Umum

APA SIH YANG KAMU CARI-CARI, MAS BUDIMAN?

APA SIH YANG KAMU CARI-CARI, MAS BUDIMAN?

Leonita Lestari

12 Aug 2021
 

Tanggal 10 Agustus yang lalu, dia berucap salam pada saya. Sehari kemudian, saya dibuat ingat bahwa 11 Agustus adalah hari penangkapannya. Tanggal 11 Agustus adalah hari pertama dia dikurung untuk tindak pidana yang tak pernah dilakukannya dan dia dihukum 13 tahun.

Orang ini terlalu idealis. Itu yang saya tahu tentangnya.

Rasa takut tubuhnya akan menjadi samsak tinju bagi para interogatornya tak lebih besar dari rasa takutnya bila negara ini akan terus dikuasai otoritarianisme yang melekat pada rezim Orde Baru.

Idealisme yang menetap dalam dirinya ternyata mampu mengalahkan rasa takut yang sempat menghantuinya selama dalam pengejaran rezim itu. Selama dia dicari dan dan diburu akibat ulahnya pada peristiwa 27 Juli 96, bayangan atas kekejaman rezim Orde Baru itu pasti sempat menghantuinya. 

Paling tidak, fakta bahwa banyak orang tak pernah pulang lagi ketika sudah dijemput oleh "orangnya", bukan hanya katanya-katanya. Dengan mudah rakyat yang hidup pada saat itu akan langsung menjawab bila diminta membuktikan 5 nama saja. Sudah menjadi rahasia umum siapapun yang kritis pada rezim itu, setan pun tak memberi jaminan panjang umur. 

Dia justru sempat 'menceramahi' interogatornya sesaat setelah tanggal 11 Agustus dia ditangkap akibat tuduhan sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996 di Diponegoro 58. 

Bahwa ABRI merupakan pihak yang paling dirugikan dengan dwifungsi ABRI yang berlaku selama masa Orde Baru, dia ungkapkan saat diinterogasi. 

Dia "ngajari" interogator didikan Orba yang terkenal sangat galak. Biasanya berkumis tebal dengan aksen suara keras mengintimidasi. 

Anak muda umur 26 tahun itu memberi ceramah si sangar tentang tupoksi pada si pemilik kekuasaan.

"Akibat ABRI-nya banyak berpolitik, anda tidak sempat mengembangkan alutsista. Anda enggak sempat mengembangkan riset-riset dalam bidang teknologi kemiliteran. Sebagai kekuatan perang, Anda dilucuti," demikian kata Budiman yang justru ngajarin bapak berkumis tebal dengan sorot mata galak itu.

Hari ini, 11 Agustus 2021 sengaja saya tulis cerita ini sebagai ingatan bahwa tanggal 11 Agustus 25 tahun yang lalu, Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan akhirnya tertangkap. 

Dia dicari dan diburu negara karena sebab dianggap telah menjadi dalang pada peristiwa 27 Juli 1996 dengan akibat terbakarnya beberapa gedung dan kendaraan umum pasca kerusuhan di Diponegoro 58.

Ini juga sengaja saya tulis untuk bercerita bagaimana sikap mahasiswa seharusnya manakala negara dalam kondisi tak baik dan menempatkan diri pada posisi yang berseberangan dengan rakyat.

Ternyata, peristiwa penangkapan itu juga bersambung pada banyak penangkapan mahasiswa di Surabaya. Penangkapan besar-besaran dilakukan di kota Pahlawan itu dan tercatat ada sekitar 26 orang yang berhasil ditangkap. Sebagian besar adalah mahasiswa dan beberapa ada pula yang buruh. 

Penangkapan itu dilakukan di kos-kosan, rumah, kampus, bahkan lokasi KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Mereka yang kritis tak diperbolehkan memiliki ruang selain penjara.

Budiman dihukum 13 tahun penjara dengan pasal subversif.

Idealismenya tak memberi ruang bahkan ketika Presiden Habibie memberinya grasi. Budiman menolak grasi karena menerima grasi sama artinya dengan mengaku telah bersalah. Dia tidak mau menerima pengampunan karena dia merasa tidak pernah bersalah. 

Dia merasa apa yang telah dilakukannya hingga menjadi terhukum bukan sebuah kejahatan. Bukan sebuah tindak pidana. Dia tak silau oleh kebebasan yang ditawarkan melalui grasi oleh pengganti Soeharto itu. 

Dan benar, idealismenya ternyata berbuah baik. Budiman diberi amnesti oleh Presiden Abdurrahman Wahid ketika beliau terpilih menjadi Presiden pada tahun 1999.

Akibat dari pemberian amnesti ini, maka semua akibat hukum pidana terhadap orang yang diberikan amnesti dihapuskan. Dengan kata lain, sifat kesalahan dari orang yang diberikan amnesti juga hilang. Artinya, secara hukum Budiman tidak pernah dianggap pernah melakukan kesalahan itu.

"Masihkah dia idealis? Koq idealismenya gak lagi terdengar seperti dulu?"

Ketika politik agama sebagai kendaraan sangat laku, dia tak terlihat memanfaatkannya. Padahal, itu digunakan oleh hampir semua politisi republik ini. 

Tanpa politik agama, tak mungkin Ahok tumbang dan Jakarta runtuh. Tanpa ayat dan mayat akibat politisasi agama, tak ada Gubernur dengan prestasi menakjubkan itu. Tak menggunakan politik agama, tak mungkin partai sapi tak suka Pancasila itu dapat suara. 

Seperti orang aneh, dia justru berbicara science yang sangat asing bagi telinga para mabok agama yang kini jumlahnya sangat banyak di negeri ini. Pun sangat tak masuk akal bagi mencari popularitas apalagi menjaring suara sebagai entitas "normal" seorang politisi. Orang ini seperti bukan bagian dari apa itu normal.

Seperti orang tak tahu kemanan "trend" sedang mengarah, dia berjalan dengan gayanya sendiri. Dan maka, julukan alien disematkan pada namanya.

Seperti orang yang tak paham apa itu arus besar publik dan tak paham bagaimana cara memanfaatkannya, dia justru sibuk menciptakan arusnya sendiri. Lebih gila lagi, dia memotivasi banyak orang pada wilayah yang sulit dimengerti. Itu jelas bukan tentang politik demi dukungan suara ingin didapat. Itu soal idealisme.

Idealismenya adalah tentang Kebebasan manusia dari tirani politik. Dia juga banyak bicara tentang Keadilan manusia dari kuasa modal dan maka desa sering disebutnya bukan?

Kemajuan manusia dari kutukan kemunduran dan kebodohan tampak dengan sangat jelas menjadi bagian dari perlawanannya.

Kepemimpinan manusia atas digdayanya alat-alat teknologi canggih dan Keberlanjutan manusia dalam kuasa waktu adalah tantangan besar bagi bangsa ini yang terus dia gaungkan.

Itu semua bukan apa yang dibicarakan banyak politisi kita… Itu terlalu idealis dan tak menguntungkan. Sekaligus, itu juga terlalu rumit bagi mereka yang miskin imajinasi.

Dia memang ?…



(NitNot-KK)

Follow me on :

Instagram

Twitter



Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads