Umum

EKONOMI 60 NEGARA MENUJU AMBRUK, INDONESIA MALAH MELESAT

EKONOMI 60 NEGARA MENUJU AMBRUK, INDONESIA MALAH MELESAT

Leonita Lestari

21 Jun 2022
 

Serta merta mata dunia tertuju pada negeri 17 ribu pulau itu. Decak kagum terdengar dari mulut mereka sekaligus menyimpan tanda tanya yang sulit dijawab dalam waktu yang bersamaan.

Bagaimana tidak, saat dunia tenggelam dalam resesi akibat COVID-19 kemudian dilanjutkan oleh dampak perang Rusia Ukraina, Indonesia justru terlihat sedang berpesta. Secara serempak rakyat Indonesia membelanjakan uangnya dalam jumlah fantastis dalam sekali waktu.

Selama satu minggu menjelang dan saat Idul Fitri beberapa waktu yang lalu, ada sekitar 85 juta orang dari seluruh Indonesia melakukan perjalanan mudik secara serempak. Konon, dari Jabodetabek saja tercatat ada 1,7 juta kendaraan yang keluar.

Satu hal paling spektakuler, hanya dalam satu minggu itu, ada uang dibelanjakan sejumlah 42 triliun rupiah!! Jika kita mengambil rata-rata saja, itu setara dengan 5 juta rupiah per orang, yang mereka belanjakan hanya dalam 1 minggu itu saja.

Itu angka sangat luar biasa. Itu bahkan angka yang langsung mengalahkan pengeluaran rata-rata per orang dari salah satu negara terkaya di dunia, Singapura. Data bicara bahwa biaya hidup per keluarga di Singapura adalah setara dengan 50 juta rupiah per bulan.

Bila keluarga itu terdiri dari 4 orang, bapak, ibu dan 2 anak, rata-rata pengeluaran mereka adalah 12,5 juta per orang per bulan atau 3,1 juta rupiah per orang per minggu.

Dengan jumlah rata-rata pengeluaran para pemudik kita yang setara dengan 5 juta rupiah per orang dalam 1 minggu, itu 1,5 kali lipat lebih tinggi dibanding dengan pengeluaran mingguan dari warga Singapura.

Padahal, dalam fakta perkapita, Indonesia bahkan kurang dari 10 persen perkapita negeri "seupil" versi Fahri Hamzah itu. Pendapatan perkapita negeri itu US $ 51 ribu dan kita hanya sekitar US $ 4 ribu saja.

Tak pantaskah dunia terbelalak? Tak pantaskah negeri kita mereka bicarakan dengan penuh kebingungan?

Luar biasanya, tak seorang pun pengamat ekonomi dari luar itu bertanya, berapa utang pemerintah Indonesia.

Bagi banyak para ahli, hutang bukan instrumen terbesar apalagi satu-satunya saat membuat ukuran sebuah negara makmur atau tidaknya. Bagi sebagian dari kita, itu cerita berbeda.

Warga asing itu justru sibuk berpolemik terkait cara negeri ini mampu keluar dari resesi parah kali ini. Mereka juga terlihat sibuk mencari tahu ada apa dengan Indonesia sehingga demikian sakti, bukan hanya bertahan dari krisis tapi justru membelanjakan duit luar biasa besar di saat negara lain sedang berhemat.

Dan itu adalah bukti nyata yang tak butuh lagi perdebatan. Itu parameter atau petunjuk pasti bahwa negeri ini TIDAK SEDANG dalam keadaan KACAU seperti digambarkan oleh pihak oposisi apalagi para pembenci pemerintah.

Tak ada nalar yang dapat dibangun atas fakta sebuah negeri kacau dan miskin namun sukses menggelar hajatan besar dengan melibatkan 85 juta rakyatnya dan dengan pengeluaran hingga 42 triliun hanya dalam 1 minggu saja. Itu pasti cerita tentang sebuah negeri yang sukses.

Bukan hanya sisi ekonomi, di saat banyak orang di belahan dunia yang lain masih banyak yang harus dikarantina dalam kesendiriannya, kita malah bisa berkumpul. Kita bergembira dalam suasana kebersamaan keluarga. Kita bersalam-salaman dan bercanda tanpa jarak. Kita merayakan hari dengan saling memberi maaf dan saling berpelukan.

Bagi banyak pengamat kesehatan asing, sedikit banyak, negeri kita dianggap telah sukses menaklukkan dan melewati masa pandemi. Banyak negara yang jauh lebih maju seperti China dan Jepang masih kalut dan tak mengerti cara keluar dari perkara itu.

Tak pantaskah bila mereka iri pada negeri ini? Anehnya, para pembenci pemerintah yang sah ini, para warga premium warga negara yang telah mendapat banyak manfaat itu bicara lain. Mereka sibuk mencari celah kesalahan pada banyak hal terkait penanganan pandemi yang mereka anggap gagal.

Bisa jadi, lebaran kali ini begitu meriah, itu karena dua tahun sudah, dua kali lebaran sudah kita tak merayakan nya dengan tradisi pulang kampung sebagai budaya bersama.

Tiga lebaran disatukan dan dengan demikian tiga kali pendapatan kita bawa pulang dan kita belanjakan bersama keluarga di kampung halaman.

Bisa jadi, itu karena adanya unsur pemberian tertunda kita pada ibu dan adik-adik kita dimana dua kali lebaran tak pulang, dua kali pula kita tak sempat memberi dan kemudian hadir rasa merasa berhutang. Itu soal tradisi baik berbagi pada momen yang baik.

Subyektifitas kita bisa saja berkata bahwa itu memang karena faktor tersebut namun hadirnya fakta bahwa ada 42 triliun dibelanjakan oleh 80 juta warga yang mudik hanya dalam 1 minggu saja, tetap adalah data luar biasa. Itu adalah cermin yang berbicara.

Cermin lain bahwa budaya saat lebaran dengan tradisi pulang kampungnya jelas adalah cermin asli milik kita. Tradisi luar biasa baik dan luhur yang hanya ada pada negara ini. Tradisi itu JELASS gak berasal di Arab sebagai awal mula idul fitri dirayakan.

(NitNot-KK)

Tonton versi video, silahkan klik

https://youtu.be/OkmddY8Wx0Q


Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads