Umum

ANAK LANGIT DARI YAHUKIMO

ANAK LANGIT DARI YAHUKIMO

Leonita Lestari

04 Oct 2021
 

Tulisanku tentangnya belum selesai. Paling tidak, itu belum terwujud menjadi sebuah buku cerita fakta tentang hidupnya. Terakhir bicara, beliau ingin saya hadir pada peluncuran buku biografi nya. 

Kota Jayapura dipilihnya, dan saya sebagai penulis buku itu diminta hadir agar dapat berkenalan dengan banyak teman dan saudaranya.

Mendadak, kudengar beliau telah berpulang. Tuhan telah lebih dulu memanggilnya. Tak ada kata terucap selain duka mendalam atas kepergiannya yang sangat mendadak.

Dia orang baik. Tutur katanya terukur dengan cermat. Sopan dalam berbicara dan selalu mencoba membuat senang setiap orang yang ditemuinya.

Dia Bupati kedua pada pilkada langsung di Kabupaten Yahukimo Papua. Dia adalah putra asli Yahukimo yang pertama meraih pendidikan formal hingga  S2. Sekolah setinggi mungkin adalah mimpinya sejak kanak-kanak.

Cerita panjangnya tentang Papua telah memberi banyak warna dari sedikit yang kumiliki. 

Beliau telah pergi. Kenanganku pada tekad dan perjuangannya untuk bersekolah adalah satu yang paling berkesan selain perjuangan dia membangun kampung halamannya.

Tulisanku tentang perjuangannya agar tetap dapat bersekolah telah kususun dalam sebuah novel ringan dengan alur cerita layaknya sebuah petualangan. Sebagian lagi, kugambar dalam versi komik. ANAK LANGIT, demikian beliau ingin cerita itu diberi judul

Dan itu adalah cerita tentang anak-anak Papua yang tinggal diatas awan dan hidup di tanah dengan ketinggian 1000 hingga 2000 meter diatas permukaan laut di daerah pegunungan Jayawijaya.

"Resensi ANAK LANGIT dong.."

Pernah mendengar Korupun? Dijamin 99,99% anda yang sering mampir ke lapak saya tak pernah, apalagi mengenalnya.

Namun ketika Bandara Nop Goliat Dekai disebut dalam tanya, tentu ada sebagian dari anda yang akan ingat salah satu pernyataan Presiden Jokowi tentang BBM satu harga. 

Disana, di tahun 2018 Presiden pertama kali mengungkapkan keresahan dan tekadnya untuk membuat harga BBM sama di semua SPBU pemerintah dimanapun juga, saat beliau meresmikan bandara tersebut.

Korupun adalah salah satu distrik atau kecamatan di pegunungan tengah Papua dan sebelum dipisah menjadi Kabupaten Yahukimo, dahulu sebagai bagian dari Kabupaten Jayawijaya.

Setiap tahun, setiap tahun ajaran baru, ada sekitar dua puluh sampai tiga puluh anak-anak berusia antara 13 hingga 15 tahun, anak-anak suku Kimyal melakukan perjalan panjang sejauh kurang lebih 100 km dari Korupun ke Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya.

Jangan membayangkan anda berjalan kaki dari Jakarta menuju ke Sukabumi misalnya, jauh dan sangat jauh berbeda. 100 km anda akan tempuh kurang dari dua hari.

Korupun terletak pada ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut. Pegunungan tengah Jayawijaya adalah daerah ekstrim. Daerah dengan kontur tanah berbukit-bukit dengan jurang dan tebing yang tak pernah anda bayangkan.

Jarak antara Korupsi dan Wamena adalah tentang perjalanan menembus hutan, mendaki tebing, dan menuruni jurang. Jarak kurang lebih 100 km itu ditempuh selama tujuh hari berjalan kaki. 

Bayangkan tubuh-tubuh kurus dari anak-anak itu dengan kaki-kaki kecil tak bersepatu yang harus menapaki jalan sejauh angan kita tak pernah mampu memahaminya. Kadang, butuh lebih dari lima malam mereka harus menginap ditengah hutan. Dan itu bukan hutan seperti yang kita tahu. Kebanyakan dari kita tak akan pernah mampu membayangkan apalagi menyaksikannya.

Jarak itu harus ditempuh oleh dua puluh hingga tiga puluh anak-anak berusia lulusan anak SD demi melanjutkan sekolah setara dengan SMP di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya.

Demi keinginan dasar yakni sekolah, mereka telah mempertaruhkan nyawa dan berpisah dengan orang tua dan meninggalkan kampung halaman mereka. 

Jangan berpikir mereka akan mampu pulang setahun sekali, tidak..! Paling cepat, mereka baru akan pulang tiga tahun kemudian setelah lulus SMP. Dan itu bukan jaminan, kadang, bahkan teramat sering, anak-anak tersebut baru akan pulang enam tahun kemudian saat telah lulus SMA.

"Bagaimana bila orang tua mereka sakit atau bahkan meninggal?"

Hingga hari ini masih tak ada sinyal telephone sampai di Korupun. Radio single sideband (SSB) masih menjadi andalan sejak 30 tahun yang lalu. 

Mereka hanya akan mendengar kabar itu melalui radio SSB tersebut, namun berharap dapat pulang dan kemudian mengucapkan kata-kata perpisahan kepada mama dan bapak, itu adalah kemewahan tak masuk akal. Itu mustahil, kecuali pesawat perintis. 

Dan itu hanya akan dinikmati oleh mereka yang memiliki uang. Bagi anak-anak tersebut, itu adalah mustahil!! Orang tua mereka, kebanyakan adalah petani ubi.

Duapuluh hingga tigapuluh anak-anak yang seharusnya masih dalam pengawasan orang tua mereka, kini harus merelakan kemewahan satu-satunya yakni berkumpul dengan orang tua mereka itu terbuang. Mereka harus sudah berpisah, dan diawali dengan perjalanan yang sangat panjang, melelahkan dan bahkan harus dengan bertaruh nyawa. 

Tak ada jaminan mereka tak mendapatkan celaka ditengah jalan. Terperosok ke dalam jurang, tergelincir saat mendaki tebing bahkan hingga ancaman binatang buas, anak-anak itu harus menanganinya sendiri.

Berbekal ubi dan keladi mentah dan kemudian dibakar setiap mereka menginap, mereka sudah sangat bersyukur memiliki bekal untuk dimakan. Terkadang, mereka harus mampir dan meminta kepada petani dimana mereka melewatinya. 

Mengambil tebu ditengah jalan dan kemudian dihukum dengan cara dipukul hanya karena mereka haus, bukanlah peristiwa yang jarang terjadi. 

Mereka sudah harus mendapatkan ujian luar biasa berat pada umur yang tak seharusnya. Seharusnya, mereka masih berhak untuk mendapat peluk dan cium orang tua.

Saat ini, kita, warga premium, justru sedang sibuk menghamburkan milyaran bahkan triliunan rupiah untuk membiayai demo-demo hanya demi marah karena uang kita telah berkurang. Kita berteriak dizalimi karena harta digudang tak lagi teraliri. Kita tamak dan menjijikkan..!!

Di Bulan Juli setiap tahunnya, duapuluh hingga tigapuluh anak-anak itu baru akan sampai di Wamena. 

Takjub adalah hal pertama yang segera mereka rasakan. Kokoh dan tebal tembok menjulang dinding sekolah tak pernah mereka saksikan sebelumnya segera memancing mereka untuk merabanya. 

"Di tempat ini kami akan tinggal dan sekolah".

Ada harapan besar disana. Ada cita-cita sederhana yang akan segera mulai mereka jalani, yakni bersekolah.

Perjuangan mereka masih sangat panjang dan masih akan sangat melelahkan. Letak asrama yang jauh dan harus mereka tempuh dengan jalan kaki selama satu jam dari dan menuju sekolah, dan kemudian masih harus sibuk mencari pekerjaan tambahan demi makan harian adalah tantangan yang masih menantinya.

Juram, Isimukla, Sohopna, Jabi dan Jokosam adalah lima persinggahan sebagai tempat bermalam di tengah hutan yang harus mereka lewati. Selanjutnya, mereka tengah bersiap untuk bermalam selama tiga bahkan enam tahun beralaskan kardus atau apapun demi julukan terpelajar yang mereka idamkan.

Dan Abok Busup, pada suatu saat dulu adalah salah satu diantara mereka. 

Selamat jalan pak Abok...


(NitNot-KK)

.



Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads