Umum

2024, DEMOKRAT MEGAP-MEGAP

2024, DEMOKRAT MEGAP-MEGAP

Ni Komang Yuni Lestari

10 Aug 2021
 

Menepuk air di dulang terciprat muka sendiri. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Demokrat sekarang ini. Sepak terjang partai tersebut memang selalu menjadi sorotan di sosial media, sebab kritik yang mereka lontarkan sering kali terdengar begitu konyol dan menggelitik.

Komentar yang diselorohkan oleh orang-orang Demokrat disetiap kebijakkan yang pemerintah ambil, memperlihatkan bahwa mereka Nampak berusaha terlalu keras untuk menurunkan legitimasi presiden Jokowi.

Beberapa bulan belakangan, Demokrat Nampak semakin tersengal-sengal mengumpulkan suara. Seharusnya, partai tersebut dapat memanfaatkan masa pandemi ini untuk mendulang kembali suara mereka yang sudah amblas.

Mengulurkan tangan kepada rakyat yang sedang membutuhkan, menjadi oposisi yang bisa dijadikan tumpuan rakyat, dan tampil sebagai pahlawan dimasa-masa krisis terdengar lebih baik daripada bergembira karena menemukan momen yang pas untuk berusaha menjungkalkan pemerintah. Bahkan mungkin, jika Demokrat bisa lebih bijaksana dalam memanfaatkan situasi dengan mendekatkan diri kepada rakyat, partai tersebut mungkin bisa kembali terangkat ke permukaan setelah nyaris tenggelam.

Yang rakyat butuhkan dimasa-masa sulit ini adalah bantuan dan aksi nyata, bukan hanya sekadar kata-kata, “Lelahmu juga lelahku” yang sama sekali tak berarti apa-apa. Jika Demokrat datang sebagai pahlawan alih-alih tukang nyinyir, mungkin saja mereka bisa mendapat kembali tempat di hati rakyat.

Sayangnya, yang terjadi tidaklah seperti itu. Demokrat justru lebih gencar menyerang pemerintah, meskipun harus membuang pemikiran yang rasional dan lebih senang mencela daripada memberikan kritikan berbobot. yang justru akan membuat partai tersebut semakin terpuruk.

Poster bergambar tiga kader Partai Demokrat, yakni Andi Arief, Rachland Nashidik dan Annisa Pohan.

Apapun mereka lakukan agar selalu dibicarakan orang-orang. Namun yang terjadi adalah kemerosotan demi kemerosotan, dan bukan hal mustahil bila satu saat nanti partai Demokrat akan benar-benar jatuh dan hancur berantakkan. Kader-kader yang bercokol di partai itu tidak membantu sama sekali. Jika Demokrat hanya di isi oleh orang-orang semacam Ibas, Andi Arief, Rachlan Nashidik, dan lain-lain, maka tenggelamnya Demokrat adalah sebuah keniscayaan.

Ungkapan “failed nation” yang dilontarkan oleh Ibas, Waketum Partai Demokrat, ditengah pemerintah yang sedang berjibaku menyelamatkan rakyat dari wabah dan hancurnya ekonomi, terkesan menguarkan pesimisme bahwa Indonesia akan gagal menghadapi pandemi. Mengatakan hal semacam itu ditengah pemerintah yang sedang bekerja keras dan berusaha mencari solusi untuk menangani pandemi covid 19 hanya akan mendatangkan cibiran.

Alih-alih ikut membantu, bicara seolah-olah Indonesia telah gagal dalam menangani wabah membuat orang-orang merasa muak, mengingat Demokrat nyaris tak melakukan upaya apapun untuk membantu rakyat.

Yang lain, datang dari keluarga Cikeas. Anissa Pohan, istri ketum Demokrat, AHY, juga turut serta menggerus citra partai Demokrat yang, memang, sudah tercoreng sejak lama. Ceritanya dia bicara tentang Demokrat yang jadi korban fitnah. Anissa Pohan kemudian berkicau di akun Twitternya, namun dia salah mengutip ayat Alquran. Tak pelak, warganet lantas beramai-ramai membullynya.

Andi Arief, mendengar namanya saja orang-orang akan langsung membuka jejak digitalnya yang pernah tertangkap karena narkoba beserta sebungkus kondom bergerigi. Ia mengatakan bahwa Demokrat menyatakan perang terhadap buzer yang katanya merusak negara. Entah perang macam apa yang dia maksudkan.

Kemudian, mereka ribut lagi soal pengecatan pesawat kepresidenan. Seolah mereka tak punya hal yang lebih penting untuk dibicarakan. Sungguh epik memang melihat apa yang kader-kader Demokrat lakukan disosial media.

Rachland Nashidik Diduga Menistakan Lagu Indonesia Raya dan Simbol Negara

Lagi, salah satu elite partai Demokrat kembali melakukan blunder dan menyulut kemarahan publik. Rachland Nashidik, orang yang mengunggah meme yang luarbiasa menjijikkan yang menghina Presiden Jokowi, lambang garuda Pancasila, dan lagu kebangsaan Indonesia. Setelah postingan itu viral, dengan jumawa dia menantang polisi untuk menangkapnya

Habislah dia diserang oleh warganet. Siapapun pasti berang melihat postingan itu. Kalau sudah bawa-bawa penghinaan terhadap negara, ceritanya menjadi jauh berbeda dari hanya sekadar perang narasi di sosial media.

Alih-alih mendapat simpati, setiap kritik yang partai Demokrat lontarkan malah membuat orang-orang semakin anti pati dan membom-bar-dir pentolan-pentolan Demokrat dengan menyodorkan aib mereka masing-masing. Warganet akan memulangkan kembali kasus korupsi yang dulu beramai-ramai dilakukan orang-orang partai Demokrat, tanpa perlu menunggu mereka melontarkan kritik remeh temeh kepada pemerintah.

Hambalang mangkrak, hasil editan netizen ini bikin ketawa ngakak

Mengingat Hambalang dan pemerintahan SBY yang nyaris tidak menghasilkan sesuatu yang berkesan dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat, kritikkan yang dilontarkan oleh Anissa Pohan, AHY, Ibas, Rachland Nashidik, Andi Arief dan kawan-kawan, benar-benar terdengar seperti omong kosong, nyaring pula bunyinya.

Posisi mereka sebagai pihak oposisi yang seharusnya menjadi alat kontrol kebijakkan pemerintah seperti menjadi boomerang bagi diri mereka sendiri. Sebab ketika Demokrat tengah jaya-jayanya, eksistensi mereka tidak jauh lebih baik daripada pemerintahan Jokowi.

Menempatkan diri sebagai oposisi, berarti mereka harus siap ditampar bolak-balik oleh pemerintahan Presiden Jokowi yang jauh lebih baik dari era SBY terdahulu, pun rakyat yang hapal mati dosa-dosa Demokrat yang bisa kembali mereka beberkan ketika para petinggi partai tersebut mulai berkicau tentang kebijakkan yang diambil pemerintah.

Selama sepuluh tahun SBY berkuasa, yang rakyat ingat hanyalah proyek-proyek mangkrak, kelompok-kelompok radikalisme dibiarkan tumbuh subur,, selogan “Katakan tidak pada korupsi” padahal mereka berramai-ramai mengeruk duit rakyat, merugikan negara hingga miliaran dan mewariskan candi Hambalang yang menjadi prasasti betapa bobroknya orang-orang Demokrat. Partai itu bernasib mengenaskan setelah sempat menjadi yang terbesar.

Ingatan-ingatan itu masih lekat terpatri dibenak rakyat Indonesia, dan menjadi amunisi paling ampuh untuk dijejalkan kembali pada kader-kader Demokrat ketika mereka mulai meracau.

Kendati demikian, mereka terus mencoba menggapai permukaan dan selalu ingin dibicarakan oleh publik. Namun yang terjadi adalah blunder demi blunder yang justru semakin menggerus citra partai yang pernah Berjaya selama sepuluh tahun tersebut.

Setiap kritik yang mereka lemparkan pada kebijakkan yang diambil pemerintahan Jokowi mencerminkan kualitas kritikkan yang sangat dangkal, tanpa sikap kritis, dan cenderung emosional. Seberapa tinggikah kualitas mereka sehingga mampu melontarkan kritik tanpa memiliki landasan yang kuat, seolah-olah kebenaran hanya ada pada diri merekasaja? Sebaik apa mereka dahulu sehingga sekarang mereka hanya sibuk mencela?

Partai Demokrat yang dulu begitu menjulang, sekarang terjungkal mengenaskan dan terancam tak bisa masuk ke Senayan. Mereka hanya memiliki 7,7 % suara di DPR RI. Banyak yang memprediksi bahwa partai tersebut akan tenggelam bahkan sebelum 2024, mengingat rakyat sudah muak melihat kader-kadernya berseloroh dengan serampangan dimedia sosial.

Ditambah dengan orang-orang didalamnya yang memiliki jejak digital memalukkan, yang selalu menjadi lelucon acap kali melihat mereka mulai berbicara dan mengkritik pemerintah. Belum lagi kasus korupsi Hambalang yang menjadi bopeng besar di wajah partai tersebut.

Semakin hari, mereka Nampak semakin memuakkan. AHY yang memegang kendali seperti tak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan partai yang ingin ditenggelamkan warganet itu. 2024, Demokrat megap-megap. Sanggupkah mereka bertahan sampai 2024? Kita lihat saja nanti.

(Komang Yuni-KK)

Ingin ikut menulis? silahkan daftar

Ads