Umum

ADE ARMANDO LAH PEMENANGNYA

ADE ARMANDO LAH PEMENANGNYA

Leonita Lestari

19 Apr 2022
 

Demo demi perwujudan demokrasi itu justru diwarnai ulah tak demokratis. Peristiwa 11 April 2022 hanya akan dikenang sebagai demonstrasi gagal dengan akhir anarkis.

MEMALUKAN.

Ninoy Karundeng pernah merasakan kegilaan para anarkis pelaku demonstrasi di Indonesia. Kini, Ade Armando.

Sama seperti Ninoy pernah, Ade Armando pun akhirnya harus menjadi korban. Dia terlihat hadir dalam turut serta menyuarakan ketidaksetujuannya pada jabatan 3 periode maupun perpanjangan masa jabatan Presiden. 

Dia ingin bersama dengan para mahasiswanya dalam sepenanggungan.

Meski dikenal sebagai salah satu corong bagi para pendukung pemerintah, Ade Armando hadir pada protes yang telah menempatian Jokowi pada pihak tak nyaman.

Video penganiayaan terhadap Ade Armando pada aksi 11 April itu segera beredar luas. Dia terlihat menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan dari banyak orang.

Dia terlihat dengan jelas tersungkur ke aspal karena tubuhnya tak lagi mampu menerima pukulan dan tendangan massa. Dia tampak tak berdaya di tengah wajah-wajah bengis haus darah. Ade hanya menunggu nasib.

Sebelum pemukulan terjadi, pada video lainnya, seorang ibu terlihat meneriaki Ade Armando dengan nada provokatif. Konon juga telah beredar foto dimana seseorang menyebar informasi atas kehadiran Ade Armando pada demo itu.

Itu seperti sebuah kronologi. Itu tampak seperti jalan cerita sebagai jalinan saling membuat terkait satu dengan yang lain. Itu pula yang kelak akan menjadi alat bagi para penyidik mencari tahu.

Dikabarkan bahwa Polda Metro Jaya mulai menangkapi sejumlah orang terkait pengeroyokan tersebut. 

Seharusnya bukan hanya para persekutor itu saja harus ditindak. Di luar sana, ada para pembisik, pendana hingga provokator berbaju aktivis media sosial layak dicari. Itu perlu didalami. Ada banyak nama yang dengan sengaja membuat panas suasana melalui media. 

Polisi layak mengusut nama-nama seperti Helmi Felis, Nico Silalahi, Maudy Asmara dan banyak akun bernada hasutan. Sedemikan massif mereka memproduksi konten berbau provokatif bahkan jauh sebelum demo itu digelar. 

Mereka layak diperiksa. Ada indikasi bahwa ajakan mereka itu kini telah menimbulkan jatuhnya korban. 

Bukan hanya Ade Armando, 6 polisi yang turut mengamankan Ade justru juga terlihat babak belur. Mereka turut menjadi sasaran. 

Itu belum terhadap penyerangan polisi yang dikejar dan diserang massa saat mereka sedang bertugas. Ada banyak video beredar dapat dijadikan rujukan. 

Aroma kebencian pada aparat kepolisian telah berkembang menjadi begitu mengerikan. Siapa pun berbaju Polisi mereka kejar dan hajar. Ini jelas KEGILAAN yang tak lagi boleh ditolerir. 

Bukan hanya pembuat kebijakan memikirkan keselamatan sendiri, para petugas atau aparat keamanan pun juga butuh. Itu SOP yang harus dipertegas. Bukan hanya politisi harus selamat, APARAT JUGA.

Ade dan para polisi itu menjadi tumbal dari demonstrasi yang anarkis. Bukan demo semata ingin mereka gelar, indikasi bahwa mereka ingin menunggangi demo ini dengan perbuatan melawan hukum telah terjadi.

Sudah saatnya pemerintah memperhatikan keselamatan aparatnya sendiri. Melawan para radikal perusuh ketertiban masyarakat tak harus selalu dengan pendekatan yang itu-itu saja. Aparat jangan baru ngamuk saat sudah terjadi korban pada pihaknya. Aparat tak digaji untuk jadi tumbal terus menerus.  

Pun pada korban sipil, Ade Armando. Semua orang tahu bagaimana sikap Ade Armando terkait isu tersebut. Dia adalah salah satu sosok pendukung Jokowi yang paling kritis pada masalah itu.  

Untuk sikap itulah dia datang. Untuk tujuan itulah maka dia menyempatkan diri ikut dalam demo tersebut.

"Apakah itu tidak naif?"

Yang jelas, Ade punya tujuan. Ia merasa perlu hadir dalam penyelamatan demokrasi.

Menjadi masalah adalah bahwa di sana hadir banyak para penyusup hingga para preman intoleran. Hadir banyak para terindikasi radikal agama yang mengaku ingin menyelamatkan demokrasi.

Ya akhirnya dia dianiaya tanpa ampun oleh para preman itu. Di tengah kerumunan manusia tak beradab itu, Ade Armando menjadi tumbal.

Penganiayaan biadab terhadap Ade Armando ini adalah bukti bahwa demo mahasiswa itu telah disusupi preman-peman intoleran dan radikal garis keras yg selama ini mempolitisasi agama. Mereka sangat tidak bisa dipercaya untuk alasan ingin menyelamatkan demokrasi. 

Mereka justru merusak dan mencederai makna demokrasi.

Tak puas dengan pemukulan hingga wajahnya babak belur, pendukung Jokowi ini pun ditelanjangi oleh massa tengah kerumunan para tak beradab itu.

BIADAB....!!!

Sejak awal, demo ini telah diprediksi sebagai demo yang memiliki tingkat rawan cukup tinggi. Munculnya Wiranto pada pertemuan dengan Mahasiswa dari kelompok BEM Nusantara dan rapat Menko Polhukam Mahfud MD pada hari minggu hingga Panglima TNI turut bicara terkait pengaman demo, jelas tentang indikasi. 

Pemerintah terlihat telah mencoba membuat antisipasi bahwa ini bukan demo biasa.

Dan benar, demo itu memang ditunggangi. Itu bukan tentang demokrasi mendapat pijakan, itu tentang demonstrasi ingin dijadikan alat menuju CHAOS. Berbaju demokrasi, para tak puas pada pemerintahan yang sah itu sekali lagi mencoba membuat huru hara.

Dalam konteks tertentu, Ade Armandolah sang penyelamat. Hancur wajahnya, memar seluruh tubuhnya adalah silih atas kekacauan yang lebih besar. Kekacauan yang bukan mustahil justru memang telah dipersiapkan sebelumnya.

Konon sempat muncul kabar bahwa malam hari sesudah demo besar itu akan muncul kekacauan. Kabar itu cukup ramai beredar di laman media sosial.

Kekacauan yang direncanakan itu langsung gagal hanya karena peristiwa Armando. Marah itu datang terlalu cepat. Rencana itu bubar jauh sebelum dimulai. Mereka telah dikejar sejak siang hari setelah peristiwa Armando.

Bila benar pemufakatan itu ada, harus kita akui bahwa peristiwa pengeroyokan Ade Armando lah yang berada di balik gagalnya rencana tersebut. Tak penting lagi bahwa itu hanya karena faktor keberuntungan semata misalnya, fakta berbicara bahwa malam harinya, bukan mereka membuat kacau, kekacauan justru melanda mereka. 

Mereka harus lari dari kejaran aparat. Tempat mereka sembunyi tak lagi menyisakan rasa aman. Mereka diburu jauh sebelum melakukan perburuan.

Ya, peristiwa Ade Armando yang babak belur, menyimpan cerita itu. 

Ade Armando adalah satu dari segelintir manusia paling bernyali di Indonesia. Dia berani datang di tengah kerumunan serigala lapar. Dia bahkan masih terlihat tersenyum santai di tengah kelompok yang berusaha memprovokasi anak.

Ade Armando adalah pemenangnya. Sendirian dia datang dan melawan puluhan, ratusan dan bahkan ribuan para radikal yang konon tak ada beda dengan TERORIS.

Anda hebat bang.. Cepat sembuh ya bang.... ??

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/DCe-OfIpRkM


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads