4,2 hektar di Munjul itu adalah tempat dimana rencana rumah murah bagi warga yang pernah dijanjikan Anis itu akan dibangun. Pada rencana pengadaan tanah untuk pembangunan rumah DP 0% yang tak kunjung terealisasi itu ternyata ditemukan adanya dugaan tindak korupsi, dan maka keduanya dipanggil sebagai saksi atas telah ditetapkannya lima orang sebagai tersangka itu.

Itu benar-benar terlihat seperti tamparan Jokowi pada sang Gubernur yang tak kunjung merealisasikan pembangunan rumah DP 0% pada warga sesuai janji pada kampanyenya. Itu juga semacam kode dengan maksud.

Pak Jokowi seringkali memang selalu memberi makna pada setiap tindakannya. Pilihan hari bagi diresmikannya Rumah Susun itu tepat sehari sebelum Gubernur memenuhi panggilan KPK bukan mustahil adalah kode itu sendiri. Apa maksudnya, bukankah itu adalah apa yang harus dapat diterjemahkan oleh para lawan politiknya?

Tiba-tiba, Kamis 23 September 2021 atau 3 hari setelah peresmian dan 2 hari setelah Anis memenuhi panggilan KPK, BEM SI membuat ultimatum pada Presiden. 

"Kami Aliansi BEM Seluruh Indonesia dan GASAK memberikan ultimatum kepada Presiden Jokowi untuk berpihak dan mengangkat 56 pegawai KPK menjadi ASN dalam waktu 3x24 jam tercatat sejak hari ini 23 September 2021", demikian bunyi ultimatums tersebut.

Apakah itu sekedar kebetulan, kebetulan yang sama pada hari yang sama (Kamis) saat BEM SI ber ultimatum, di rumah Rocky Gerung berkumpul para lawan politik Jokowi. Bila ini hanya kebetulan belaka tentu akan bermakna terbalik dengan adagium bahwa dalam politik selalu ada kait mengkait.

Faktanya, minggu keempat bulan September ini memang minggu yang sibuk. Ribut Jendral Napoleon bonaparte yang memukul M Kace dan melumuri dengan kotoran manusia seolah ingin dijadikan bintang baru bagi panggung berwarna agama dibuat trending oleh mereka yang berwarna seperti itu baru pada minggu ini. 

Laporan Luhut pada Haris Azhar yang terjadi pada minggu ini faktanya juga semakin memperiuh bulan yang entah kenapa justru sedang sepi oleh isu PKI.

"Koq kaya teori gotak, gatik, gatuk gitu?"

Konon isu yang berkembang, pemeriksaan Anis katanya adalah maunya para pimpinan KPK dan bukan penyidik. Terlepas dari benar atau tidaknya kabar itu, itu pasti juga karena sebab tak mungkin tak terkait dengan adanya bukti petunjuk sehingga keterangan Gubernur sebagai eksekutif dibutuhkan dan maka predikat sebagai saksi dilekatkan pada Anis. 

Bukankah Prasetyo Edi juga secara spesifik berkata; "Itu eksekutif harus bertanggung jawab," saat memberi keterangan pada wartawan? Sekali lagi, itu pun dapat menjadi petunjuk.

Apakah itu tentang gotak, gatik, gatuk, yang saya tahu, batas ultimatum BEM SI adalah hari ini (Sabtu 25 September). Yang saya tahu, Senin 27 September, mereka akan melakukan demo bila ultimatum mereka tak dipenuhi oleh Presiden.

Apakah pantas BEM SI memberi ultimatum pada Presiden, yang saya tahu, dewasa cara mereka bicara pun tak tampak. Itu memaksa tanya mungkinkah mereka sudah bisa kencing sendiri dengan benar terucap. Untuk hal Itu pun, saya juga masih ragu.

Adakah PPKM Darurat yang kini telah tidak lagi terasa daruratnya akan dibuka dengan pesta demo demi makin riuh wajah perpolitikan kita, Jakarta akan selalu menjadi barometer. Itu terlihat pada KPK yang mulai menyenggol Anis, Rocky Gerung yang kalang kabut karena sebab tersandung sertifikat tanah, Haris Azhar yang digugat, persiapan bagi lahirnya bintang baru sang Napoleon, dan itu akan dibuka dengan demo BEM SI pada Senin 27 September nanti.

Serumit apapun keterkaitan satu dengan lain pihak, selalu ada benang merah yang dapat ditarik. Dan Presiden sudah tahu.


(NitNot-KK)

Follow me on :

Instagram

Twitter

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads